Kebiasaan Buruk di Masa Muda yang Bikin Sakit

Kompas.com - 18/01/2012, 16:17 WIB

KOMPAS.com - Ada pepatah mengatakan, "apa yang kamu tabur, itulah yang kamu tuai". Pepatah ini sepertinya dapat menjadi gambaran atau tolak ukur dalam memprediksi kondisi kesehatan seseorang di kemudian hari. Ya, kebiasaan hidup buruk di masa lampau (masa muda) sudah tentu akan memicu perkembangan penyakit di masa akan datang.

Berikut ini adalah 5 (lima) kebiasaan buruk di masa muda yang akan berpengaruh terhadap perkembangan suatu penyakit di masa dewasa dan usia lanjut :

1. Memiliki banyak pasangan seksual

Melakukan hubungan seks ketika masih masih muda dan juga sering berganti-ganti pasangan menempatkan Anda pada risiko penyakit menular seksual. Wanita yang sering berganti pasangan memiliki risiko, lebih tinggi untuk mendapatkan HPV (human papillomavirus), yang dapat menyebabkan kanker serviks.

Kabar baiknya : HPV dapat dicegah. Jika Anda masih lajang dan aktif secara seksual, tanyakan dokter spesialis kandungan tentang bagaimana cara mendapatkan vaksin HPV (dan pastikan untuk melakukan tes pap smear setiap tiga tahun). Untungnya lagi, HPV tidak akan memengaruhi tingkat kesuburan Anda alias tidak bikin mandul.

2. Menghisap ganja atau rokok

Asap ganja memiliki kandung zat berbahaya seperti hidrokarbon sekitar 50-70 persen, lebih karsinogenik ketimbang asap rokok. Bahkan asap ganja juga memiliki kandungan enzim yang dapat mengubah komponen asap menjadi kanker. Sedangkan rokok, sejak dulu sudah diketahui sebagai pencetus dari beberapa penyakit mematikan seperti kanker paru, jantung, stroke dan impotensi.

Kabar baiknya: Meskipun jaringan paru-paru yang rusak tidak akan tumbuh kembali dengan sendirinya, tapi kita dilahirkan dengan banyak jaringan paru-paru. Jika Anda berhenti merokok selama satu tahun, risiko serangan jantung yang berhubungan dengan merokok berkurang sebanyak 50 persen, dan dalam 10 tahun, risiko kematian akibat kanker paru-paru juga berkurang setengahnya.

3. Tinggal di daerah tinggi polusi

Paru-paru anak kecil umumnya jauh lebih rentan mengalami kerusakan akibat polusi udara ketimbang orang dewasa. Jika Anda terpapar terlalu lama dengan polusi, maka risiko kerusakan pada paru-paru menjadi lebih besar. Sebuah riset menunjukkan bahwa paparan polusi selama beberapa tahun dapat meningkatkan risiko kanker paru sekitar 25 persen. Bahkan, menghirup polusi terlalu banyak hampir sama buruknya dengan orang yang merokok.

Kabar baiknya: Sekali lagi, jaringan paru-paru yang rusak tidak akan tumbuh kembali dengan sendirinya. Tapi dengan menjalani pola hidup sehat mulai dari sekarang dengan menghindari udara kotor, berolahraga, makan yang benar dan tidak merokok, Anda pasti bisa menangkis berbagai serangan penyakit.

4. Berjemur di terik matahari 

Bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di iklim tropis, kebiasaan berjemur di bawah terik matahari mungkin tidak terlalu lazim. Tapi beberapa tipe pekerjaan seperti nelayan, petani, dan pekerja bangunan yang sering beraktivitas di luar ruangan mungkin perlu berhati-hati.

Riset menunjukkan, hampir 80 persen penyakit yang diakibatkan paparan sinar matahari terjadi sebelum usia 18 tahun. Paparan sinar matahari yang tinggi memungkinkan Anda mengalami kerutan, bintik-bintik, bercak dan perubahan warna kulit di kemudian hari. Bahkan pada beberapa kasus, kondisi ini dapat mengarah ke timbulnya kanker kulit di kemudian hari.

Kabar baiknya : Kondisi ini sebenarnya tidak perlu terjadi apabila Anda menggunakan tabir surya saat berada di luar rumah. Cara ini dapat mengurangi risiko perkembangan kanker kulit, keriput dan perubahan warna pada kulit.

5. Konsumsi alkohol

Sebuah riset yang melibatkan sekitar 3.803 orang dewasa diketahui bahwa mereka yang merupakan mantan peminum berat dilaporkan cenderung lebih mudah mengalami depresi, masalah jantung, bronkitis kronis, dan diabetes setelah usia 40 tahun.

Kabar baiknya : Berhenti atau membatasi konsumsi alkohol merupakan cara terbaik untuk menghindari semua bentuk ancaman penyakit yang dipicu konsumsi alkohol. Sebagai contoh : sebuah studi menunjukkan, terjadi penurunan risiko kanker esofagus pada mereka yang berhenti minum alkohol setelah satu dekade. Kanker esofagus adalah kanker yang menyerang saluran cerna yang berada pada tenggorokan di mana menghubungkan rongga mulut dengan lambung.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau