Pangkal Pinang, Kompas -
Komandan Pangkalan TNI AL Kepulauan Bangka Belitung (Babel) Kolonel Laut Umar Arif mengatakan, kapal tunda Sin Hin 5 ditemukan kandas di sekitar perairan Damar, Belitung Timur (Beltim), oleh nelayan.
Nelayan lalu menginformasikan keberadaan kapal asing di perairan Beltim ke pos TNI AL di Beltim. ”Sebelumnya mengerahkan pasukan penyerbu karena menduga masih ada perompak, ternyata hanya ada delapan awak,” ujar Umar, Minggu (1/1), ketika dihubungi dari Pangkal Pinang, Kepulauan Babel.
Setelah memastikan tidak ada perompak, TNI AL menarik kapal tunda itu ke daratan. Pada Minggu sore, kapal sudah dipindahkan dari Tanjung Burok ke Pantai Tambak, Beltim. TNI AL menempatkan sejumlah prajurit di sekitar kapal. ”Kami juga mengerahkan KRI Pattimura dan pesawat patroli untuk mengejar perompak,” tuturnya.
Berdasarkan keterangan dari awak kapal, lanjut Umar, kapal itu tengah menarik tongkang Sin Hin 6 yang mengangkut berbagai mesin serta peralatan konstruksi dan truk. Kapal tunda itu diawaki pelaut dari Indonesia, Malaysia, dan Myanmar dengan nakhoda Muhtiono asal Indonesia.
Muhtiono, seperti diceritakan Umar, menyatakan, mereka berangkat dari Pelabuhan Klang, Malaysia, menuju Serawak, Malaysia, 23 Desember 2011. Pada Rabu (28/12) malam, belasan perompak menyergap mereka di lepas pantai Malaysia.
Perompak menaiki perahu kecil berkecepatan tinggi dan langsung menyekap seluruh awak di ruang nakhoda lalu mengambil alih kapal. ”Mereka menggunakan topeng. Mereka berbicara dengan logat Melayu,” ujar Muhtiono, seperti diceritakan Umar.
Saat awak kapal disekap, perompak diduga mengubah nama kapal. Hal itu diketahui awak kapal setelah mereka keluar dari ruang penyekapan. Nama kapal berubah dari Sin Hin 5 menjadi Gulden I. Perompak juga diduga mengganti cat sebagian lambung dari hijau menjadi hitam.
Cat hitam diduga untuk menutup nama asli kapal tunda itu. Namun, jika dilihat dari dekat, nama asli kapal masih terlihat karena tulisan nama asli menggunakan huruf timbul.
Setelah mengganti nama kapal, perompak membawa rampasannya ke arah perairan Indonesia. Di tengah jalan, perompak menggunakan kapal tunda lain yang sudah menanti di tengah laut untuk menarik Sin Hin 6 menuju ke utara.
Sementara kapal tunda Sin Hin 5 dibiarkan melaju ke selatan, masuk perairan Indonesia. Selanjutnya, mereka ditemukan terdampar di perairan Beltim.
Awak kapal sudah dirawat petugas di pelabuhan dan, jika memungkinkan, mereka bisa kembali ke tempat asal masing-masing. Selain dirawat, mereka juga dimintai keterangan. ”Kemungkinan sarang perompak tidak jauh dari lokasi penyergapan karena mereka naik perahu kecil yang daya jelajahnya terbatas,” kata Umar.
Belum dipastikan kapan delapan awak kapal diizinkan pulang ke tempat asal masing-masing. Pangkalan TNI AL Babel berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Malaysia dan Myanmar terkait pemulangan warga negara mereka.