Prasarana pendidikan

Ratusan Ruang Kelas Rusak di Madiun dan Batam

Kompas.com - 19/01/2012, 02:50 WIB

Madiun, Kompas - Sebanyak 638 ruang kelas sekolah dasar di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, rusak parah dan nyaris ambruk. Kerusakan itu terjadi karena gedung-gedung tersebut umumnya dibangun pada tahun 1980 dan belum pernah diperbaiki. Padahal, selama ini sudah terjadi pelapukan yang parah.

Pengabaian itu mengakibatkan Enggar Pramesti (30), guru tidak tetap di Sekolah Dasar Negeri 02 Kranggan, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, Rabu (18/1), pukul 10.15 WIB, menderita luka di kepala karena tertimpa plafon ruang kelas yang tiba-tiba ambrol saat sedang mengajar di ruang kelas IV. Kepala dan pelipis kirinya mengalami luka serius.

”Waktu ngajar IPA, bu guru (Enggar Pramesti) berdiri di depan kelas di samping papan tulis. Tiba-tiba atap roboh menimpa kepala bu guru. Dia kaget, terus langsung pegang kepalanya yang berdarah,” kata Yoga (10), siswa kelas IV.

Kepala SDN 02 Kranggan Poniran mengatakan, kondisi ruang kelas IV memang tidak layak untuk kegiatan belajar-mengajar. Di bagian atap ruangan rusak parah akibat pelapukan kayu penyangga. Itu diperparah dengan banyaknya genteng yang rusak sehingga memicu kebocoran saat hujan mengguyur.

Meski kondisi ruang kelas tak layak pakai, tetapi pihaknya tetap menggunakannya untuk belajar- mengajar, kecuali saat hujan. Alasannya, tidak ada lagi ruang lain yang layak digunakan.

”Untuk mengantisipasi ambruknya atap ruang kelas, kami sudah memasang penyangga dari bambu di empat ruang. Ini sudah berlangsung tiga tahun,” ujar Poniran.

Pada Oktober 2011 atap gedung SD Negeri II Kwangsen, Kecamatan Jiwan, juga ambruk dan nyaris menimpa kepala sekolah dan bendahara sekolah. Gedung ini pun dibangun tahun 1980, tetapi belum direnovasi.

Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan Kabupaten Madiun Adrianto mengakui buruknya kondisi 638 ruang kelas SD di wilayah tersebut. Karena itu, pada tahun 2012 ini itu menjadi prioritas perbaikan.

”Rencananya rehab ruang kelas yang rusak dilakukan mulai Maret. Kami sudah mengalokasikan anggaran dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) pos DAK (dana alokasi khusus) tahun anggaran 2011 dan 2012,” ujarnya.

Sementara itu di Batam, sebagian murid SMKN 3 Batam, Kepulauan Riau, belajar di lantai mushala dan ruang praktik. Sekolah dengan 16 kelas itu hanya punya delapan ruang kelas.

Kepala SMKN 3 Batam Lea Lindrawijaya mengatakan, delapan ruang kelas digunakan secara bergantian pelajar dari enam program studi. Saat ini, lima dari 16 kelas itu sedang praktik lapangan di luar sekolah selama satu semester. ”Sekarang kekurangan ruang masih bisa disiasati. Nanti kalau mereka masuk, akan lebih sulit mengatur penggunaan ruang,” ujarnya.

Saat ini, delapan kelas bisa mendapat ruangan kegiatan belajar-mengajar. Dua kelas lain belajar di ruang praktikum dan satu lagi di mushala. Di ketiga ruangan itu, para pelajar duduk di lantai. Ini harus dilakukan karena sebagian pelajaran masih teori.

Sementara itu, ratusan pelajar SMA 17 Batam malah sama sekali tidak punya ruang kelas. Sekolah mereka tidak kunjung selesai dibangun. Para pelajar SMA terpaksa menumpang di SMP 27 yang berdekatan dengan SMA 17. Karena menumpang di sekolah lain, kegiatan belajar sekolah itu dimulai siang hari.

”Kasihan anak-anak itu kalau belajar pada siang hari seperti ini terus-menerus. Saya tidak yakin mereka bisa berkonsentrasi belajar,” ujar Imran Sani, salah seorang warga di sekitar SMA 17 Batam. (RAZ/NIK)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau