Modus KTP Dukungan, Beli dari Bank

Kompas.com - 25/01/2012, 14:05 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD mengatakan, beragam kecurangan di pilkada terjadi karena sejumlah calon kecanduan kekuasaan. Mereka melakukan banyak cara untuk mendapatkan kursi sebagai kepala daerah. Namun, belum tentu semua calon menjadi pemimpin daerah yang baik dan mampu membangun daerahnya.

"Semua pemilu pasti diwarnai kecurangan. Pemilu yang sah sekalipun ada kecurangannya. Kemudian setelah terpilih muncul oligarki dan kecanduan kekuasaan," ujar Mahfud dalam seminar terkait pelaksanaan pemilukada di Ballroom Hotel Sultan, Rabu (25/1/2012).

"Kekuasaan ini mencandu, di mana orang sudah berkuasa, sudah selesai dua kali memimpin, tetapi masih mau daftar lagi dengan berbagai cara. Kalau gagal, lantas istrinya yang masuk atau anaknya yang masuk," tuturnya.

Akibat kecanduan kekuasaan ini, kata Mahfud, ada peserta pilkada yang memunculkan modus baru, seperti membeli salinan kartu tanda penduduk (KTP) di bank. Dari situ, si calon akan mendaftarkan jumlah pendukungnya, seolah-olah itu dikumpulkan langsung dari pemilik KTP.

"Misalnya untuk calon perorangan, memenuhi syarat, KTP-nya lengkap untuk persyaratan lolos kualifikasi. Tapi ternyata KTP-nya mengambil dari bank, bukan dari dukungan pendukungnya. Biasanya, kan, untuk jadi nasabah bank, kan, harus menyerahkan KTP. Nah, itu diambil semua dipinjam ke bank, dibayar, lalu dianggap sebagai pendukung," ungkapnya.

Berbagai cara untuk mendapatkan kursi kekuasaan ini, kata Mahfud, tidak berarti dilegalkan begitu saja. MK, kata dia, berhak membatalkan orang-orang yang melakukan pelanggaran dengan cara demikian.

"Pilkada juga belum tentu menampilkan pemimpin terbaik karena pemimpinnya masuk penjara, muncul pragmatisme, yang penting menang, menipu aparat dan rakyat, dan melakukan penyimpangan Terjadi kecanduan kekuasaan, penggunaan anggaran negara. Ini harus dicegah. Jika terbukti dan tidak memenuhi unsur, kami batalkan," paparnya menegaskan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau