JAKARTA, KOMPAS.com — Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menyatakan keseriusannya mendorong lebih banyak masyarakat ke sekolah menengah kejuruan (SMK). Akan tetapi, upaya untuk "memopulerkan" SMK akan dilakukan secara bertahap dan alamiah. Hal itu diungkapkan Direktur Jenderal Pendidikan Menengah Kemdikbud Hamid Muhammad kepada Kompas.com, Rabu (18/1/2012) malam di Jakarta.
Menurut Hamid, saat ini jumlah siswa SMK dan SMA cukup seimbang dengan proporsi 50:50 dari jumlah seluruhnya (SMA/MA/SMK) yang mencapai 11,34 juta siswa.
"Ke depan memang kita dorong untuk masyarakat yang ingin langsung bekerja agar masuk ke SMK. Tapi kita tidak bisa menyulap, semua tergantung potensi daerah, dan secara alamiah proporsinya akan kita dorong menjadi 60:40," ujar Hamid.
Ia menjelaskan, SMK dan SMA memiliki segmentasi yang berbeda. SMK lebih mengedepankan kompetensi produktif, dan dipilih oleh mereka yang ingin segera bekerja ataupun berwirausaha. Adapun SMA lebih mengutamakan kemampuan akademik, dan umumnya dipilih oleh mereka yang ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi.
"Tapi mutu keduanya tetap akan kita kawal. SMK dalam mutu produksi, dan SMA mutu akademiknya," kata Hamid.
Sebelumnya, Wamendikbud Bidang Pendidikan Musliar Kasim mengatakan, ke depannya, jumlah SMK akan melebihi jumlah SMA yang ada saat ini. Senada dengan itu, Hamid menjelaskan, kementerian telah mengalokasikan Rp 1,9 triliun untuk pembangunan infrastruktur SMK dan SMA yang berasal dari anggaran 2012. Dana tersebut digunakan untuk pembangunan unit sekolah baru (USB), ruang kelas belajar (RKB), rehabilitasi, dan termasuk pembangunan ruang praktiknya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang