Tembakau Perusak Kesehatan Mulut

Kompas.com - 21/12/2011, 10:03 WIB

KOMPAS.com - Selain memengaruhi masalah kesehatan secara keseluruhan, kebiasaan merokok atau menggunakan produk tembakau terbukti dapat menimbulkan sejumlah problem kesehatan mulut, mulai dari kanker mulut sampai perubahan warna gigi.

"Merokok dapat membuat gigi dan lidah Anda menguning," kata Thomas Kilgore, DMD, ahli kesehatan mulut dan dekan Boston University Henry M. Goldman School.

Merokok dan tembakau dapat menjadi pemicu munculnya komplikasi kesehatan mulut yang lebih serius  seperti penyakit gusi dan kanker mulut. Untuk mengetahui lebih jelas bagaimana tembakau memengaruh kesehatan mulut, berikut ini adalah penjelasan Kilgore:

Merokok dan kanker mulut

Menurut Kilgore, penyakit kanker mulut adalah kondisi paling serius yang disebabkan oleh kebiasaan merokok. "Sulit untuk mengatakan berapa besar persentase perokok menimbulkan kanker mulut. Tetapi tingkat kematian mereka cukup tinggi yakni antara 40-50 persen dari semua kasus, dan kondisi ini tidak berubah selama beberapa dekade terakhir," katanya.

American Cancer Society memperkirakan, 90 persen penderita kanker mulut (bibir, lidah, tenggorokan, dan mulut) merupakan pengguna tembakau dalam beberapa bentuk. Risiko menderita kanker mulut terctat enam kali lebih tinggi bagi para perokok ketimbang mereka yang bukan perokok. Sedangkan risiko setiap orang menderita kanker mulut biasanya tergantung pada berapa lama orang menggunakan tembakau atau rokok.

Merokok dan penyakit periodontal

"Merokok tidak menyebabkan kerusakan gigi, melainkan penyakit periodontal. Keropos tulang adalah bagian dari penyakit periodontal. Kondisi ini dimulai dari peradangan gusi dan kemudian tulang penyangga akar gigi menjadi meradang," jelas Kilgore.

Menurut Kilgore, ada dua metode yang dapat dilakukan untuk memperbaiki atau memperlambat perkembangan penyakit periodontal yakni dengan terapi bedah dan non-bedah. Sebuah studi menemukan bahwa kebiasaan merokok telah dikaitkan dengan perkembangan penyakit periodontal sebesar 50 persen.

Penyakit periodontal merupakan penyebab utama tanggalnya gigi pada orang dewasa yang disebabkan infeksi bakteri dan menimbulkan kerusakan gusi, serat perekat dan tulang di sekitar gigi.

Mulut sehat tanpa tembakau

Kebanyakan orang sering berpikir bahwa ada beberapa jenis tembakau yang aman untuk digunakan. Namun Kilgore tidak setuju dengan pernyataan itu.

"Tembakau dalam bentuk apapun memiliki risiko. Sulit untuk mengetahui jenis mana yang berbahaya - apakah tembakau itu dikunyah, dihisap, atau dihirup," ungkapnya.

Intinya, lanjut Kilgore, paparan tembakau secara teratur dalam bentuk apapun dapat membahayakan kesehatan. Kilgore memberikan contoh, "ada sebuah mitos yang mengatakan bahwa mengunyah tembakau memiliki risiko lebih rendah mengidap kanker mulut, padahal itu salah."

Menurutnya, orang-orang yang menggunakan tembakau dengan mengunyah justru berada pada risiko 4-6 kali lebih besar terkena kanker mulut ketimbang orang yang sama sekali tidak menggunakan tembakau. Orang yang menggunakan tembakau tanpa dibakar (rokok) juga berisiko lebih tinggi mengalami kerusakan gigi dan gigi berlubang karena beberapa jenis tembakau kunyah mengandung gula, dan gula merupakan pemicu utama kerusakan gigi.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau