Kim Meninggal di Kereta Api

Kompas.com - 20/12/2011, 03:37 WIB

Pyongyang, Senin - Pemimpin Korea Utara Kim Jong Il meninggal akibat serangan jantung karena ”ketegangan jiwa dan fisik yang besar”. Jong Il, pemimpin sejak kematian ayahnya tahun 1994, meninggal di kereta api saat mengunjungi daerah di luar Pyongyang, Sabtu (17/12) pukul 08.30.

Kematiannya baru diketahui dunia pada hari Senin (19/12). Media Pemerintah Korut merilis berita kematian itu merujuk pada keterangan pemerintah. Berita duka itu disiarkan dalam sebuah pernyataan emosional yang dibacakan di televisi nasional.

Seorang pembawa acara televisi mengenakan pakaian hitam untuk membacakan kabar kematian itu. Dia berlinang air mata. Tidak jelas, apakah ini tangisan tulus atau dibuat-buat. ”Saya menyampaikan berita ini dengan kesedihan yang mendalam,” demikian kata perempuan itu.

Kantor berita Agence France Presse (AFP) menuliskan berita yang mengingatkan kejadian tahun 1994 ketika histeria yang diatur rapi muncul. Warga Korut bertahan di rumah karena takut berkeliaran di jalanan dan tidak memperlihatkan sikap sedih.

Semua tentara disebar dan setiap jarak empat meter selalu ada tentara. Tujuannya bukan semata-mata untuk posisi siaga satu, tetapi untuk melihat jika ada yang tidak berduka.

Pyongyang menampilkan foto-foto orang menangis di jalan-jalan begitu mendengar kematian pemimpin mereka. Keadaan memperlihatkan Kim Jong Il, yang mereka juluki pemimpin tercinta, sungguh seakan-akan amat dicintai warga walau wabah kelaparan mencabut nyawa banyak orang.

Instrumen negara seperti Korean Central News Agency (KCNA) dipakai optimal. ”Mereka (rakyat) bahkan tidak sudi menghapus air mata dan sedang merasakan derita dan rasa sedih yang berat akibat berita itu,” demikian KCNA, Senin, saat mencoba melakukan tugasnya sebaik mungkin.

KCNA melanjutkan, penduduk yang berjumlah 24 juta jiwa tersebut benar-benar berada dalam duka yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

TV pemerintah memperlihatkan anggota partai berkuasa yang sedang rapat. Para anggota partai ditonjolkan dalam suasana berduka memukul-memukul meja serta menggerutu habis-habisan karena sedih telah ditinggal ”pemimpin tercinta”.

”Saya tidak memercayai semua ini. Mengapa dia meninggal seperti ini? Apa yang harus kami lakukan?” kata seorang kader partai, Kang Tae Ho.

Pada tahun 1994, saat kematian Kim Il Sung, sejumlah warga ditangkap karena tidak memperlihatkan dukacita.

Kematian kali ini juga memperlihatkan orkestra untuk memperlihatkan suasana duka. Anak-anak, para pekerja, dan penduduk usia tua terlihat menangis di setiap sudut jalan yang memperlihatkan foto Jong Il.

”Bagaimana aku mengekspresikan rasa duka ini. Lidahku kelu, aku tak mampu mengeluarkan kata-kata,” kata seorang tentara, yang tetap saja mengeluarkan kata-kata itu.

Dimakamkan 28 Desember

Pemimpin berusia 69 tahun itu, menurut kantor berita KCNA, meninggal karena kelelahan fisik dan mental setelah bekerja terlalu keras untuk memberi ”pengarahan di lapangan”. Tidak disebutkan apa yang diarahkan di lapangan itu.

Setelah dilakukan otopsi, KCNA memberitakan Kim meninggal karena infark miokard berat bersama dengan serangan jatung.

Kim Jong Il mulai mengalami gangguan kesehatan sejak terkena stroke pada tahun 2008. Sejak itu dia jarang tampil di depan publik.

China, sahabat karib dan mitra dagang terbesarnya, menyatakan amat sedih mendengar berita kematian Kim Jong Il.

Pyongyang mengatakan Kim Jong Un sebagai pewaris utama. Otoritas Korut menyerukan kepada rakyat untuk mendukung Kim Jong Un. ”Semua anggota partai, militer, dan masyarakat harus setia mengikuti kepemimpinan Kim Jong Un, melindungi dan memperkuat front persatuan partai, militer, dan masyarakat,” kata KCNA.

Pemakaman Kim Jong Il akan diadakan pada 28 Desember di ibu kota Pyongyang. Kim Jong Un akan memimpin upacara pemakaman itu. Hari berkabung nasional ditetapkan pada 17-29 Desember ini. Otoritas Pemerintah Korut menginstruksikan kepada seluruh rakyatnya untuk menghormati pemimpin dengan berkabung.

Di tingkat dunia, Korut disebut sebagai negara pariah. Korut dan Jong Il dijuluki sebagai warisan negara dan pemimpin dari perang dingin yang bertahan di era modern ini.

Korut terkenal sebagai negara yang tak mampu menghidupi dirinya sendiri, tetapi mengandalkan bantuan China. AS pernah mengatakan Korut sebagai negara bermulut besar. Negara ini juga pernah disebut sebagai suka memeras asing dengan mengancam akan melanjutkan program nuklir, tetapi hanya untuk mengharapkan bantuan. Negara ini juga kejam terhadap setiap warganya yang membelot.(AFP/AP/REUTERS/CAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau