Madiun, Kompas -
Di Pasar Besar Madiun, tomat sayur dijual Rp 12.000 per kilogram (kg) dan tomat buah Rp 14.000-Rp 16.000 per kg. Satu kilogram tomat sayur berisi 14 buah, sedangkan tomat buah berisi 8-10 buah. Jika dirata-rata, harga tomat sayur per buah Rp 1.000, sedangkan tomat buah Rp 2.000 per buah.
”Kalau harga tinggi seperti ini tidak hanya pembeli yang pusing, pedagang juga pusing karena sulit jualan. Bahkan, kami terkadang tak berani mengambil untung besar karena takut tidak laku. Beda kalau harga murah, yang beli juga banyak,” tutur Tutik, seorang pedagang.
Harga tomat pada November hanya Rp 2.000 per kg. Sekitar dua minggu kemudian, harga naik menjadi Rp 5.000 per kg dan Rp 8.000 per kg. ”Di awal Desember harga tomat Rp 10.000 per kg. Sekarang harga naik lagi. Selama sebulan sudah lebih dari empat kali,” kata Nungki, pedagang lainnya.
Samidi (50), petani tomat di daerah sentra sayur di Desa Plaosan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, mengatakan, hujan yang mengguyur beberapa hari ini membuat tomat mudah busuk. Tanaman tomat juga layu karena akarnya terendam air.
”Tomat ini umurnya baru dua bulan. Sebentar lagi matang dan dipanen. Namun, kalau hujan terus, saya khawatir tak bisa panen karena buah jadi busuk. Apalagi, penyakit dan hama mudah menyerang saat hujan,” ungkapnya.
Di Sukabumi, Jawa Barat, harga beras mulai naik. Di sejumlah pasar terpantau harga beras unggulan menjadi Rp 8.000 per kg dari sebelumnya Rp 7.500 per kg. Adapun harga beras termurah Rp 7.000 dari Rp 6.500 per kg.
Kabid Perdagangan Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sukabumi Agus Ernawan mengatakan, operasi pasar murah beras belum perlu dilakukan karena kenaikan masih di bawah 10 persen dari harga pokok. ”Jika harga melonjak tinggi, kami baru gelar operasi pasar berkoordinasi dengan Bulog. Pemerintah memberi subsidi sebesar Rp 1.500 per kg untuk beras yang dijual kepada masyarakat,” kata Agus.
Di Kalimantan Barat, harga ayam ras hidup produksi peternak setempat justru turun dari Rp 24.000 jadi Rp 23.000 per kg. Padahal, permintaan dari konsumen naik.
Ketua I Asosiasi Agribisnis Perunggasan Kalbar Suryaman, Senin (19/12), mengatakan, menjelang Natal dan pergantian tahun permintaan dari konsumen memang naik. ”Namun, kenaikan permintaan konsumen tak bisa mengatrol harga ayam di tingkat konsumen. Produksi ayam ras periode ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan permintaan konsumen,” tutur Suryaman.
Selain pengaruh kelebihan produksi, turunnya harga ayam ras juga dipengaruhi masih masuknya ayam ras selundupan dari Malaysia di kawasan perbatasan. Kucing (42), peternak ayam di Bodok, Kabupaten Sanggau, mengatakan, saat ini peternak tidak bisa menembus pasaran ayam ras di perbatasan. ”Harga ayam ras selundupan lebih rendah dari harga pokok produksi peternak lokal Kalbar. Sudah beberapa tahun ini peternak lokal Kalbar tidak bisa memasok ayam ras ke perbatasan,” kata Kucing.
Kenaikan produksi ayam ras terjadi karena ada tren budidaya skala kecil oleh mantan karyawan industri pengolahan kayu. ”Setahun terakhir ini banyak dari mereka yang memilih budidaya ayam ras skala kecil untuk memenuhi kebutuhan lokal,” kata Suryaman.