Tren Belanja Menggila

Kompas.com - 21/12/2011, 01:47 WIB

Jakarta, Kompas - Momen Natal dan Tahun Baru menjadi kesempatan bagi pengelola mal dan pusat perbelanjaan untuk mendorong minat belanja masyarakat. Tren belanja masyarakat di pengujung tahun menggila, diiringi dengan perputaran uang miliaran rupiah di pusat perbelanjaan.

Peningkatan belanja masyarakat didorong potongan harga dan program belanja murah hingga tengah malam yang ditawarkan pusat perbelanjaan. Masyarakat antusias belanja sampai dengan saat-saat akhir menjelang pusat perbelanjaan tutup.

Dari pantauan Kompas, program belanja tengah malam di Mal Taman Anggrek dan Mal Central Park di Jakarta Barat, akhir pekan lalu, dipadati pengunjung. Kedua mal yang berjarak beberapa ratus meter itu menggelar program yang sama, hanya berselang satu hari.

Koordinator Humas dan Komunikasi Mal Taman Anggrek Anastasia Damastuti mengatakan, diskon dan program belanja tengah malam itu untuk meningkatkan jumlah kunjungan ke mal.

”Saat midnight sale, kami mendorong toko agar memberikan diskon di atas 50 persen. Tujuannya agar semakin banyak pembeli yang tertarik datang ke mal dan berbelanja ke toko mereka,” katanya.

Pada hari-hari biasa, jumlah pengunjung Mal Taman Anggrek mencapai 1,8 juta orang per bulan. Untuk Natal dan Tahun Baru kali ini, jumlah pengunjung ditargetkan naik 30-35 persen menjadi sekitar 2,4 juta orang.

Jika setiap pengunjung berbelanja sebesar Rp 100.000, jumlah uang yang beredar di satu mal bisa Rp 240 miliar per bulan.

Tawaran belanja dengan potongan harga itu cukup menarik masyarakat. Bahkan, ada yang sengaja datang ke Jakarta untuk mengejar diskon belanja. Ajung (26), asal Kalimantan Barat, yang ditemui di lobi Mal Central Park, mengaku telah menghabiskan sekitar Rp 2 juta untuk membeli baju dan pernak-pernik natal.

Di pusat grosir terbesar Tanah Abang, Jakarta, lonjakan pengunjung dan transaksi menjelang akhir tahun justru tak mencolok, hanya 5-10 persen. Menurut Promotion Manager Pusat Grosir Tanah Abang Blok A Herry Supriyatna, kondisi itu sama seperti akhir pekan.

Lonjakan transaksi di Pasar Blok A Tanah Abang biasanya terjadi menjelang Lebaran, hingga Rp 600 miliar-Rp 700 miliar per hari. Adapun pada hari-hari biasa, sekitar 6.500 pedagang di pasar itu membukukan transaksi Rp 250 miliar-Rp 300 miliar per hari, dengan 60.000-80.000 pengunjung.

”Kebanyakan warga kalau libur Natal dan Tahun Baru ini lebih memilih berbelanja di mal atau retailer, bukan grosiran,” ujar Herry, Selasa (20/12).

Kepala Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti mengemukakan, tingginya konsumsi masyarakat menjelang Natal dan Tahun Baru dipengaruhi faktor bonus akhir tahun yang menambah pendapatan. Pada saat bersamaan ada momen Natal, yang membuat alokasi dana masyarakat untuk berbelanja meningkat.

Mengutip data Badan Pusat Statistik, Destry menyebutkan, karakter konsumsi masyarakat Indonesia bergeser dalam 10 tahun terakhir. ”Pada 10 tahun lalu, sekitar 50 persen dari total belanja untuk makanan. Kini, belanja untuk makanan hanya 37 persen, sisanya untuk produk selain makanan,” ujar Destry.

Transaksi meningkat

Menjelang Natal dan Tahun Baru, transaksi tunai dan kartu kredit meningkat dua kali lipat dibandingkan dengan bulan-bulan biasa. Masyarakat memerlukan uang tunai untuk membeli barang kebutuhan dan menyewa berbagai macam jasa untuk merayakan Natal dan Tahun baru.

Peningkatan penggunaan uang tunai, menurut Direktur Pengedaran Uang Bank Indonesia Mokhammad Dakhlan, sudah mulai terlihat. Hingga hari ke-20 bulan Oktober, jumlah uang kartal yang diserap bank-bank di Indonesia sudah mencapai Rp 24 triliun. Jumlah ini hampir setara dengan jumlah serapan uang kartal sebulan pada kondisi biasa, yakni Rp 26 triliun.

”Diperkirakan sampai akhir Desember penyerapan uang tunai Rp 48,4 triliun karena banyak masyarakat mengambil dana untuk berbelanja,” katanya.

Tahun lalu, pada bulan yang sama, BI menggelontorkan uang kartal tambahan sebanyak Rp 42,4 triliun. Dengan demikian, kebutuhan masyarakat pada bulan Desember tahun ini diperkirakan meningkat 14 persen dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun lalu.

Seiring dengan naiknya kebutuhan uang tunai, masyarakat diminta berhati-hati terhadap uang palsu. Tahun 2010, ditemukan 20 lembar uang palsu per 1 juta bilyet uang asli. (REK/NIT/ENG)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau