Madiun, Kompas -
Pengabaian itu mengakibatkan Enggar Pramesti (30), guru tidak tetap di Sekolah Dasar Negeri 02 Kranggan, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, Rabu (18/1), pukul 10.15 WIB, menderita luka di kepala karena tertimpa plafon ruang kelas yang tiba-tiba ambrol saat sedang mengajar di ruang kelas IV. Kepala dan pelipis kirinya mengalami luka serius.
”Waktu ngajar IPA, bu guru (Enggar Pramesti) berdiri di depan kelas di samping papan tulis. Tiba-tiba atap roboh menimpa kepala bu guru. Dia kaget, terus langsung pegang kepalanya yang berdarah,” kata Yoga (10), siswa kelas IV.
Kepala SDN 02 Kranggan Poniran mengatakan, kondisi ruang kelas IV memang tidak layak untuk kegiatan belajar-mengajar. Di bagian atap ruangan rusak parah akibat pelapukan kayu penyangga. Itu diperparah dengan banyaknya genteng yang rusak sehingga memicu kebocoran saat hujan mengguyur.
Meski kondisi ruang kelas tak layak pakai, tetapi pihaknya tetap menggunakannya untuk belajar- mengajar, kecuali saat hujan. Alasannya, tidak ada lagi ruang lain yang layak digunakan.
”Untuk mengantisipasi ambruknya atap ruang kelas, kami sudah memasang penyangga dari bambu di empat ruang. Ini sudah berlangsung tiga tahun,” ujar Poniran.
Pada Oktober 2011 atap gedung SD Negeri II Kwangsen, Kecamatan Jiwan, juga ambruk dan nyaris menimpa kepala sekolah dan bendahara sekolah. Gedung ini pun dibangun tahun 1980, tetapi belum direnovasi.
Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan Kabupaten Madiun Adrianto mengakui buruknya kondisi 638 ruang kelas SD di wilayah tersebut. Karena itu, pada tahun 2012 ini itu menjadi prioritas perbaikan.
”Rencananya rehab ruang kelas yang rusak dilakukan mulai Maret. Kami sudah mengalokasikan anggaran dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) pos DAK (dana alokasi khusus) tahun anggaran 2011 dan 2012,” ujarnya.
Sementara itu di Batam, sebagian murid SMKN 3 Batam, Kepulauan Riau, belajar di lantai mushala dan ruang praktik. Sekolah dengan 16 kelas itu hanya punya delapan ruang kelas.
Kepala SMKN 3 Batam Lea Lindrawijaya mengatakan, delapan ruang kelas digunakan secara bergantian pelajar dari enam program studi. Saat ini, lima dari 16 kelas itu sedang praktik lapangan di luar sekolah selama satu semester. ”Sekarang kekurangan ruang masih bisa disiasati. Nanti kalau mereka masuk, akan lebih sulit mengatur penggunaan ruang,” ujarnya.
Saat ini, delapan kelas bisa mendapat ruangan kegiatan belajar-mengajar. Dua kelas lain belajar di ruang praktikum dan satu lagi di mushala. Di ketiga ruangan itu, para pelajar duduk di lantai. Ini harus dilakukan karena sebagian pelajaran masih teori.
Sementara itu, ratusan pelajar SMA 17 Batam malah sama sekali tidak punya ruang kelas. Sekolah mereka tidak kunjung selesai dibangun. Para pelajar SMA terpaksa menumpang di SMP 27 yang berdekatan dengan SMA 17. Karena menumpang di sekolah lain, kegiatan belajar sekolah itu dimulai siang hari.
”Kasihan anak-anak itu kalau belajar pada siang hari seperti ini terus-menerus. Saya tidak yakin mereka bisa berkonsentrasi belajar,” ujar Imran Sani, salah seorang warga di sekitar SMA 17 Batam.