Negara yang getol dalam pembinaan usia muda, seperti Uruguay, Jerman, dan Spanyol—telah dikupas sebelumnya—berada di Amerika Selatan dan Eropa, dua kiblat sepak bola. Adakah model serupa di Asia? Jepang.
Puluhan tahun setelah Piala Dunia pertama 1930, sepak bola Jepang dalam kegelapan. Dari perjalanan sepak bola mereka di Piala Dunia (PD), Piala Asia (PA), dan Olimpiade, lorong kegelapan itu begitu panjang: 1930-1998 (68 tahun) di PD, 1956- 1988 (32 tahun) di PA, dan 1972-1996 (24 tahun) di Olimpiade.
Sepanjang puluhan tahun itu, kita tidak akan menemukan jejak perjalanan timnas Jepang. Benar-benar gelap. Namun, dalam 20 tahun terakhir, dentuman hebat Jepang dimulai dengan juara PA 1992 dan peserta langganan PD sejak 1998.
Saat ini, Jepang juara Asia. Di PD 2010, mereka masuk 16 besar. Timnas putri negeri itu kini bahkan juara dunia. ”Awalnya sulit,” kata Kohzo Tashima, Sekjen Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA), kepada FourFourTwo, edisi Desember 2011.
Upaya Jepang belajar dan mengelola sepak bola sebenarnya sudah dimulai tahun 1970-an. Sejak itu, turnamen usia di bawah 12 tahun (U-12) telah bergulir. Pelatih dan staf administrasi rutin berkunjung menyerap ilmu di negara-negara Eropa dan Amerika Selatan, serta kabarnya juga Indonesia.
Namun, sistem pembinaan saat itu belum rapi. Eks bintang Kazuyoshi Miura keluar ongkos sendiri untuk belajar sepak bola dan bermain di Brasil mulai umur 15 tahun. Anak-anak Jepang umumnya bermain di tim-tim sekolah menengah dan perguruan tinggi mereka sebelum tampil di klub-klub.
Baru awal 1990-an, JFA mereformasi pembinaan usia muda. Saat bersamaan, Liga Jepang (J-League) diluncurkan 1993. Setiap klub J-League wajib memiliki tim lapis usia muda, mulai U-10, U-12, U-15, dan U-18. Beberapa klub punya tim usia muda lebih banyak.
Seluruh tim lapis usia muda di klub-klub itu ditangani pelatih spesialis dan digembleng di fasilitas excellent.
Selain melalui klub-klub, kerja keras pembinaan usia muda juga dilakukan JFA bekerja sama dengan pengurus daerah di 47 prefektur (semacam karesidenan). Ke-47 prefektur dan pengurus Tokyo mengirim talenta-talenta terbaik di bawah usia 12 tahun (U-12) ke sembilan pusat pelatihan.
Bibit-bibit terbaik dari sembilan pusat pelatihan itu digodok di Akademi Elite JFA di Fukushima, yang dibangun 2006. Di sini, mereka ditempa enam tahun. Saat kompleks itu hancur akibat gempa 11 Maret 2011, JFA memindahkan akademi itu ke Shizuoka, tempat 125 anak putra dan putri Jepang ditempa.
”Anak U-12 usia emas pembinaan,” kata Tom Byer, pria Amerika Serikat yang 20 tahun lebih terlibat pembinaan usia muda di Jepang, dalam diskusi saat berkunjung ke Jakarta, awal Desember lalu. Byer spesialis pengajar teknik sepak bola individu yang telah memoles lebih dari 500.000 anak Jepang.
Di Jepang, setiap daerah memutar kompetisi U-12 dan lapis usia berikutnya. Tim terbaik daerah itu tampil di ibu kota untuk memperebutkan juara nasional. Kini, setelah reformasi awal 1990-an itu, Jepang mulai memanen.
Di Piala Dunia U-17 2011 Meksiko, mereka lolos ke perempat final setelah di babak grup menahan Perancis 1-1 dan memukul Argentina 3-1. Di perempat final, mereka kalah tipis 2-3 dari Brasil. Dengan pembinaan usia muda yang rapi, berjenjang, dan konsisten, JFA mematok target Jepang juara dunia 2050.
Bahkan, kolumnis sepak bola Asia, John Duerden, menyebut, target juara dunia bagi Jepang itu bisa datang lebih cepat, yakni dalam 20 tahun ke depan. Tidak berlebihan. Maklum, Jepang telah bekerja keras, tidak hanya bermimpi dan bicara.