Sinergi, Kunci Atasi Impor Ikan

Kompas.com - 17/01/2012, 04:32 WIB

Jakarta, Kompas - Upaya industrialisasi perikanan nasional membutuhkan sinergi pemerintah, perbankan, dan pelaku usaha perikanan dari hulu ke hilir. Sistem pendataan, logistik, dan transportasi agar dibenahi. Biaya transportasi yang mahal menyebabkan harga ikan ke industri ikut mahal.

Hal itu terungkap dalam Seminar Industrialisasi Perikanan: Pemetaan Logistik dan Distribusi Solusi Menuju Industrialisasi Perikanan, yang diselenggarakan Komunitas Wartawan Kelautan dan Perikanan, di Jakarta, Senin (16/1).

Ketua Tim Percepatan Investasi Pulau-pulau Kecil Rokhmin Dahuri mengemukakan, sistem logistik ikan nasional meliputi penyediaan gudang pendingin, pembenahan transportasi, dan jaminan pasar merupakan kunci mengatasi masalah ketergantungan impor ikan dan membangkitkan industri perikanan nasional.

Ia menambahkan, persoalan logistik mengakibatkan ikan hasil tangkapan nelayan yang berlimpah sewaktu panen tidak tertampung, bahkan terbuang. Namun, saat terjadi cuaca buruk dan paceklik produksi, terjadi kelangkaan bahan baku untuk usaha pengolahan ikan.

Perbaikan logistik ikan juga perlu ditopang dengan pembangunan pabrik es, industri pengolahan yang mendekati hulu produksi perikanan, serta jaminan pembelian harga ikan sesuai dengan harga keekonomian.

”Kalau pemerintah ingin serius memecahkan dilema produksi antara hulu dan hilir, perlu prasarana dan sarana menyimpan ikan,” ujarnya.

Saat ini, sentra produksi penangkapan ikan terletak di wilayah Indonesia timur. Sementara industri pengolahan ikan masih terpusat di Jawa dan Sumatera. Biaya transportasi yang mahal menyebabkan harga ikan ke pusat industri pengolahan menjadi tidak efisien dan kerap lebih mahal daripada ikan impor.

Vice President Retail Business Division BNI Edy Awaludin mengemukakan, sejak pihaknya menandatangani nota kesepahaman dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk penyaluran kredit sektor perikanan tahun 2010, masih terdapat sejumlah hambatan untuk membiayai nelayan dan sektor perikanan tangkap.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Kelautan dan Perikanan Yugi Prayanto mengemukakan, pihaknya siap mendukung pengadaan gudang pendingin di pasar tradisional guna mendukung penyimpanan ikan. Gudang pendingin direncanakan di lima kota dengan kapasitas masing-masing 15 ton.

Sementara itu, Direktur Utama PT Perikanan Nusantara Nasrun M Patadjai mengemukakan, pihaknya kini fokus pada usaha pengangkutan dan pengolahan ikan.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo mengemukakan, pihaknya sedang menginventarisasi pembangunan gudang pendingin dan pabrik es di pangkalan pendaratan ikan dan pelabuhan.

Jumlah pangkalan pendaratan ikan saat ini sebanyak 816 unit. Meski demikian, pembangunan sarana itu harus didukung kesiapan pemerintah daerah untuk mengoperasikan.

Pembangunan gudang pendingin diprioritaskan ke Indonesia bagian timur. (LKT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau