Warga Mesuji Diminta Menahan Diri

Kompas.com - 12/01/2012, 20:24 WIB

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com — Pemerintah Provinsi Lampung meminta warga Mesuji menahan diri dan tidak memaksakan diri mengusir atau berkonflik dengan warga perambah yang kini makin banyak menguasai wilayah Hutan Register 45 Mesuji, Lampung.

"Kami minta warga menahan diri, tidak emosi, sehingga tidak terjadi persoalan baru. Menteri Kehutanan sudah mengatakan, tidak mungkin kawasan hutan dibagi-bagikan ke perambah," tutur Asisten Daerah I Bidang Pemerintahan Provinsi Lampung Tarmizi Nawawi, Kamis (12/1/2012) di Bandar Lampung.

Menurut dia, dalam waktu dekat, pihaknya akan melakukan pendataan kepada warga yang kini menguasai kembali wilayah Register 45 Mesuji.

"Bagi perambah, kami imbau untuk kembali ke daerah masing-masing. Kami juga akan meminta bupati dari daerah asal (mereka) untuk menjemput warganya," tuturnya.

Sebelumnya, dalam unjuk rasa pada Kamis pagi, sejumlah warga Mesuji mengungkapkan kemarahannya terhadap para perambah yang mengklaim hak tanah ulayat atas kawasan di Register 45 Mesuji.

Warga Mesuji asli ini meminta pemerintah mengusir mereka karena telah mengusik ketenangan dan membuat citra Mesuji rusak.

Akibat perambahan itu, ribuan warga lokal Mesuji yang menggantungkan hidupnya dari bekerja mengurus perkebunan milik perusahaan kini tidak bisa bekerja.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau