Barang Bekas Bukanlah Sampah

Kompas.com - 12/01/2012, 10:10 WIB

KOMPAS.com - Para arsitek dan desainer interior melirik barang-barang seperti genteng bekas, kusen lama, ubin tegel, botol minuman dan material bekas lainnya sebagai potensi baru mempercantik hunian. Hasilnya, material bekas bukan lagi sampah yang mengganggu pemandangan, tapi menjadi barang yang tak kalah kualitasnya dengan barang baru.

Menurut Arsitek Her Pramtama dari US&P Architects, penggunaan material bekas oleh para arsitek saat ini merupakan upaya menggali kreatifitas, terutama menghadapi kompetisi dunia arsitektur yang semakin tinggi.

"Biasanya material bekas dirancang secara khusus dan membentuk karakter terhadap bangunan tersebut," katanya kepada Kompas.com di Jakarta, Kamis (12/1/2012).

Penggunaan material bekas, lanjut Pramtama, juga bagian dari upaya pendekatan bangunan hijau atau green building.

"Pemakaian material bekas tidak terbuang begitu saja, yang akhirnya hanya menjadi sampah," ujarnya.

Ia mengatakan, kesadaran masyarakat saat ini dibutuhkan untuk menggunakan konsep bangunan hijau tidak hanya berlaku untuk bangunan atau gedung bertingkat saja. Semua bangunan baik dari skala kecil sampai besar dapat menerapkan konsep bangunan hijau.

"Intinya adalah memperhatikan aspek kenyamanan dan hemat energi," kata dia.

Selain itu, dalam pendekatan bangunan hijau, aspek yang diperhatikan adalah kaitan arah bangunan dengan fungsi ruang di dalamnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau