Pembinaan usia muda (5)

Jepang Mulai Menanam pada Anak-anak U-12

Kompas.com - 06/01/2012, 03:02 WIB

Negara yang getol dalam pembinaan usia muda, seperti Uruguay, Jerman, dan Spanyol—telah dikupas sebelumnya—berada di Amerika Selatan dan Eropa, dua kiblat sepak bola. Adakah model serupa di Asia? Jepang.

Puluhan tahun setelah Piala Dunia pertama 1930, sepak bola Jepang dalam kegelapan. Dari perjalanan sepak bola mereka di Piala Dunia (PD), Piala Asia (PA), dan Olimpiade, lorong kegelapan itu begitu panjang: 1930-1998 (68 tahun) di PD, 1956- 1988 (32 tahun) di PA, dan 1972-1996 (24 tahun) di Olimpiade.

Sepanjang puluhan tahun itu, kita tidak akan menemukan jejak perjalanan timnas Jepang. Benar-benar gelap. Namun, dalam 20 tahun terakhir, dentuman hebat Jepang dimulai dengan juara PA 1992 dan peserta langganan PD sejak 1998.

Saat ini, Jepang juara Asia. Di PD 2010, mereka masuk 16 besar. Timnas putri negeri itu kini bahkan juara dunia. ”Awalnya sulit,” kata Kohzo Tashima, Sekjen Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA), kepada FourFourTwo, edisi Desember 2011.

Upaya Jepang belajar dan mengelola sepak bola sebenarnya sudah dimulai tahun 1970-an. Sejak itu, turnamen usia di bawah 12 tahun (U-12) telah bergulir. Pelatih dan staf administrasi rutin berkunjung menyerap ilmu di negara-negara Eropa dan Amerika Selatan, serta kabarnya juga Indonesia.

Namun, sistem pembinaan saat itu belum rapi. Eks bintang Kazuyoshi Miura keluar ongkos sendiri untuk belajar sepak bola dan bermain di Brasil mulai umur 15 tahun. Anak-anak Jepang umumnya bermain di tim-tim sekolah menengah dan perguruan tinggi mereka sebelum tampil di klub-klub.

Reformasi awal 1990-an

Baru awal 1990-an, JFA mereformasi pembinaan usia muda. Saat bersamaan, Liga Jepang (J-League) diluncurkan 1993. Setiap klub J-League wajib memiliki tim lapis usia muda, mulai U-10, U-12, U-15, dan U-18. Beberapa klub punya tim usia muda lebih banyak.

Seluruh tim lapis usia muda di klub-klub itu ditangani pelatih spesialis dan digembleng di fasilitas excellent.

Selain melalui klub-klub, kerja keras pembinaan usia muda juga dilakukan JFA bekerja sama dengan pengurus daerah di 47 prefektur (semacam karesidenan). Ke-47 prefektur dan pengurus Tokyo mengirim talenta-talenta terbaik di bawah usia 12 tahun (U-12) ke sembilan pusat pelatihan.

Bibit-bibit terbaik dari sembilan pusat pelatihan itu digodok di Akademi Elite JFA di Fukushima, yang dibangun 2006. Di sini, mereka ditempa enam tahun. Saat kompleks itu hancur akibat gempa 11 Maret 2011, JFA memindahkan akademi itu ke Shizuoka, tempat 125 anak putra dan putri Jepang ditempa.

”Anak U-12 usia emas pembinaan,” kata Tom Byer, pria Amerika Serikat yang 20 tahun lebih terlibat pembinaan usia muda di Jepang, dalam diskusi saat berkunjung ke Jakarta, awal Desember lalu. Byer spesialis pengajar teknik sepak bola individu yang telah memoles lebih dari 500.000 anak Jepang.

Di Jepang, setiap daerah memutar kompetisi U-12 dan lapis usia berikutnya. Tim terbaik daerah itu tampil di ibu kota untuk memperebutkan juara nasional. Kini, setelah reformasi awal 1990-an itu, Jepang mulai memanen.

Di Piala Dunia U-17 2011 Meksiko, mereka lolos ke perempat final setelah di babak grup menahan Perancis 1-1 dan memukul Argentina 3-1. Di perempat final, mereka kalah tipis 2-3 dari Brasil. Dengan pembinaan usia muda yang rapi, berjenjang, dan konsisten, JFA mematok target Jepang juara dunia 2050.

Bahkan, kolumnis sepak bola Asia, John Duerden, menyebut, target juara dunia bagi Jepang itu bisa datang lebih cepat, yakni dalam 20 tahun ke depan. Tidak berlebihan. Maklum, Jepang telah bekerja keras, tidak hanya bermimpi dan bicara. (SAM)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau