Laba-Laba Mata Kecil Ditemukan di Menoreh

Kompas.com - 12/01/2012, 15:18 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Ilmuwan Indonesia menemukan spesies laba-laba gua eksotis di bukit Menoreh, Jawa Tengah. Penemuan Cahyo Rahmadi dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini membuka penemuan spesies baru Indonesia di tahun 2012.

"Jenis baru laba-laba ini diberi nama Amauropelma matakecil karena memiliki mata yang mengecil dan menyisakan bintik-bintik putih di bagian kepalanya," kata Cahyo kepada Kompas.com, Kamis (12/1/2012).

Penemuan laba-laba mata kecil ini adalah hasil kerjasama Cahyo dengan Jeremy Miller dari Naturalis Leiden, Belanda.

Laba-laba ini berwarna putih pucat dan memiliki kaki yang memanjang, berbeda dengan laba-laba dari luar gua. Selama ini, laba-laba gua di Jawa tak banyak diketahui. Spesies laba-laba gua Jawa yang umumnya dikenal adalah Althephus javanensis.

Cahyo mengungkapkan, laba-laba gua yang tergolong dalam famili Ctenidae ini dimasukkan dalam marga Amauropelma. Meski demikian, penempatan dalam marga ini masih perlu dikaji lebih lanjut. Sampai saat ini marga inilah yang paling cocok.

Penemuan laba-laba marga Amauropelma adalah pertama di Jawa sebab umumnya marga Amauropelma ditemukan di Australia. Sejauh ini, marga Amauropelma di Jawa hanya ditemukan di tiga gua kawasan bukit Menoreh, pegunungan karst perbatasan barat DI Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Cahyo menuturkan, "Amauropelma matakecil merupakan salah satu jenis yang unik, karena dari beberapa kali usaha koleksi dari gua-gua di Menoreh hanya diperoleh spesimen betina. Spesimen jantan yang penting untuk memastikan identitas jenis ini gagal diperoleh setelah tiga kali usaha pencarian."

Ada dugaan bahwa laba-laba gua ini merupakan jenis parthenogetik, atau organisme yang lahir dari telur-telur yang tidak dibuahi. Namun demikian, dugaan ini masih perlu diteliti lebih lanjut.

Dalam publikasi penelitian di jurnal Zookeys, Senin (9/1/2012), Cahyo menuturkan, "A. matakecil adalah laba-laba gua paling luar biasa dari Jawa karena ukurannya yang besar, matanya yang mengecil dan kepentingan konservasi."

Tercatat dalam pengukuran spesimen betina yang didapatkan, ukuran karapas laba-laba gua ini 3,4 x 2,2 cm, sementara ukuran abdomen atau perutnya adalah 4,12 x 2,64 cm. Total panjang laba-laba gua ini adalah 7,7 cm.

Sementara, dari sisi biodiversitas, laba-laba ini membuktikan bahwa bukit Menoreh kaya akan keanekaragan hayati yang perlu diungkap. Perhatian pada penelitian eksplorasi spesies di wilayah itu diperlukan.

Wilayah Bukit Menoreh saat ini tengah terancam oleh pembukaan pabrik semen di beberapa wilayah. Dengan sendirinya, hal ini menjadi ancaman juga bagi A. matakecil dan spesies lain yang belum terungkap.

"Kebutuhan yang mendesak saat ini adalah perlunya rencana strategis ke depan untuk pengelolaan kawasan karst sehingga dapat diselamatkan dan dimanfaatkan tanpa merusak dan menghilangkan potensi yang ada di dalamnya baik potensi biologi, hidrologi maupun potensi lain yang tidak dapat dinilai dengan uang," ujar Cahyo.

Klasifikasi :

Kelas : Arachnida

Ordo : Araneae

Famili : Ctenidae

Marga : Amauropelma

Jenis : Amauropelma matakecil Miller & Rahmadi, 2012

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau