Jajak pendapat kompas

Tumbuhnya Kelas Menengah yang Optimistis

Kompas.com - 23/12/2011, 02:31 WIB

Oleh BAMBANG SETIAWAN

Harapan masyarakat dalam memandang masa depan kini tampak lebih optimistis. Jika lima tahun lalu pandangan pesimistis terlihat lebih menonjol, kini sebaliknya, pandangan bernada positif lebih mewarnai. Walau demikian, pemerintah dinilai belum memiliki peran maksimal dalam mendorong percepatan kesejahteraan masyarakat.

Tumbuhnya harapan dan kepercayaan diri masyarakat pada kemampuan masyarakat di tengah menipisnya kepercayaan kepada lembaga-lembaga penyelenggara negara merupakan fenomena menarik. Di satu sisi, ia bisa menjadi petunjuk menguatnya kemandirian masyarakat, di sisi lain juga menggambarkan frustrasi masyarakat pada peran negara. Negara dipandang tidak lagi menjadi faktor penentu yang bisa diharapkan dalam mewujudkan kesejahteraan sosial.

Gambaran menguatnya kepercayaan diri masyarakat bisa dilihat dari naiknya keyakinan publik dalam memandang masa depan. Jika menjelang tahun 2007 hanya 18,2 persen responden jajak pendapat Kompas memandang kesejahteraan sosial akan semakin baik, sekarang pandangan bernada optimistis disuarakan oleh 36,4 persen.

Seiring dengan itu, sikap pesimistis semakin kecil. Hal sama juga tergambar dari pendapat mereka tentang kondisi perekonomian. Menjelang tahun 2007, hanya 21,8 persen yang merasa kondisi ekonomi akan semakin baik, tetapi sekarang, harapan itu disuarakan 39,5 persen responden. Sikap positif publik juga tergambar dari keyakinan yang makin kuat terhadap kebebasan berpendapat, pelayanan kesehatan, dan pendidikan.

Dalam dua aspek penting perekonomian masyarakat, yaitu harga-harga barang serta lapangan pekerjaan, publik masih meragukan akan terjadi perbaikan signifikan. Pandangan negatif saat ini masih lebih besar daripada pandangan positif. Terlebih pada generasi tua yang sudah berpengalaman mengamati situasi, keraguan lebih besar.

Namun, jika dibandingkan dengan lima tahun lalu, persepsi di atas sudah cukup berubah. Kalau pada waktu itu 46,8 persen responden memandang situasi lapangan pekerjaan akan memburuk dan hanya 9,4 persen yang menilai akan semakin baik, sekarang yang menyatakan memburuk turun menjadi 31 persen. Adapun 28 persen yakin akan semakin baik.

Tumbuhnya harapan masyarakat terhadap peningkatan kesejahteraan bisa jadi hanya menunjukkan fokus publik yang kian kuat pada soal-soal perbaikan kualitas hidup daripada persoalan lain. Akan tetapi, gejala ini juga dapat menjadi pertanda munculnya kelas menengah yang makin mandiri dibandingkan dengan lima tahun sebelumnya.

Studi Bank Dunia menyebutkan, kelas menengah Indonesia saat ini 56,5 persen dari 237 juta penduduk (Kompas, Selasa, 20/12). Walau masih dominan sebagai kelas yang konsumtif, indikasi menguatnya kepercayaan diri dapat menjadi modal menciptakan kreativitas yang produktif. Rasa percaya diri sangat jelas terlihat pada generasi muda di bawah 30 tahun. Mereka memandang lapangan kerja pada tahun 2012 lebih optimistis daripada generasi di atasnya.

Citra negara melemah

Kejenuhan masyarakat terhadap penyelenggara negara yang hanya disibukkan dengan konflik antarelite dan korupsi membuat masyarakat makin tidak mengacuhkan kehadiran mereka. Selama tahun 2011, wacana publik lebih kental diwarnai pertentangan dan memburuknya hubungan antarelite politik serta tarik ulur soal pemberantasan korupsi. Dua hal ini, menurut responden, menunjukkan kondisi paling buruk dibandingkan dengan persoalan lain, seperti keamanan, stabilitas politik, hubungan antaretnis, ataupun ketegangan antarpemeluk agama.

Kasus dugaan korupsi yang melibatkan Kementerian Pemuda dan Olahraga terkait pembangunan wisma atlet di Palembang (Sumatera Selatan), dugaan penyuapan di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, serta kekisruhan menjelang perombakan kabinet telah membawa ketegangan antarelite yang memuncak pada 2011. Kondisi ini membuat masyarakat makin bosan terhadap perilaku elite politik. Kejenuhan ini tecermin dari pandangan mereka yang negatif terhadap citra dan kinerja pemimpin atau lembaga-lembaga negara. Menteri-menteri dan Dewan Perwakilan Rakyat, termasuk partai politik, dianggap paling bertanggung jawab terhadap kondisi politik dan ruwetnya pemberantasan korupsi.

Lemahnya penyelenggara negara dalam menjalani fungsinya membuat ketidakpuasan publik meningkat, termasuk terhadap kepala pemerintahan.

Jika pada akhir tahun 2006 ketidakpuasan atas kinerja presiden disuarakan 49,7 persen responden, sekarang menjadi 68,9 persen. Demikian juga terhadap organ-organ kenegaraan lain, seperti lembaga legislatif dan yudikatif, terjadi peningkatan ketidakpuasan secara signifikan. Pandangan tetap positif hanya diapresiasikan kepada Tentara Nasional Indonesia. TNI dipandang memiliki kerja paling jelas dan pasti di antara lembaga-lembaga kenegaraan lain sehingga masyarakat menilai positif TNI.

Menipisnya harapan masyarakat terhadap penyelenggara negara juga tergambar dari ketidakyakinan terhadap peran pemerintah pada tahun 2012 dalam mengatasi persoalan di bidang perekonomian, politik, hukum, dan kesejahteraan. Dalam bidang kesejahteraan, misalnya, ketidakyakinan kepada pemerintah disuarakan 53 persen responden.

Berkembangnya sikap optimistis di tengah menurunnya kepercayaan masyarakat kepada negara mencerminkan ambiguitas situasi, yang kalau tidak disikapi hati-hati akan memantulkan sikap politik yang keras.

Di balik sifat hedonistis dan konsumtif, kelas menengah kritis yang sedang tumbuh sewaktu-waktu mampu mewujudkan kreativitasnya dengan melakukan perubahan besar, termasuk menentukan siapa yang layak dan pantas mengatur negeri ini. (Bambang Setiawan/Litbang Kompas)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau