Kekayaan alam

Minyak, Kutukan bagi Nigeria

Kompas.com - 22/01/2012, 03:06 WIB

Kekayaan alam yang seharusnya menjadi berkat telah menjadi kutukan bagi negara yang memilikinya. Tahun demi tahun, sejumlah negara kaya sumber daya alam, seperti minyak, terlibat kerusuhan sosial atau perpecahan. Jika tidak bagi semua, bagi sebagian warga, minyak menjadi kutukan.

Nigeria, pemilik energi minyak terbesar di Benua Afrika dengan produksi 2,5 juta barrel per hari, menjadi contoh terbaru untuk itu. Gara-gara keputusan Presiden Goodluck Jonathan yang menaikkan harga minyak pada 1 Januari lalu, warga melakukan protes.

Perekonomian negara lumpuh karena aksi protes di mana-mana. Kerugian akibat aksi protes sebesar 1,3 miliar dollar AS. Presiden menurunkan lagi harga minyak 30 persen karena aksi protes itu, tetapi kerugian sudah sempat besar.

Di samping itu, anjungan minyak milik Chevron terus membara karena terbakar di lepas pantai Nigeria hingga hari kelima pada 20 Januari.

Aksi massa di Nigeria mengingatkan kita pada teori lama bahwa minyak telah menjelma menjadi kutukan.

”Sepuluh tahun dari sekarang, dua puluh tahun dari sekarang, Anda akan melihat minyak membawa kekacauan bagi kita. Minyak adalah ampas setan,” demikian pernyataan politikus Venezuela, Juan Pablo Pérez Alfonzo, salah seorang pendiri Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Ucapannya itu dia utarakan tahun 1973 dan dikutip kembali di majalah Fortune edisi 3 Februari 2003. Dia pernah menjabat sebagai Menteri Pembangunan Venezuela dan merupakan politikus terkenal di negara itu.

Ungkapan ini, kekayaan bisa menjadi kutukan, pertama kali diformalkan oleh ekonom dan pemerhati perminyakan Richard Auty pada tahun 1993. Ini untuk melukiskan bagaimana negara-negara kaya minyak tak mampu menggunakan kekayaan itu untuk menambah kemakmuran warga.

Disebut sebagai kutukan karena banyak negara kaya minyak nyatanya tidak berkembang lebih baik dari segi ekonomi dibandingkan dengan negara miskin sumber daya. Majalah Fortune melanjutkan, ekonom lain, seperti Jeffrey Sachs dan Andrew Warner, telah melakukan beberapa studi.

Hasilnya memperlihatkan korelasi negatif antara kekayaan alam dan kinerja ekonomi. Secara empiris, pada periode 1965-1998, pendapatan per kapita negara-negara anggota OPEC anjlok rata-rata 1,3 persen. Pada periode sama, di negara berkembang miskin sumber daya terjadi kenaikan pendapatan per kapita 2,2 persen.

Spanyol abad ke-16

Venezuela juga menjadi salah satu contoh negara yang menyaksikan sumber daya alam menjadi kutukan pada masa lalu.

Mengapa demikian? Keadaannya sama dengan artis top yang bangkrut setelah meraih rezeki nomplok berlimpah ruah.

Dibanjiri rezeki besar dan mendadak, sama seperti artis ternama yang baru muncul, pemerintahan di negara kaya minyak juga mengalokasikan anggaran seperti bintang rock.

Sejumlah program dijalankan walau tidak dipikirkan kelayakannya. Dalam keadaan seperti ini, tidak banyak warga mau membayar pajak karena pemerintah toh sudah kaya dari minyak.

Masalah lain muncul. Saat kelebihan uang seperti itu, pemerintah tidak mendiversifikasikan perekonomian ke sektor nonmigas. Sektor industri nonmigas juga juga tidak berkembang.

Dalam keadaan uang mudah didapat, tidak banyak pula yang mau melakukan inovasi dan kegiatan lain untuk mengembangkan usaha yang layak.

Negara-negara kaya minyak pada era modern ini mirip dengan keadaan Spanyol pada abad ke-16. Kaya dengan emas dari Benua Amerika, termasuk dari El Dorado, Kerajaan Spanyol terlena dan terpana. Saat emas sudah berhenti masuk dari seberang, Spanyol tidak bisa lagi menghidupi dirinya. Posisinya sebagai kekuatan dunia berakhir.

Dikuasai segelintir orang

Masalah lain yang membuat kekayaan menjadi kutukan adalah sumber daya itu hanya dimiliki atau dikuasai oleh segelintir orang. Minyak yang menetes kepada rakyat hanya 1 barrel dan lebih banyak yang tertuju kepada sejumlah orang terbatas.

Terry Lynn Karl, penulis buku The Paradox of Plenty: Oil Booms and Petro-States, mengatakan, hal itu merujuk pada kasus Venezuela.

Dapatkah kutukan itu diubah menjadi berkat? Malaysia, Norwegia, dan Mauritius dikatakan bisa melakukan itu.

Tampaknya Presiden Jonathan juga sudah jengkel dengan fenomena minyak sebagai kutukan. ”Dia ingin melakukan sesuatu dan untuk itu dia siap ketimbang tidak melakukan sama sekali,” kata Clement Nwankwo, Ketua Pusat Kebijakan dan Advokasi Hukum, di Lagos, Jumat (20/1).

Dia pun melakukan hal yang membuat rakyat marah. Dia menaikkan harga minyak untuk 167 juta jiwa rakyat yang kebanyakan hidup dengan pendapatan kurang dari 2 dollar AS per hari. Kenaikan ini dianggap sebagai tindakan membunuh mereka. Negara kaya minyak ini tidak memiliki kegiatan lain yang cukup berarti di luar sektor migas. Rakyat di negara ini juga tidak memiliki aliran listrik yang memadai.

Para demonstran bertanya mengapa anggota parlemen diberi penghasilan lebih dari 1 juta dollar AS per tahun. Mereka menggugat mengapa gaji anggota parlemen yang tinggi itu tidak cukup mendorong mereka memberangus praktik korupsi.

Kenaikan harga minyak lewat kebijakan Presiden Nigeria memunculkan adrenalin demonstran. ”Kami tidak akan menyerah,” ujar Julius Godstime (36), seorang teknisi di Lagos, ibu kota bisnis Nigeria. ”Warga sudah mau mati. Warga sudah menderita,” katanya.

Aksi protes yang berlangsung sejak 9 Januari itu juga menarik perhatian sejumlah warga terkenal Nigeria, termasuk anak-anak pemusik legendaris Fela Kuti.

Generasi baru berani

Keberanian warga juga muncul karena mereka merasa kini telah mempunyai kekuatan lebih. Generasi baru melihat diri mereka sebagai pemilik kekuasaan. Hal itu membuat mereka lebih berani.

Sebelum tahun 1999, warga Nigeria yang dipimpin para jenderal hanya sedikit berharap dari para pemimpin mereka yang korup dan diktatoris. ”Kini, warga menyadari bahwa mereka telah mempunyai kekuatan,” kata Thompson Ayodele dari Initiative for Public Policy Analysis.

Sola Oluwadare dari African Institute for Applied Economics juga mengatakan, warga akan menuntut lebih dari pemerintah mereka. Jaringan pemrotes pun lebih mudah diatur menggunakan situs sosial, seperti Twitter.

Sepertinya Jonathan tak hendak menyakiti hati warganya. Dia hendak menggunakan kemarahan rakyat itu untuk membereskan praktik korupsi di industri perminyakan.

Masalahnya, ada dana dari minyak sebesar 8 miliar dollar AS yang dialokasikan secara tidak jelas. Jonathan yang baru berkuasa sejak 2010 sangat jengkel dengan antek-antek almarhum mantan Presiden Olusegun Obasanjo yang terkenal korup serta antek-antek presiden pendahulunya, Umaru Musa Yar’Adua.

Warisan dua pemerintah sebelumnya membuat Nigeria miskin di tengah luberan minyak yang dikuasai segelintir orang, baik korporasi asing maupun elite lokal.(AP/AFP/REUTERS/MON)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau