SURABAYA, KOMPAS
Pedagang beras di Pasar Bendulmerisi, Surabaya, Sudarno, Kamis (15/12), mengatakan, harga beras Rp 7.000-Rp 9.000 per kilogram. Harga beras seperti itu juga berlaku di Bojonegoro, Jawa Timur, dan Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung.
”Harga beras diperkirakan naik hingga akhir tahun karena permintaan melonjak. Namun, wilayah yang memasuki musim panen hanya sekitar Banyuwangi,” kata Sudarno.
Harga beras yang meroket memicu kenaikan harga gabah kering panen di Bojonegoro mencapai Rp 4.000 per kg. Padahal, pada Oktober-November hanya Rp 3.500-Rp 3.600 per kg. ”Ini merupakan harga tertinggi,” ujar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bojonegoro Bambang Suharno.
Sementara itu Kepala Seksi Pelayanan Bulog Pangkal Pinang Slamet Sarban menyatakan, Bulog akan melakukan operasi pasar dengan melepas beras dengan harga Rp 6.700 per kg. ”Setiap hari kami menyiapkan 2,5 ton untuk operasi pasar,” tuturnya.
Operasi pasar akan dimulai hari Jumat ini di Pangkal Pinang. Setelah itu, lokasi operasi akan dipindahkan ke kabupaten lain. ”Enam kabupaten dan satu kotamadya di Babel harus melakukan operasi pasar untuk mengendalikan harga,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Hasanuddin.
Selain beras, ungkap Sudarno, sejumlah pedagang bahan pangan di pasar tradisional Kota Surabaya juga mulai menambah stok, terutama tepung terigu dan minyak goreng. Alasannya, menjelang Natal dan akhir tahun kebutuhan tepung terigu meningkat hingga melampaui 100 persen dari kondisi normal.
Kenaikan permintaan tepung terigu karena jelang Natal, warga banyak yang membuat kue sehingga memicu peningkatan kebutuhan minyak goreng curah.
Di Pasar Wonokromo, Surabaya, harga kentang juga naik dari Rp 5.000 menjadi Rp 10.000 per kg. Tomat Rp 4.000 menjadi Rp 8.000 per kg, cabai rawit Rp 24.000 menjadi Rp 28.000 per kg. Harga cabai keriting Rp 25.000 menjadi Rp 34.000 per kg.
Produksi beras di Kabupaten Semarang turun hingga 10.000 ton akibat serangan hama wereng dan tikus sepanjang tahun 2011. Penanaman secara serentak untuk memutus siklus hama masih terkendala minimnya tenaga pertanian dan ketersediaan air.
Kepala Bidang Pertanian Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Fadjar Eko Priyono mengungkapkan, produksi beras yang rata-rata 195.000 ton per tahun kini hanya sekitar 185.000 ton akibat serangan hama yang sulit dikendalikan.
Namun, penurunan itu diyakini Fadjar tidak berdampak pada ketersediaan pangan di daerah itu. Sebab, produksi beras selama ini selalu surplus. ”Saya kira hal serupa terjadi di wilayah lain juga,” kata Fadjar.