Gki taman yasmin

Lily Wahid: Tanah GKI Pernah Ditawar

Kompas.com - 15/01/2012, 16:06 WIB

BOGOR, KOMPAS.com- Anggota Komisi I DPR RI Lily Wahid mengungkapkan, lahan Gereja Kristen Indonesia Taman Yasmin di Bogor Barat, Kota Bogor, ternyata pernah ditawar untuk dibeli oleh seseorang, tetapi kemudian ditolak. "Tanah GKI itu diinginkan seseorang dan ada yang menawar ke GKI," tutur Lily seusai melihat ibadah jemaat GKI Taman Yasmin di salah satu rumah jemaat, Minggu (15/1/2012).

Menurut adik kandung mantan Presiden Abdurrahman Wahid itu, penawar tidak mengatakan akan digunakan untuk apa lahan itu. Lily berharap sikap Wali Kota Bogor Diani Budiarto yang enggan melaksanakan putusan Mahkamah Agung terkait GKI Yasmin bukan karena latar itu.

Bona Sigalingging, juru bicara GKI Taman Yasmin membenarkan hal itu. Menurut dia, memang ada orang tak dikenal menawar lahan GKI Yasmin, tak lama setelah pemerintah kota menawarkan relokasi dan sudah menyediakan anggaran Rp 3,5 miliar.

Sementara itu, Wali Kota Bogor Diani Budiarto belum bisa dikonfirmasi terkait hal itu. Namun, dalam beberapa kali wawancara Diani menilai pihaknya mencabut IMB GKI Taman Yasmin karena ada prosedur yang tidak benar, berupa pemalsuan tanda tangan persetujuan warga.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau