Kim Jong Un Memerintah dengan Paman Jang

Kompas.com - 21/12/2011, 14:44 WIB

BEIJING, KOMPAS.com — Kim Jong Un, pemimpin baru Korea Utara, mendapat dukungan dari militer. Namun, dia harus berbagi kekuasaan dengan pamannya dan militer. Demikian kantor berita Reuters mengutip sumber yang dekat dengan Pyongyang dan Beijing, Rabu (21/12/2011).

Sumber itu menambahkan bahwa militer, yang berusaha mengembangkan senjata nuklir, sudah menyatakan sumpah setia pada Kim Jong Un pasca-kematian ayahnya, Kim Jong Il, akhir pekan lalu.

Menurut sumber itu, Pemerintah China baru mengetahui kematian Kim Jong Il pada Senin (19/12/2011), bersamaan dengan pengumuman resmi Pemerintah Pyongyang. Seperti diberitakan, pemimpin Korea Utara Kim Jong Il meninggal akibat serangan jantung pada Sabtu (17/12/2011), dan pemerintah mengumumkannya secara resmi dua hari kemudian.

Situasi di Korea Utara, seperti disampaikan sumber itu, tampak stabil setelah militer memberikan dukungannya kepada Kim Jong Un. Namun, dia menampik kemungkinan kudeta militer. "Sangat tidak mungkin. Militer sudah bersumpah setia kepada Kim Jong Un," katanya.

Tanpa orang kuat di militer, Korea Utara akan dipimpin secara kolektif oleh Kim Jong Un, paman Jang Song-thaek, dan militer. Jang adalah suami adik Kim Jong Il. Pada 2009, dia masuk dalam Komisi Pertahanan Nasional, sebuah dewan pemimpin agung pimpinan Kim Jong Il, sebagai panglima militer.

Menurut Reuters, sumber yang menolak namanya disebut itu pernah memprediksi beberapa kejadian di Korea Utara yang kemudian terbukti benar. Salah satunya adalah dia memprediksi Korea Utara akan melakukan uji coba nuklirnya pada 2006, sebelum peristiwa itu terjadi.

Sumber itu menambahkan, uji coba peluru kendali yang dilakukan negara itu pada Senin (19/12/2011) merupakan peringatan terhadap Amerika Serikat untuk tidak melakukan tindakan apa pun.

"Dengan uji coba rudal itu, Korea (Utara) ingin mengirim pesan bahwa mereka punya kemampuan untuk melindungi diri sendiri," ujar sumber itu. Namun, lanjutnya, Korea Utara kemungkinan kecil melakukan uji coba nuklir dalam waktu dekat, kecuali diprovokasi oleh Amerika Serikat dan Korea Selatan.

Program nuklir Korea Utara merupakan sumber ketegangan internasional. Pyongyang pernah melakukan uji coba nuklir pada 2006 dan 2009. Negara itu kemudian keluar dari perundingan enam negara yang di dalamnya terdapat Korea Selatan, Amerika Serikat, China, Jepang, dan Rusia. Kelima negara itu meminta Pyongyang menghentikan program nuklirnya dan kembali pada Perjanjian Non-proliferasi.

Sementara itu, China, sekutu terdekat dan penyumbang bantuan terbesar ke Korea Utara, menyambut kepemimpinan Kim Jong Un dan mengundangnya berkunjung ke China setelah masa berkabung usia.

Presiden China Hu Jintao dan Wakil Presiden Xi Jinping juga mengunjungi Kedutaan Besar Korea Utara di Beijing untuk mengucapkan ungkapan belasungkawa atas kematian Kim Jong Il, Selasa (20/12/2011).

Namun, China mengkhawatirkan kemungkinan terjadinya gejolak di perbatasan timur laut China. Korea Utara mendapat tekanan dari China untuk melucuti senjata nuklirnya. Negara itu bersedia melakukannya dengan syarat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau