Penembakan misterius

Polisi Memperketat Jaga Perairan Aceh

Kompas.com - 04/01/2012, 01:36 WIB

Banda Aceh, Kompas - Menyusul rangkaian penembakan misterius di sejumlah wilayah di Aceh, Kepolisian Daerah Aceh meningkatkan penjagaan di perairan dan pemeriksaan di perumahan warga serta razia di jalan raya. Dari hasil penyelidikan sementara, polisi masih menduga kasus-kasus penembakan tersebut adalah kriminal murni.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Aceh Ajun Komisaris Besar Gustav Leo, Selasa (3/1), mengungkapkan, penjagaan perairan dan razia ke rumah penduduk serta di jalan raya dilakukan sebagai upaya pengejaran terhadap pelaku.

”Hasil analisis terhadap kasus-kasus penembakan sebelumnya, ada kemungkinan para pelaku melarikan diri ke luar negeri. Karena itu, untuk menghindari hal ini terulang, seluruh jajaran diinstruksikan menjaga ketat kawasan perairan yang rawan digunakan sebagai pintu lari ke luar negeri,” kata Gustav.

Lima warga tewas dan delapan lainnya luka berat akibat penembakan misterius di tiga tempat yang berbeda di Aceh, yaitu di Desa Blang Cot Tunong, Kecamatan Jeumpa, Bireuen; di Desa Ilie, Ulee Kareng, Banda Aceh, Sabtu (31/12) malam; dan di sebuah kedai kopi di Dusun Blok B, Desa Seureuke, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, Minggu malam.

Patroli ke rumah warga dan razia di jalan raya tidak hanya mencari pelaku, tetapi juga senjata api yang masih beredar di Aceh. Masih banyaknya senjata api disinyalir jadi salah satu penyebab maraknya tindak kejahatan bersenjata di wilayah ini.

Penyelidikan sementara terhadap kasus penembakan di Bireuen, Banda Aceh, dan Aceh Utara sampai saat ini belum ada kemajuan. Polisi masih menganalisis keterangan saksi dan barang bukti yang didapat di tempat kejadian.

Meski ada kecenderungan perubahan target sasaran penembakan pada etnis tertentu, polisi belum dapat menyimpulkan ada motif politik terselubung dari rangkaian tembakan ini.

”Selama kami belum menangkap pelaku dan barang bukti lain, kami belum bisa mengatakan motifnya apa. Ini masih kriminal murni. Namun, kami juga mengevaluasi pola dan sasaran pelaku itu,” ujar Gustav.

Ada kesulitan

Diakuinya, secara teknis ada kesulitan yang dihadapi polisi dalam proses penyelidikan. Tak semua saksi berani memberi kesaksian. Dalam kasus penembakan 10 pekerja proyek galian kabel optik Telkomsel di Bireuen, misalnya, sejumlah saksi mata masih trauma dan dicekam rasa takut. Mereka minta segera pulang ke tempat asal. ”Kami terus berupaya dengan memberikan jaminan keamanan kepada mereka, termasuk jaminan dari perusahaan tempat mereka bekerja,” katanya.

Di Jakarta, Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi menyatakan, informasi yang diperoleh dari Kepala Polri Jenderal (Pol) Timur Pradopo, penembakan itu tidak terkait dengan pemilu kepala daerah (pilkada) pada 16 Februari mendatang. Namun, Timur yang dikonfirmasi terpisah justru mengaku belum selesai menyelidiki motif penembakan itu.

”Saya sudah berbicara dengan Kepala Polri. Menurut dia, (penembakan) tidak ada kaitannya dengan Pilkada Aceh. Itu kriminal biasa,” kata Gamawan, Selasa, di Kantor Presiden.

Timur menyatakan, motif kriminal murni dijumpai dalam kasus penembakan pada 4 Desember 2011 dan sejumlah tersangka sudah ditetapkan. Kasus penembakan pada malam tahun baru masih dalam penyelidikan. ”Kami olah tempat kejadian perkara. Kami temukan selongsong, proyektil, dan lebih kurang lima saksi diperiksa. Kita tunggu dari hasil penyelidikannya,” ujar Timur.

Peristiwa penembakan pada 4 Desember terjadi di perkebunan sawit milik PT Satya Agung di Dusun Krueng Jawa, Desa Uram Jalan, Geureudong Pase, Aceh Utara. Kasus itu menewaskan tiga orang dan melukai lima orang.

Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono menilai, pengamanan di Aceh masih dalam ranah operasi kepolisian. TNI membantu manakala kepolisian memerlukan bantuan. ”Kami tidak akan menambah TNI di sana karena kekuatan wilayah yang ada cukup mampu untuk membantu kepolisian,” katanya.

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Saifuddin Bantasyam, mengatakan, sebaiknya semua pihak tak serta-merta mengaitkan kasus penembakan ini dengan polemik pilkada di Aceh dan isu etnis yang muncul dari rangkaian kasus itu.

Wakil Ketua Fraksi Partai Aceh Abdullah Saleh menegaskan, kasus penembakan terakhir di Aceh cenderung tak ada kaitannya dengan pilkada. Sebab, yang dijadikan sasaran bukan pihak yang terkait dengan Pilkada Aceh, melainkan kelompok masyarakat tertentu.

Pilkada Aceh pada 16 Februari diikuti empat pasang calon. Mereka adalah petahana Irwandi Yusuf-Muhyan Yunan, Darni M Daud-Ahmad Fauzi, Ahmad Tajuddin-Teuku Suriansyah, dan Wakil Gubernur petahana Muhammad Nazar-Nova Iriansyah.

Jenazah tiga korban tewas dalam penembakan di Desa Blang Cot Tunong, Jeumpa, Bireuen, Selasa, telah diterbangkan ke Surabaya, Jawa Timur. Mereka adalah Sudawud (31), warga Banyuwangi, serta Suparno (31) dan Sunyoto (28), keduanya warga Jember. (HAN/WHY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau