Perompakan

TNI AL Selamatkan Kapal Tunda Malaysia

Kompas.com - 02/01/2012, 02:43 WIB

Pangkal Pinang, Kompas - TNI AL menyelamatkan delapan awak kapal tunda Sin Hin 5 yang berbendera Malaysia di perairan Damar, Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung. Mereka adalah korban perompakan yang membawa tongkang pengangkut aneka peralatan dan mesin konstruksi.

Komandan Pangkalan TNI AL Kepulauan Bangka Belitung (Babel) Kolonel Laut Umar Arif mengatakan, kapal tunda Sin Hin 5 ditemukan kandas di sekitar perairan Damar, Belitung Timur (Beltim), oleh nelayan.

Nelayan lalu menginformasikan keberadaan kapal asing di perairan Beltim ke pos TNI AL di Beltim. ”Sebelumnya mengerahkan pasukan penyerbu karena menduga masih ada perompak, ternyata hanya ada delapan awak,” ujar Umar, Minggu (1/1), ketika dihubungi dari Pangkal Pinang, Kepulauan Babel.

Setelah memastikan tidak ada perompak, TNI AL menarik kapal tunda itu ke daratan. Pada Minggu sore, kapal sudah dipindahkan dari Tanjung Burok ke Pantai Tambak, Beltim. TNI AL menempatkan sejumlah prajurit di sekitar kapal. ”Kami juga mengerahkan KRI Pattimura dan pesawat patroli untuk mengejar perompak,” tuturnya.

Berdasarkan keterangan dari awak kapal, lanjut Umar, kapal itu tengah menarik tongkang Sin Hin 6 yang mengangkut berbagai mesin serta peralatan konstruksi dan truk. Kapal tunda itu diawaki pelaut dari Indonesia, Malaysia, dan Myanmar dengan nakhoda Muhtiono asal Indonesia.

Muhtiono, seperti diceritakan Umar, menyatakan, mereka berangkat dari Pelabuhan Klang, Malaysia, menuju Serawak, Malaysia, 23 Desember 2011. Pada Rabu (28/12) malam, belasan perompak menyergap mereka di lepas pantai Malaysia.

Perompak menaiki perahu kecil berkecepatan tinggi dan langsung menyekap seluruh awak di ruang nakhoda lalu mengambil alih kapal. ”Mereka menggunakan topeng. Mereka berbicara dengan logat Melayu,” ujar Muhtiono, seperti diceritakan Umar.

Mengubah nama

Saat awak kapal disekap, perompak diduga mengubah nama kapal. Hal itu diketahui awak kapal setelah mereka keluar dari ruang penyekapan. Nama kapal berubah dari Sin Hin 5 menjadi Gulden I. Perompak juga diduga mengganti cat sebagian lambung dari hijau menjadi hitam.

Cat hitam diduga untuk menutup nama asli kapal tunda itu. Namun, jika dilihat dari dekat, nama asli kapal masih terlihat karena tulisan nama asli menggunakan huruf timbul.

Setelah mengganti nama kapal, perompak membawa rampasannya ke arah perairan Indonesia. Di tengah jalan, perompak menggunakan kapal tunda lain yang sudah menanti di tengah laut untuk menarik Sin Hin 6 menuju ke utara.

Sementara kapal tunda Sin Hin 5 dibiarkan melaju ke selatan, masuk perairan Indonesia. Selanjutnya, mereka ditemukan terdampar di perairan Beltim.

Awak kapal sudah dirawat petugas di pelabuhan dan, jika memungkinkan, mereka bisa kembali ke tempat asal masing-masing. Selain dirawat, mereka juga dimintai keterangan. ”Kemungkinan sarang perompak tidak jauh dari lokasi penyergapan karena mereka naik perahu kecil yang daya jelajahnya terbatas,” kata Umar.

Belum dipastikan kapan delapan awak kapal diizinkan pulang ke tempat asal masing-masing. Pangkalan TNI AL Babel berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Malaysia dan Myanmar terkait pemulangan warga negara mereka. (RAZ)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau