Masa depan irak

Pesimisme Lampaui Optimisme

Kompas.com - 18/12/2011, 02:29 WIB

Musthafa Abd Rahman

Upacara penurunan bendera Amerika Serikat di salah satu pangkalan AS di Baghdad telah digelar secara sederhana, Kamis (15/12). Ini menandai berakhirnya keberadaan pasukan AS di Irak yang selama ini menduduki negeri itu sejak invasinya pada 2003. Sebagian pihak tak yakin pasukan AS hengkang karena selanjutnya akan ada empat pangkalan militer de facto AS di Irak.

Bagaimana Irak setelah mundurnya pasukan AS, lebih aman, stabil, dan damai? Perasaan cemas dan pesimistis lebih kuat daripada optimisme. Kondisi Irak sebenarnya ibarat benang kusut lantaran telah menjadi ajang rebutan pengaruh tetangga. 

Persoalan laten Irak adalah isu sektarian antara Sunni dan Syiah, antara etnis Arab dan Kurdi, juga persaingan di antara sesama kaum Syiah sendiri dan sesama kaum Sunni.

Konflik di antara sesama Syiah diwakili perseteruan sengit antara Perdana Menteri Nouri al-Maliki dan mantan PM Iyad Alawi serta antara Partai Dakwah pimpinan Al-Maliki dan kubu Al Sadr pimpinan Moqtada al-Sadr.

Lebih menonjol adalah konflik antara Syiah dan Sunni, dan masing-masing kelompok ini memiliki dukungan dari negara tetangga. Sunni didukung Arab Saudi dan Syiah disokong Iran. Masing-masing faksi itu memiliki milisi bersenjata.

Semua milisi bersenjata itu pernah terlibat aksi kekerasan di Irak. Namun, dalam dua tahun terakhir ini, ada penurunan aktivitas milisi-milisi bersenjata itu. Akan tetapi, setelah mundurnya pasukan AS, dikhawatirkan milisi bersenjata itu memulai aktivitasnya kembali. 

Salah satu isu rumit adalah milisi Al Mahdi (sayap militer kelompok Al Sadr pimpinan ulama muda Syiah, Moqtada al-Sadr, yang pro-Iran). Milisi Al Mahdi pernah memerangi AS pada tahun 2004 dan tetap merupakan ancaman, terutama terhadap sekitar 5.000 personel pasukan sewaan AS yang bertugas menjaga gedung Kedutaan Besar AS di Baghdad serta konsulat AS di Basra, Mosul, dan Kirkuk.

Ada pula milisi Asaib Ahl al Haq (AAH) yang juga loyalis Iran, yang disinyalir sedang menyusun kekuatan. AAH adalah bagian dari jaringan milisi yang terlibat dalam aksi kekerasan.

Iran tentu terus ingin berusaha menancapkan pengaruh di Irak dengan menggunakan milisi-milisi loyalis Iran itu.

Sejumlah personel dari milisi loyalis Iran itu juga ditengarai telah bergabung dengan militer dan aparat Irak yang secara resmi di bawah kontrol pemerintah pimpinan PM Nouri al-Maliki. 

Arab Saudi selama ini pendukung kuat kelompok pemberontak Sunni. Jika pemerintah PM Nouri al-Maliki semakin dipengaruhi Iran, Arab Saudi akan kembali ”turun tangan”.

Meredam Syiah

Salah satu gangguan diplomasi AS di Irak mendatang adalah jika Iran memperkuat pengaruh di Irak. Al-Maliki didukung Iran dalam upaya menjabat kembali sebagai PM saat ini.

AS saat ini berpandangan harus terus menggalang kampanye mengisolasi Iran terkait dengan program nuklirnya dalam upaya melemahkan Iran itu. Presiden AS Barack Obama rupanya lebih memilih ”Plan B”, yaitu meningkatkan kehadiran militer AS di kawasan Teluk untuk mengawasi gerak gerik Iran.

Kasus penahanan 600 tokoh Sunni oleh pemerintah PM Nouri al-Maliki saat ini ditengarai terjadi akibat pengaruh Iran untuk menyingkirkan musuh-musuhnya dari Sunni.

Aksi penyingkiran tokoh-tokoh Sunni oleh Al-Maliki bisa kembali membangkitkan separatis Sunni di Provinsi Salahudin dan Al Anbar, basis Sunni.

Kini ada isu jaringan rahasia berbau sektarian yang didukung Iran dan Arab Saudi. Isu jaringan rahasia itu mendorong PM Al-Maliki menguasai aparat keamanan dan intelijen Irak.

Dalam periode kedua jabatannya sebagai PM Irak, Al-Maliki kini mengontrol kementerian strategis, seperti kementerian pertahanan, kementerian dalam negeri, dan lembaga keamanan nasional.

AS sebenarnya kurang senang atas kedekatan Al-Maliki dengan Iran. Namun, AS tetap mendukung Al-Maliki karena tidak memiliki alternatif lain. 

Al-Maliki selama ini mendorong Iran mendukung rezim Presiden Bashar al-Assad di Suriah yang berasal dari kaum minoritas Syiah Alawit. AS tidak suka ini. Jika Presiden Assad semakin terdesak oleh aksi unjuk rasa rakyat, ia bisa bersandar pada aliansi Syiah yang dipimpin Iran. Jika skenario itu terjadi, Iran akan mengontrol Irak, Suriah, dan Lebanon. Ini adalah peringatan terhadap AS dan Arab Saudi.

Maka, tidak mengherankan jika rezim Bashar al-Assad ditekan agar tidak membawa Iran ke jantung dunia Arab, yakni di Irak dan Suriah. Jadi, perang pengaruh di Irak jauh dari berakhir.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau