Manila Protes Beijing

Kompas.com - 09/01/2012, 02:56 WIB

MANILA, MINGGU - Perseteruan di Laut China Selatan ”memanas” lagi. Pemerintah Filipina, sebagai salah satu pengklaim, kembali melayangkan protes keras. Dalam surat protesnya mereka menyebut, sebulan lalu tiga kapal China, salah satunya milik angkatan laut, tampak di wilayahnya.

Dalam pernyataannya, Minggu (8/1), Kementerian Luar Negeri Filipina menyebutkan, ketiga kapal tadi terlihat di dekat dangkalan (beting) Sabina, sekitar Kepulauan Spratly, pada 11-12 Desember 2011.

Dangkalan Sabina berada sekitar 124 mil laut di sebelah barat Pulau Palawan, Kepulauan Spratly, yang dinilai otomatis menjadikannya masuk dalam kawasan kedaulatan dan yurisdiksi maritim Filipina.

Kamis lalu, Kemlu Filipina juga telah memanggil Duta Besar China untuk menyampaikan ”rasa keprihatinan yang sangat serius terhadap apa yang telah terjadi dan dilakukan China di kawasan perairan Laut Filipina Barat”.

Pemerintah Filipina memang menyebut wilayah perairan itu dengan istilah Laut Filipina Barat, bukan Laut China Selatan seperti selama ini biasa dipakai.

Hal itu dilakukan untuk memperkuat klaim mereka di kawasan Kepulauan Spratly. Selain itu, Pemerintah Filipina juga menempatkan sejumlah pasukan militernya di sembilan pulau dan dangkalan di Kepulauan Spratly.

”Sejumlah penyusupan oleh China itu jelas pelanggaran terhadap Deklarasi Berperilaku Negara-Negara yang Terlibat di Laut China Selatan (DOC) ASEAN- China tahun 2002 dan Konvensi Hukum Laut Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNCLOS),” papar Kemlu Filipina.

Menurut Komandan Militer Kawasan Filipina Letjen Juancho Sabban, ketiga kapal itu tampak dalam perjalanan kembali menuju China. Mereka tidak melakukan aktivitas, seperti lego jangkar atau menaikkan atau menurunkan muatan, saat melintas di wilayah Filipina itu.

Lebih lanjut, pada Mei tahun lalu, Manila juga melontarkan tuduhan serupa terhadap China, yang mereka sebut melanggar wilayah di kepulauan itu sebanyak enam kali. Satu insiden lain terjadi Maret tahun yang sama ketika sejumlah kapal patroli China mencoba menabrak sebuah kapal survei Filipina.

Sengketa klaim kepemilikan kawasan gugus karang dan kepulauan, yang diyakini kaya sumber daya minyak dan gas bumi, memang sejak lama menjadi isu krusial kawasan. Hal itu menjadi isu krusial terutama lantaran persoalan itu juga menyangkut sejumlah negara anggota organisasi kawasan ASEAN seperti Vietnam, Malaysia, dan Brunei.

Selain diyakini kaya kandungan minyak dan gas bumi, wilayah Laut China Selatan juga terbilang sangat vital bagi lalu lintas perdagangan dan perekonomian dunia, dengan total nilai pelayaran perdagangan yang melaluinya per tahun mencapai 5 triliun dollar Amerika Serikat.

Berbeda dengan klaim kawasan yang dilakukan beberapa negara atas sebagian kawasan Laut China Selatan tadi, China justru mengklaim seluruh wilayah perairan yang luas itu sebagai wilayah teritorialnya.

China juga dinilai banyak kalangan bersikap sangat agresif dalam mempertahankan klaim teritorialnya itu, terutama ketika saat ini mereka mengalami peningkatan ekonomi, yang juga berimbas pada peningkatan alokasi anggaran pertahanan mereka.

Menanggapi protes keras Filipina tadi, Asisten Menlu China di Beijing, Liu Zhenmin, seperti diwartakan Xinhua, menyatakan, situasi di perairan itu masih ”stabil dan damai”. Selain itu, China juga akan tetap meladeni upaya negosiasi damai untuk memecahkan persoalan sengketa, baik atas kepulauan maupun batas demarkasi perairan. Dia juga menekankan, campur tangan asing dalam hal ini tidak diperlukan. (AP/REUTERS/BBC/DWA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau