KOMPAS.com - Data Bank Dunia (WB) menunjukkan ada empat negara Asia yakni Hongkong, Singapura, Thailand, dan Filipina yang meninggalkan Indonesia soal kemampuan membaca anak sekolah dasar (primary school). Laporan WB bertajuk Education in Indonesia from Crisis to Recovery menempatkan Indonesia dalam perolehan poin 51,7. Berturut-turut, Hongkong mencatatkan poin 75,5, Singapura (74,0), Thailand (65.1), dan Filipina (52,6).
Sementara itu, data dari International Associations for Evaluation of Educational (IEA) juga menunjukkan kemampuan membaca murid SD di Tanah Air berada di urutan 29 dari 30 negara yang diteliti. Lantaran itulah, menurut tes Trends in Science Study (TIMSS) terhadap siswa di 50 negara, prestasi siswa Indonesia ada di urutan 36 untuk kemampuan penguasaan bidang ilmu pengetahuan dan matematika.
Informasi itu muncul dalam seminar sekaligus peluncuran majalah anak Katolik Indonesia, Mogi, pada Sabtu (14/1/2012), di Aula Gereja Santo Stefanus, Cilandak, Jakarta Selatan. "Ini menjadi keprihatinan," kata Dr. C.B. Kusmaryanto, SCJ, pastor sekaligus dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Pascasarjana Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Berangkat dari situlah, sebagaimana juga diamini oleh pembicara dalam seminar bertajuk "Empowering Karakter Iman Anak Katolik Indonesia" itu yakni psikolog Bernadet Arijanti Carolina dan pembimbing anak F.A. Tri Agus Winarko, orang tua mesti menyediakan ruang yang luas bagi anak-anak untuk menumbuhkan kebiasaan membaca tersebut.
Ketiganya juga sepakat kalau media massa menjadi salah satu sarana yang bisa dimanfaatkan untuk tujuan tersebut. Dalam hal ini, seturut perkembangan zaman, harus ada pula kombinasi media baik cetak maupun maya untuk mewujudkan kebiasaan membaca lebih membaik.
Sementara, menurut pengurus Mogi, FX Hasiholan Siagian, pihaknya mengupayakan agar anak-anak bisa memanfaatkan versi cetak dan maya media secara optimal. Alamat www.majalahmogi.com adalah versi maya media ini. "Kuis di versi cetak memiliki kunci jawaban di versi maya," katanya.