Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mulai hari Minggu (8/1) melakukan lawatan selama lima hari ke sejumlah negara Amerika Latin, yaitu Venezuela, Ekuador, Nikaragua, dan Kuba.
Lawatan Presiden Iran tersebut mendapat sorotan khusus, mengingat latar belakang ketegangan hubungan Iran di satu pihak serta AS dan negara Barat di pihak lain akibat aksi saling mengancam di Selat Hormuz terakhir ini. Aksi saling mengancam itu terkait dengan isu program nuklir Iran yang hingga saat ini masih mengalami jalan buntu.
Lawatan Presiden Iran tersebut tak terlepas dari konteks bahwa kedua pihak yang berseteru itu kini sama-sama mengantisipasi kemungkinan hubungan tegang itu semakin buruk. Dalam konteks itu, Iran berusaha menjadikan kawasan Amerika Latin sebagai pasar pengganti dari kemungkinan Eropa atau negara lain menghentikan impor minyak dari
Menjelang bertolak menuju Venezuela hari Minggu lalu, Ahmadinejad mengatakan, AS selalu berkilah bahwa Amerika Latin adalah wilayah pengaruhnya, tetapi kenyataannya rakyat kawasan itu mampu bersikap independen.
Ahmadinejad juga mengungkapkan, dalam kunjungannya ke empat negara Amerika Latin akan membahas isu regional dan internasional, termasuk perilaku AS yang selalu ingin ikut campur urusan negara lain dan menyebarkan kekuatan militernya di berbagai belahan dunia.
Pakar urusan Iran asal Mesir, Dr Sulaiman Sayyid, mengatakan, lawatan Presiden Ahmadinejad itu dalam upaya meringankan blokade ekonomi Barat atas Iran dengan cara membangun koalisi dengan Amerika Latin menghadapi koalisi Barat.
Akhir-akhir ini, Ahmadinejad telah beberapa kali mengunjungi Amerika Latin. Pada tahun 2007, ia mengunjungi Amerika Latin dua kali dalam kurun waktu empat bulan. Pada akhir November tahun 2009, Ahmadinejad kembali mengunjungi Amerika Latin, termasuk Brasil.
Iran selama ini dinilai telah berhasil membangun pengaruh ekonomi di sejumlah negara Amerika Latin.
Iran dan Venezuela telah menandatangani kesepakatan pembangunan proyek bersama senilai 17 miliar dollar AS di bidang energi, konstruksi, perikanan, dan perakitan mobil.
Iran juga telah menandatangani kesepakatan proyek dengan Bolivia senilai 1 miliar dollar AS di sektor kesehatan dan pembangunan infrastruktur.
Kerja sama Iran dengan negara-negara Amerika Latin juga berkembang di bidang militer dan intelijen. Iran terus memperkuat kehadiran diplomasinya di Amerika Latin dengan membuka kedutaan di Cile, Bolivia, Nikaragua, Kolombia, dan Uruguay. Bahkan disinyalir, Iran menempatkan penasihat militer dari satuan elite pengawal revolusi di Venezuela.
Tahun 2007, Venezuela membeli pesawat tanpa awak buatan Iran tipe Muhajir 2 senilai 29 juta dollar AS. Diduga, kehadiran penasihat militer Iran di Venezuela terkait dengan penjualan peralatan militer Iran ke negara Amerika Latin tersebut.
Sebaliknya, Iran berusaha merekrut dan membina calon- calon sarjana dari Amerika Latin untuk dipekerjakan di proyek nuklir Iran dengan cara memberi beasiswa kepada mahasiswa-mahasiswa pintar di Venezuela, Kuba, dan Bolivia.
Seorang sarjana komputer asal Bolivia yang ikut program pembibitan sarjana nuklir oleh Pemerintah Iran mengungkapkan, dirinya dan sejumlah sarjana pilihan dari Amerika Latin kini sedang dikader Iran untuk menangani sistem komputer di program nuklir Iran dari ancaman serangan virus yang disusupkan Israel dan AS.
Situs Wikileaks mengutip Kedubes AS di Brasil juga mengungkapkan kecemasan AS atas bahaya segitiga Rusia, Venezuela, dan Iran di Amerika Latin.
Diungkapkan, ada kerja sama yang makin erat antara Rusia, Iran, dan Venezuela bagi terjaminnya pemasokan senjata ke negara-negara Amerika Latin.
Iran dan Venezuela selama ini memanfaatkan tingginya harga minyak untuk menghimpun dana bagi pembelian senjata buatan Rusia untuk negara-negara Amerika Latin yang anti-Barat. Iran bahkan mendanai pembelian 26 pesawat tempur buatan Rusia atas Venezuela.