Harga Beras Meroket

Kompas.com - 16/12/2011, 02:55 WIB

SURABAYA, KOMPAS - Menjelang Natal dan Tahun Baru, permintaan terhadap kebutuhan pokok, seperti gula, beras, terigu, dan minyak goreng, terus naik. Hujan yang mengguyur hampir seluruh wilayah di Jawa Timur membuat harga beras naik rata-rata Rp 200 per kilogram untuk semua kualitas.

Pedagang beras di Pasar Bendulmerisi, Surabaya, Sudarno, Kamis (15/12), mengatakan, harga beras Rp 7.000-Rp 9.000 per kilogram. Harga beras seperti itu juga berlaku di Bojonegoro, Jawa Timur, dan Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung.

”Harga beras diperkirakan naik hingga akhir tahun karena permintaan melonjak. Namun, wilayah yang memasuki musim panen hanya sekitar Banyuwangi,” kata Sudarno.

Harga beras yang meroket memicu kenaikan harga gabah kering panen di Bojonegoro mencapai Rp 4.000 per kg. Padahal, pada Oktober-November hanya Rp 3.500-Rp 3.600 per kg. ”Ini merupakan harga tertinggi,” ujar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bojonegoro Bambang Suharno.

Sementara itu Kepala Seksi Pelayanan Bulog Pangkal Pinang Slamet Sarban menyatakan, Bulog akan melakukan operasi pasar dengan melepas beras dengan harga Rp 6.700 per kg. ”Setiap hari kami menyiapkan 2,5 ton untuk operasi pasar,” tuturnya.

Operasi pasar akan dimulai hari Jumat ini di Pangkal Pinang. Setelah itu, lokasi operasi akan dipindahkan ke kabupaten lain. ”Enam kabupaten dan satu kotamadya di Babel harus melakukan operasi pasar untuk mengendalikan harga,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Hasanuddin.

Selain beras, ungkap Sudarno, sejumlah pedagang bahan pangan di pasar tradisional Kota Surabaya juga mulai menambah stok, terutama tepung terigu dan minyak goreng. Alasannya, menjelang Natal dan akhir tahun kebutuhan tepung terigu meningkat hingga melampaui 100 persen dari kondisi normal.

Kenaikan permintaan tepung terigu karena jelang Natal, warga banyak yang membuat kue sehingga memicu peningkatan kebutuhan minyak goreng curah.

Di Pasar Wonokromo, Surabaya, harga kentang juga naik dari Rp 5.000 menjadi Rp 10.000 per kg. Tomat Rp 4.000 menjadi Rp 8.000 per kg, cabai rawit Rp 24.000 menjadi Rp 28.000 per kg. Harga cabai keriting Rp 25.000 menjadi Rp 34.000 per kg.

Produksi turun

Produksi beras di Kabupaten Semarang turun hingga 10.000 ton akibat serangan hama wereng dan tikus sepanjang tahun 2011. Penanaman secara serentak untuk memutus siklus hama masih terkendala minimnya tenaga pertanian dan ketersediaan air.

Kepala Bidang Pertanian Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Fadjar Eko Priyono mengungkapkan, produksi beras yang rata-rata 195.000 ton per tahun kini hanya sekitar 185.000 ton akibat serangan hama yang sulit dikendalikan.

Namun, penurunan itu diyakini Fadjar tidak berdampak pada ketersediaan pangan di daerah itu. Sebab, produksi beras selama ini selalu surplus. ”Saya kira hal serupa terjadi di wilayah lain juga,” kata Fadjar.

(ETA/UTI/RAZ/ACI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau