Peningkatan belanja masyarakat didorong potongan harga dan program belanja murah hingga tengah malam yang ditawarkan pusat perbelanjaan. Masyarakat antusias belanja sampai dengan saat-saat akhir menjelang pusat perbelanjaan tutup.
Dari pantauan Kompas, program belanja tengah malam di Mal Taman Anggrek dan Mal Central Park di Jakarta Barat, akhir pekan lalu, dipadati pengunjung. Kedua mal yang berjarak beberapa ratus meter itu menggelar program yang sama, hanya berselang satu hari.
Koordinator Humas dan Komunikasi Mal Taman Anggrek Anastasia Damastuti mengatakan, diskon dan program belanja tengah malam itu untuk meningkatkan jumlah kunjungan ke mal.
”Saat midnight sale, kami mendorong toko agar memberikan diskon di atas 50 persen. Tujuannya agar semakin banyak pembeli yang tertarik datang ke mal dan berbelanja ke toko mereka,” katanya.
Pada hari-hari biasa, jumlah pengunjung Mal Taman Anggrek mencapai 1,8 juta orang per bulan. Untuk Natal dan Tahun Baru kali ini, jumlah pengunjung ditargetkan naik 30-35 persen menjadi sekitar 2,4 juta orang.
Jika setiap pengunjung berbelanja sebesar Rp 100.000, jumlah uang yang beredar di satu mal bisa Rp 240 miliar per bulan.
Tawaran belanja dengan potongan harga itu cukup menarik masyarakat. Bahkan, ada yang sengaja datang ke Jakarta untuk mengejar diskon belanja. Ajung (26), asal Kalimantan Barat, yang ditemui di lobi Mal Central Park, mengaku telah menghabiskan sekitar Rp 2 juta untuk membeli baju dan pernak-pernik natal.
Di pusat grosir terbesar Tanah Abang, Jakarta, lonjakan pengunjung dan transaksi menjelang akhir tahun justru tak mencolok, hanya 5-10 persen. Menurut Promotion Manager Pusat Grosir Tanah Abang Blok A Herry Supriyatna, kondisi itu sama seperti akhir pekan.
Lonjakan transaksi di Pasar Blok A Tanah Abang biasanya terjadi menjelang Lebaran, hingga Rp 600 miliar-Rp 700 miliar per hari. Adapun pada hari-hari biasa, sekitar 6.500 pedagang di pasar itu membukukan transaksi Rp 250 miliar-Rp 300 miliar per hari, dengan 60.000-80.000 pengunjung.
”Kebanyakan warga kalau libur Natal dan Tahun Baru ini lebih memilih berbelanja di mal atau retailer, bukan grosiran,” ujar Herry, Selasa (20/12).
Kepala Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti mengemukakan, tingginya konsumsi masyarakat menjelang Natal dan Tahun Baru dipengaruhi faktor bonus akhir tahun yang menambah pendapatan. Pada saat bersamaan ada momen Natal, yang membuat alokasi dana masyarakat untuk berbelanja meningkat.
Mengutip data Badan Pusat Statistik, Destry menyebutkan, karakter konsumsi masyarakat Indonesia bergeser dalam 10 tahun terakhir. ”Pada 10 tahun lalu, sekitar 50 persen dari total belanja untuk makanan. Kini, belanja untuk makanan hanya 37 persen, sisanya untuk produk selain makanan,” ujar Destry.
Menjelang Natal dan Tahun Baru, transaksi tunai dan kartu kredit meningkat dua kali lipat dibandingkan dengan bulan-bulan biasa. Masyarakat memerlukan uang tunai untuk membeli barang kebutuhan dan menyewa berbagai macam jasa untuk merayakan Natal dan Tahun baru.
Peningkatan penggunaan uang tunai, menurut Direktur Pengedaran Uang Bank Indonesia Mokhammad Dakhlan, sudah mulai terlihat. Hingga hari ke-20 bulan Oktober, jumlah uang kartal yang diserap bank-bank di Indonesia sudah mencapai Rp 24 triliun. Jumlah ini hampir setara dengan jumlah serapan uang kartal sebulan pada kondisi biasa, yakni Rp 26 triliun.
”Diperkirakan sampai akhir Desember penyerapan uang tunai Rp 48,4 triliun karena banyak masyarakat mengambil dana untuk berbelanja,” katanya.
Tahun lalu, pada bulan yang sama, BI menggelontorkan uang kartal tambahan sebanyak Rp 42,4 triliun. Dengan demikian, kebutuhan masyarakat pada bulan Desember tahun ini diperkirakan meningkat 14 persen dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun lalu.
Seiring dengan naiknya kebutuhan uang tunai, masyarakat diminta berhati-hati terhadap uang palsu. Tahun 2010, ditemukan 20 lembar uang palsu per 1 juta bilyet uang asli.