Mahda (28) memperlambat laju sepeda motornya begitu memasuki Jembatan Kartanegara, Sabtu (26/11) sekitar pukul 16.00 Wita. Deretan kendaraan yang menuju Tenggarong tampak merayap di atas Sungai Mahakam.
Sekilas Mahda melihat papan menggantung tepat di bawah rangka jembatan bertuliskan permohonan maaf karena jalan sedang dalam perbaikan.
Mahda pun berkendara perlahan di belakang mobil Mitsubishi Strada putih yang berjarak sekitar 50 meter dari ujung jembatan sepanjang 710 meter itu. Arus Mahakam yang tenang masih puluhan meter di hadapannya. Jembatan yang dioperasikan tahun 2001 tersebut menghubungkan Tenggarong dan Tenggarong Seberang.
Mahda berniat pulang ke rumahnya di Jalan Gunung Jati, Tenggarong, Kalimantan Timur, seusai mengantar ibunya ke Tenggarong Seberang, beberapa kilometer dari jembatan. Dua anaknya, Lia (7) dan Dani (4,5), diboncengkannya.
Beberapa ratus meter di depan Mahda, tepat di tengah jembatan, Jamaludin (40) juga melaju perlahan dengan sepeda motor. Lalu lintas kendaraan menumpuk satu jalur di sebelah kiri. Ada mobil bak terbuka yang menutup jalur sisi utara atau arah Tenggarong Seberang.
Sejumlah pekerja yang membawa bendera putih mengatur kendaraan agar bergantian melintas. ”Tapi, tetap saja semrawut karena tidak ada polisi. Orang-orang berebut lewat,” ujar Mahda setengah mengeluh.
Tak lama, langit biru cerah yang memayungi Sungai Mahakam seolah berubah menjadi gelap. Klem yang menggantung di kawat baja utama di sebelah kanan atau sisi utara jembatan tiba-tiba terputus.
Jembatan miring ke kanan dan hanya dalam hitungan detik hampir seluruh badan jembatan menghunjam ke sungai. Blaaar...! Bunyinya memekakkan telinga Mahda.
Kendaraan di tengah jembatan berjatuhan. Air Mahakam pun menghambur ke segala arah. Sepeda motor Suzuki Shogun yang dikendarai Mahda tergelincir ke sungai.
Mahda yang terjatuh dan terluka di betis kirinya dengan cepat bangun dan mengamankan anak-anaknya. Dia berlari histeris, berteriak minta tolong. ”Saya panik. Yang saya pikirkan bagaimana Dani cepat dibawa ke rumah sakit,” ungkap Mahda di RSUD AM Parikesit Tenggarong, Kamis (8/12).
Sementara itu, Jamaludin berjuang mati-matian untuk hidup. Saat kerangka jembatan ambruk, ia tercebur hingga kedalaman 6-7 meter. Ia lalu berenang ke permukaan sungai. Beruntung, ada warga yang menaiki ketinting, perahu kayu tradisional bermesin, menghampiri. ”Saya tak menyangka masih hidup,” kata Jamaludin.
Hingga Selasa (13/12), terdapat 22 korban meninggal, 14 orang yang dilaporkan hilang, dan 40 korban luka-luka yang selamat. Penyebab runtuhnya jembatan masih terus ditelusuri.
Sejumlah pihak menyatakan heran dengan kebijakan buka-tutup lalu lintas kendaraan saat jembatan diperbaiki. Padahal, berdasarkan data Dinas Pekerjaan Umum Kutai Kartanegara, ada rapat di ruang Asisten II Sekretariat Kabupaten Kukar pada 31 Oktober 2011 untuk membahas penutupan arus lalu lintas jembatan.
Faktanya, jalan di jembatan tidak jadi ditutup. Bupati Kukar Rita Widyasari mengatakan, jembatan yang dikerjakan PT Bukaka Teknik Utama (BTU) itu seharusnya ditutup untuk pengerjaan selama 21 hari.
Haidir (28), salah seorang pekerja yang selamat, mengaku perbaikan saat itu untuk mengencangkan baut-baut di kerangka jembatan yang sudah mulai longgar. Haidir adalah pekerja lepas yang diupah harian oleh PT BTU.
Selain tidak ditutupnya jembatan, hal lain yang termasuk pemeliharaan juga menjadi persoalan. Betapa tidak, selama 10 tahun jembatan dioperasikan, 2001-2011, hanya ada dua kali pemeliharaan, yakni pada 2007 dan 2011. Tahun 2011, jembatan sudah ambruk saat pemeliharaan baru dimulai.
Kepala Dinas PU Kukar Didi Ramyadi mengatakan, usulan pemeliharaan sudah diajukan, tetapi terbentur tidak adanya anggaran. Padahal, berdasarkan pengawasan konsultan PT Indenes Utama Engineering Consultant, ada pergeseran pada tiang jembatan (pylon) mencapai 8-10 sentimeter sejak tahun pertama dioperasikan. Pergeseran itu bertambah pada 2006 menjadi 18 cm.
Selain itu, terdapat penurunan gelagar bentang tengah jembatan hingga 50 cm dibandingkan dengan tahun 2001.
Atas dasar itu, PT Hutama Karya dan Kementerian PU merekomendasikan adanya pemeliharaan yang mencakup pengencangan baut-baut klem, penyetelan ulang pengait kabel, penggantian sambungan peredam getaran (expansion joint), dan pengisian pasir di blok angkur dengan anggaran Rp 23 miliar.
Namun, menurut Didi, pemeliharaan tahun 2007 hanya meliputi dua kegiatan, yakni penggantian expansion joint dan pengisian pasir di blok angkur dengan anggaran Rp 1,634 miliar. Hal itu karena pengajuan total pemeliharaan tidak disetujui. Pemeliharaan berikutnya pada 2011 dilaksanakan PT BTU dengan nilai kontrak Rp 2,79 miliar.
Anggota DPRD Kukar dua periode (2004-2014), Marwan SP, mengungkapkan, tak pernah ada pengajuan pemeliharaan Jembatan Kartanegara, kecuali untuk tahun 2007 dan pertengahan 2011. ”Jika mengajukan, pasti kami loloskan,” katanya.
Ironisnya, skema pembiayaan perawatan jembatan secara mandiri pun sudah diusulkan sejak 2002. Herdianto Arifien, mantan Kepala Subdinas Program Dinas PU Kukar, mengatakan, usulan itu berupa pembentukan unit pelaksana teknis daerah yang bertugas merawat jembatan dengan dana perawatan dari retribusi kendaraan.
Minimnya perbaikan juga diperparah oleh semakin padatnya kendaraan. Tahun 2006, volume kendaraan yang melalui jembatan diperkirakan 4.675 unit satuan mobil penumpang per hari. Namun, ketika survei lapangan, saat itu volume kendaraan sudah 6.200 unit per hari atau 30 persen melebihi perkiraan.
Bambang Suhendro, ahli konstruksi dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, menilai, kegagalan terdapat pada sistem sambungan antara kabel utama dan kabel penggantung. Padahal, ”nyawa” jembatan gantung terletak pada sistem sambungan kabel.
Saat perancangan, sistem sambungan harus memenuhi syarat kekuatan, kekakuan, stabilitas, kemampuan menopang saat perbaikan, dan ketahanan material.
Kini, silang pendapat tentang pemeliharaan jembatan dan siapa yang bertanggung jawab muncul ke permukaan saat jembatan telanjur merenggut setidaknya 22 nyawa. Semuanya saling tuding.
Kepala Kepolisian Resor Kukar Ajun Komisaris Besar I Gusti Kade Budhi Harryarsana mengatakan, sejauh ini 50 orang sudah diperiksa sebagai saksi, baik korban selamat, Dinas PU, maupun kontraktor. Belum ada tersangka, tetapi polisi memastikan ada unsur kelalaian dalam hal ini.