JAKARTA, KOMPAS.com - Satu menara tegangan tinggi yang mengalirkan listrik dari Medan ke Banda Aceh di Desa Matang Sijuk, Panton Labu, Kabupaten Aceh Utara, Aceh, roboh ditumbangkan oleh orang tidak bertanggung jawab, Sabtu (8/1/2012) pukul 23.19.
Peristiwa ini langsung mengakibatkan aliran listrik ke sebagian besar wilayah pantai Timur Aceh mulai Panton Labu, Lhokseumawe, sampai Banda Aceh terputus. Menara yang ditumbangkan ini berlokasi sekitar 1 kilometer dari jalan negara Medan-Banda Aceh di kawasan Keude Alue Ie Puteh.
Aparat kepolisian harus segera mengungkap kasus ini untuk menghentikan teror yang meresahkan warga Aceh ini. Warga Kota Lhokseumawe, Surya Irawan, yang dihubungi Kompas.com dari Jakarta, Minggu mengatakan, listrik padam sejak pukul 23.30. Warga kemudian mendapat pasokan listrik bergiliran dari PLN.
Menurut warga Aceh Besar, Fithrah, listrik padam sekitar pukul 23.30 dan pulih secara bertahap 30 menit kemudian. "Kami tidak tahu siapa pelakunya namun semua ini mengarah ke suasana seperti masa lalu," ujarnya prihatin.
Warga Banda Aceh Amalia Zohra pun resah. Dia khawatir peristiwa pemadaman listrik akan berulang terjadi sehingga warga sulit beraktivitas. PLN saat ini sedang membangun menara sementara untuk memulihkan jaringan listrik kepada warga. Adapun perbaikan total membutuhkan waktu sekitar seminggu.
Menurut catatan Kompas, peristiwa menara listrik ditumbangkan di pantai Timur Aceh kerap terjadi pada Maret-Mei 2003. Kondisi ini membuat sebagian besar warga pedesaan hidup tanpa aliran listrik hingga Presiden Megawati Soekarnoputri memberlakukan status Darurat Militer di Aceh mulai 18 Mei 2003.
Sebelum peristiwa menara listrik digergaji hingga tumbang marak terjadi, penembakan misterius terhadap warga sipil juga kerap terjadi. Teror terhadap warga sipil Aceh, seperti yang sekarang terjadi, dulu juga dilakukan oleh orang tidak bertanggung jawab yang sampai kini tak terungkap.
Pada masa darurat militer, aksi-aksi penumbangan menara listrik tegangan tinggi berlanjut dengan pembakaran gedung-gedung sekolah dan pemerintah. Peristiwa yang menebarkan ketakutan rakyat di sekitar lokasi kejadian ini banyak terjadi di Aceh Utara dan Bireuen. Anehnya, menara listrik tumbang dan pembakaran gedung sekolah tak terjadi lagi begitu status darurat militer diterapkan.
Trauma atas kejadian ini membuat warga berharap aparat keamanan segera menangkap para pelaku untuk menghentikan teror tersebut. Saat ini, warga Aceh sedang menikmati kebebasan sebagai warga negara dalam suasana perdamaian.
Mereka berharap jangan sampai ada pihak tertentu memancing di air keruh dalam ketegangan para elite politik lokal berkait pelaksanaan pemilihan kepala daerah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang