2012, Menpera Punya Banyak "PR"

Kompas.com - 30/12/2011, 15:20 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda mengatakan, di tahun-tahun mendatang Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) punya banyak pekerjaan rumah. Pekerjaan rumah terbesar itu terkait pemenuhan kebutuhan perumahan bagi masyarakat.

Ali mengatakan, kerja Menpera baru, Djan Faridz, yang menggantikan Suharso Monoarfa pada Oktober 2011 lalu harus memiliki arah yang jelas karena program perumahan masih mandek.

"Semoga tidak ada lagi program perumahan tambal sulam serta tanpa perencanaan yang jelas," ujarnya kepada Kompas.com, di Jakarta, Kamis (29/12/2011).

Hal mendesak lain untuk segera dilakukan, lanjut Ali, adalah masalah ketersediaan lahan atau land bank. Pemerintah diminta segera menyiapkan land bank agar dapat mengurangi backlog perumahan yang mencapai jumlah sekitar 8 juta unit pada 2010 lalu.

"Selain masalah itu, UU nomor 1 tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman juga masih menyisakan polemik. Hal ini akan mengakibatkan pasar rumah sederhana diperkirakan akan terganggu bila tidak segera diatasi," kata Ali.

BUMN Properti

Ali juga menyoroti wacana usulan pembentukan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersendiri untuk bidang properti. Menurutnya, BUMN properti akan menjadi isu penting karena sangat dimungkinkan memunculkan sinergi untuk penyediaan rumah rakyat dari tanah BUMN.

"BUMN properti sangat baik, dan seharusnya memang ada agar manajemen aset idle BUMN lebih baik. Namun, perlu ada komitmen agar sebagaian aset untuk segmen bawah dilimpahkan ke Kemenpera dan dimanfaatkan untuk rumah rakyat," jelasnya.

Menanggapi akan adanya dualisme karena telah ada beberapa BUMN berbisnis properti, seperti Perumnas, menurut Ali, Perumnas bisa menjadi BUMN properti atau dilepaskan dari BUMN sehingga khusus mengurus perumahan rakyat.

"Masalah siapa yang dilebur, itu nanti urusan BUMN ," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau