Terorisme

Menara Listrik Ditumbangkan, Pantai Timur Aceh Gelap Gulita

Kompas.com - 08/01/2012, 11:51 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Satu menara tegangan tinggi yang mengalirkan listrik dari Medan ke Banda Aceh di Desa Matang Sijuk, Panton Labu, Kabupaten Aceh Utara, Aceh, roboh ditumbangkan oleh orang tidak bertanggung jawab, Sabtu (8/1/2012) pukul 23.19.

Peristiwa ini langsung mengakibatkan aliran listrik ke sebagian besar wilayah pantai Timur Aceh mulai Panton Labu, Lhokseumawe, sampai Banda Aceh terputus. Menara yang ditumbangkan ini berlokasi sekitar 1 kilometer dari jalan negara Medan-Banda Aceh di kawasan Keude Alue Ie Puteh.

Aparat kepolisian harus segera mengungkap kasus ini untuk menghentikan teror yang meresahkan warga Aceh ini. Warga Kota Lhokseumawe, Surya Irawan, yang dihubungi Kompas.com dari Jakarta, Minggu mengatakan, listrik padam sejak pukul 23.30. Warga kemudian mendapat pasokan listrik bergiliran dari PLN.

Menurut warga Aceh Besar, Fithrah, listrik padam sekitar pukul 23.30 dan pulih secara bertahap 30 menit kemudian. "Kami tidak tahu siapa pelakunya namun semua ini mengarah ke suasana seperti masa lalu," ujarnya prihatin.

Warga Banda Aceh Amalia Zohra pun resah. Dia khawatir peristiwa pemadaman listrik akan berulang terjadi sehingga warga sulit beraktivitas. PLN saat ini sedang membangun menara sementara untuk memulihkan jaringan listrik kepada warga. Adapun perbaikan total membutuhkan waktu sekitar seminggu.

Menurut catatan Kompas, peristiwa menara listrik ditumbangkan di pantai Timur Aceh kerap terjadi pada Maret-Mei 2003. Kondisi ini membuat sebagian besar warga pedesaan hidup tanpa aliran listrik hingga Presiden Megawati Soekarnoputri memberlakukan status Darurat Militer di Aceh mulai 18 Mei 2003.

Sebelum peristiwa menara listrik digergaji hingga tumbang marak terjadi, penembakan misterius terhadap warga sipil juga kerap terjadi. Teror terhadap warga sipil Aceh, seperti yang sekarang terjadi, dulu juga dilakukan oleh orang tidak bertanggung jawab yang sampai kini tak terungkap.

Pada masa darurat militer, aksi-aksi penumbangan menara listrik tegangan tinggi berlanjut dengan pembakaran gedung-gedung sekolah dan pemerintah. Peristiwa yang menebarkan ketakutan rakyat di sekitar lokasi kejadian ini banyak terjadi di Aceh Utara dan Bireuen. Anehnya, menara listrik tumbang dan pembakaran gedung sekolah tak terjadi lagi begitu status darurat militer diterapkan.

Trauma atas kejadian ini membuat warga berharap aparat keamanan segera menangkap para pelaku untuk menghentikan teror tersebut. Saat ini, warga Aceh sedang menikmati kebebasan sebagai warga negara dalam suasana perdamaian.

Mereka berharap jangan sampai ada pihak tertentu memancing di air keruh dalam ketegangan para elite politik lokal berkait pelaksanaan pemilihan kepala daerah. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau