Keadilan sosial

Kursi untuk Badan Anggaran Bisa untuk Beli Rumah

Kompas.com - 21/01/2012, 03:49 WIB

Komala Sari (30), wanita yang bekerja sebagai pemulung, berhenti sejenak di pinggir jalan di daerah Kembangan, Jakarta Barat. Sebuah gerobak besar, yang dibawanya, bukan hanya berisi kardus bekas, melainkan juga dua anaknya yang masih kecil, Arman (6) dan Kamia (2,5).

Arman dan Kamia tertidur lelap di atas gerobak, meskipun angin malam berembus. Debu dan asap kendaraan beterbangan serta suara kendaraan yang memekakkan telinga tak mengganggu nyenyak tidur mereka.

Komala tidak tahu-menahu proyek renovasi ruangan kerja Badan Anggaran (Banggar) DPR, termasuk pembelian kursi untuk mengisi ruangan baru itu, yang setiap kursi dilaporkan senilai Rp 24 juta. Ia juga tak tahu biaya renovasi itu sebesar Rp 20,3 miliar.

”Enggak paham saya,” kata Komala, ketika ditanya apakah tahu cerita pembelian kursi untuk ruangan Banggar DPR itu. Namun, uang sebesar Rp 24 juta sangat berarti bagi dirinya.

Bila memiliki uang sebesar itu, ia membayangkan dapat membeli atau membuat sebuah rumah petak. ”Kalau dapat uang segitu, saya bisa beli rumah petak dari kayu,” kata Komala. Harga rumah petak itu berkisar Rp 15 juta-Rp 20 juta.

Jika bisa membeli rumah sangat sederhana sekali itu, alias rumah petak, Komala tidak perlu lagi mengontrak rumah petak. ”Sekarang, saya ngontrak. Per bulan Rp 300.000,” tuturnya lagi.

Selain membeli rumah petak, Komala membayangkan juga dapat menggunakan sisa uangnya untuk membuka sebuah warung kecil. ”Kalau uda punya warung, saya kan tidak usah cari kardus. Kalau cari kardus, anak saya kena angin terus,” katanya.

Komala memang mencari kardus bekas sejak pukul 18.00 sampai pukul 23.00. Kardus yang sudah diperoleh ditumpuk selama seminggu. Setelah seminggu, kardus itu dijual. ”Per minggu, saya bisa mendapatkan Rp 130.000,” tuturnya.

Pada pagi hari sampai siang, Komala mencari tambahan uang dengan menjadi pembantu rumah tangga. Dari pekerjaan itu, ia mendapatkan upah Rp 300.000 per bulan.

Rakyat di tingkat akar rumput memang harus berjerih payah mencari uang. Bagi Komala, uang tidak hanya untuk nafkah, tetapi menghidupi empat anaknya. Selain Arman dan Kamia, Komala juga memiliki dua anak, yaitu Riki yang kini kelas VI SD dan Santi (kelas III SD).

Sayangnya, penggunaan miliaran rupiah anggaran negara yang disedot dari pajak rakyat cenderung ”jorjoran”, terkesan tidak arif dan tidak bijak. Penggunaan anggaran berlebihan dan di luar batas kewajaran, mungkin juga terjadi di semua kementerian dan lembaga negara lain, tentu menggores dan melukai rasa keadilan masyarakat.

Uang sebesar Rp 20,3 miliar untuk renovasi ruang Banggar DPR seharusnya dapat dipangkas dan dihibahkan untuk kebutuhan rakyat. Misalnya, meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan, ekonomi pedesaan, sampai kualitas penjara anak di bawah umur.

Bukankah masih banyak sekolah-sekolah yang buruk. Bahkan, satu ruang kelas harus diisi dengan dua kelas dengan pemisah ruangan berupa tripleks.

(FER)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau