Perancis

Peringkat Turun, Sarkozy Terancam

Kompas.com - 15/01/2012, 01:52 WIB

PARIS, Sabtu - Presiden Perancis Nicolas Sarkozy menghadapi entakan besar. Lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor’s, Jumat (13/1), telah menurunkan peringkat utang AAA menjadi AA+. Peringkat utang AA+ sebenarnya masih tergolong aman, tetapi perubahan sedikit saja dalam status utang amat berisiko bagi sebuah negara.

Keputusan S&P ini benar-benar mempermalukan Sarkozy. Belum lama ini, Sarkozy pernah mengatakan, ”Jika peringkat Perancis turun, matilah saya.” Sarkozy akan menghadapi pemilu presiden pada tahun ini.

S&P juga menurunkan peringkat utang Italia dan Spanyol, tetapi masih tetap mempertahankan peringkat AAA untuk Jerman, Belgia, Luksemburg, Austria, dan Finlandia. S&P juga menurunkan peringkat utang Portugal, Siprus, Malta, Slowakia, dan Slovenia.

Penurunan peringkat ini dilakukan sehubungan timbunan utang yang terus membesar. Perancis memiliki utang 1,3 triliun euro dan diperkirakan akan semakin berisiko untuk tidak terbayar. ”Dalam pandangan kami, kebijakan ekonomi yang diambil para pembuat kebijakan Eropa tidak memadai untuk mengatasi tekanan ekonomi,” demikian pernyataan S&P.

Penurunan peringkat ini bisa berdampak pada semakin mahalnya suku bunga pinjaman bagi Pemerintah Perancis. Kenaikan suku bunga sedikit saja sangat memberatkan Perancis dan juga negara-negara maju lainnya karena kelompok negara maju ini sudah sangat susah meraih pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Namun, ada juga yang menyepelekan arti dari penurunan peringkat itu. ”Ini hanya menjadi berita buruk selama satu atau dua hari,” kata Jacob Funk Kirkegaard, seorang peneliti di Peterson Institute for International Economics. Ia menambahkan, ”Tidak akan ada yang terlalu meresahkan. Isu ini akan segera terlupakan.”

Guy LeBas, ahli keuangan Janney Montgomery Scott, berkata lain. ”Ada alasan bagi kita untuk khawatir,” ujarnya. Masalahnya, Perancis adalah salah satu raksasa ekonomi Eropa bersama Jerman dan Italia. Perekonomian Italia sudah berat setelah mengalami penurunan peringkat.

Dengan turunnya peringkat utang dua dari tiga raksasa ekonomi zona Eropa, kini hanya Jerman yang menjadi andalan. Jerman tidak mungkin bisa menanggung beban ekonomi zona euro sendiri. Dengan turunnya peringkat utang Perancis, pengisian dana talangan untuk kawasan zona euro yang sedang goyah dan terlilit utang semakin berat. Tidak heran jika Kanselir Jerman, Angela Merkel, Sabtu, di Berlin, mengatakan bahwa kini semakin sulit bagi zona euro untuk meraih kepercayaan pasar.

Menteri Keuangan Perancis Francois Baroin mengatakan, penurunan peringkat itu bukan sebuah katastrofa. Ia mengatakan, peringkat Perancis relatif tetap kuat walaupun sudah turun.

Peringkat utang AAA berarti pembayaran utang mutlak aman dari segala risiko. Dengan status utang AA+, keamanan yang mutlak itu memudar karena ada risiko utang tak terbayar jika krisis ekonomi memburuk. ”AS juga sudah mengalami penurunan peringkat tahun lalu. Anda harus relatif tenang atau tidak perlu khawatir,” kata Baroin.

Oposisi ambil kesempatan

Penurunan peringkat ini langsung dimanfaatkan Francois Hollande, salah satu pesaing Sarkozy dalam pemilu presiden tahun ini. ”Ini artinya peringkat politik Sarkozy otomatis turun, bukan peringkat Perancis,” kata Hollande.

Media-media Perancis juga sarat dengan nuansa pemberitaan keresahan pada Sabtu. Pada umumnya media memusatkan perhatian pada isu bahwa Perancis telah terdepak dari kelas elite ekonomi zona euro. Media Perancis mengatakan, negara mereka kini berbeda dengan Jerman yang masih bisa mempertahankan reputasi.

Harian Le Parisien di halaman depan menuliskan bahwa penurunan peringkat akan membuat korporasi Perancis berpotensi menghadapi kredit bermasalah dan juga berpotensi menaikkan pajak.

Sarkozy mengadakan pertemuan dengan para menteri bidang ekonomi di Paris, Jumat. Dia kini diduga sedang merasakan hal yang memalukan. Bulan lalu, ia sesumbar dengan mengatakan bahwa dia adalah calon presiden Perancis paling layak sekarang ini. Alasannya, dia adalah tokoh yang paling paham ekonomi dan tahu cara mengatasi masalah perekonomian.

”Perlindungan Presiden sudah berakhir,” demikian dikatakan Marine Le Pen, pemimpin Front Nasional, yang termasuk sayap kanan.

Penurunan peringkat Perancis didasarkan pada kinerja ekonomi yang buruk. Penganggur di negara itu sudah mencapai 3 juta jiwa. INSEE, kantor statistik nasional Perancis, menyebutkan bahwa perekonomian Perancis akan memasuki resesi atau penurunan pertumbuhan ekonomi dua kuartal berturut-turut.

Ekonomi Perancis mengalami kemerosotan 0,2 persen selama kuartal terakhir 2011. Pada kuartal pertama 2012, ekonomi Perancis akan mengalami kontraksi lanjutan sebesar 0,1 persen.

Perdana Menteri Perancis Francois Fillon, Sabtu, di Paris, mengatakan, penurunan peringkat itu sebenarnya sudah diperkirakan.

Sarkozy sendiri diduga kuat akan menjadikan penurunan peringkat itu sebagai dorongan utama melakukan reformasi ekonomi. Namun, tidak jelas reformasi ekonomi apa lagi yang akan dilakukan Perancis.

Pilihan kebijakan ekonomi yang diambil zona euro untuk memperbaiki perekonomian semakin sempit. Kenaikan pajak dan pengurangan pengeluaran pemerintah demi penghematan adalah pilihan utama, tetapi selalu mendapatkan tantangan dari warga. Perancis dan negara maju lainnya kini juga sudah kesulitan meraih pertumbuhan ekonomi sehubungan dengan penduduk yang menua. (AP/AFP/REUTERS/MON)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau