Kerinduan Endi pada Rumah Si Mbah

Kompas.com - 17/01/2012, 13:55 WIB

KOMPAS.com - Penatnya kehidupan kota Jakarta, bagi Rachmani Endrawati, akan cepat terobati ketika pulang ke rumahnya di bilangan Tebet Barat, Jakarta Selatan. Rasa lelah secepat kilat berganti begitu memasuki rumah bergaya Jawa, yang kental dengan sapuan cat warna hijau kuning tua itu, hingga mengingatkan kembali akan kenangan zaman dulu.

"Serasa seperti bukan di Jakarta, kan?" tanya Endi, panggilan akrab perempuan kelahiran Surabaya, 1 Oktober 1961, ini.

Pemilik butik "Nila Kandi" ini lalu menuturkan, bahwa ide membuat rumah ini berawal dari kerinduannya akan rumah nenek kakeknya di Surabaya.

"Idenya memang sejak dari dulu, saya suka dengan rumah si Mbah. Bergaya Jawa, terasa adem, asri, dan nyaman. Lalu, melihat rumah-rumah seperti ini di Yogyakarta, semakin kepengin banget," tuturnya.

Endi lupa kapan tepatnya tanah seluas 540 meter persegi ini berhasil dibelinya. Namun, sekitar tahun 2000, rumah Jawa-nya ini telah berdiri lengkap dengan aksesorisnya yang matching.

Dulunya, lanjut dia, di tanah ini berdiri rumah bergaya art deco. Namun, karena ahli konstruksi mengatakan rumah ini tidak layak huni, akhirnya dirobohkan dan dibuatlah rumah Jawa ini.

"Pokoknya harus seperti rumah si Mbah, itu cita-cita saya," kata ibu tiga anak ini.

Barang antik

Dibantu sang adik, arsitek Rachmadi Triatmojo, rumah bernuansa seperti di kampung ndeso yang adem ini akhirnya terwujud. Tak main-main, dari pintu masuk, teras, ruang tamu, kamar, sampai gudang benar-benar dikemas dalam paduan warna yang serasi berikut furnitur dan aksesorisnya.

"Rumah ini detail, dan semuanya harus pas. Saya enggak mau ada campuran konsep-konsep lain. Karena itu, saya sengaja berburu semua furnitur dan aksesoris," kata penyuka olahraga sepeda gunung ini.

Endi pun menceritakan kisahnya berburu barang-barang dan konsep rumahnya sampai enam bulan di Yogyakarta.

"Saya hunting di Kota Gede dan beberapa tempat lainnya, bahkan sampai akrab sama tukang becak yang mengantar ke sana kemari. Untuk kamar mandi itu idenya dari Hotel Majapahit, benar-benar detail, karena saya foto satu per satu," ceritanya.

Untuk furnitur, kata Endi, ada yang didapatkannya di Ciputat dan Surabaya. Ia pun siap membawa meteran untuk mengukur furnitur agar pas dengan luas ruangan di rumahnya.

Menurutnya, barang-barang antik dan material bekas tidak mahal, namun memang membutuhkan usaha dan ketelatenan dalam proses pencariannya.

Rumah Endi bersama suaminya David Cheadle, dikonsep dengan banyak bukaan sehingga tidak tergantung dengan pemakaian AC. Untuk pencahayaan pun tidak boros, karena konsep rumah terbukanya itu terbukti sukses. Hanya, ia sengaja tidak memasang lampu neon karena kesan yang muncul adalah modern.

"Di dalam kamar, saya memasang kelambu seperti kamar tidur jaman dulu. Kadang kalau sedang kepengin, saya tidur dengan jendela terbuka dan kelambu tertutup. Nyenyak sekali," ujar pemilik butik dengan 10 gerai ini.

Tanaman zaman dulu

Konsep "zaman doeloe" ini benar-benar dituangkan secara total oleh Endi. Hal ini terlihat sampai pada pilihan tanaman.

Penyuka fotografi ini memilih tanaman lewat ingatannya pada kenangan masa kanak-kanaknya. Seperti tanaman bunga Wijaya Kusuma yang menghiasi taman batu batanya. Kemudian, tanaman bunga Kanthil, Tanjung, dan Kaca Piring dengan wewangiannya yang begitu khas.

Untuk perawatan, Endi mengaku tak banyak direpotkan dengan tanaman-tanaman ini. Ia mengaku cukup rajin membersihkan, sehingga rumahnya tetap terlihat asri dan menawan. Perawatan rutin itu dilakukan untuk taman di dalam rumah, seperti menggosok batu bata yang menjadi pijakan taman.

"Rumah ini sudah sekitar 10 tahun, tapi masih belum direnovasi. Selain masih bagus, kalau semakin tua, bukannya semakin menarik?" canda Endi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau