Pulau Seribu Porak Poranda

Kompas.com - 26/01/2012, 03:08 WIB

Jakarta, Kompas - Hujan disertai angin kencang memorakporandakan Pulau Kelapa dan Pulau Harapan, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, Rabu (25/1) siang. Angin kencang juga menumbangkan banyak pohon di Jakarta dan menewaskan seorang sopir bajaj.

Bencana di Kepulauan Seribu terjadi sekitar pukul 12.20 selama setengah jam. Sebanyak 446 rumah dan 13 bangunan fasilitas umum di kedua pulau itu rusak dan roboh. Selain itu, setidaknya 35 orang cedera pada kepala, kaki, dan tangan karena tertimpa atap rumah akibat bencana itu.

Warga sempat diliputi kepanikan setelah hujan yang disertai angin itu berlalu. Beberapa orang berteriak karena rumahnya roboh.

Namun, kemudian, mereka bergotong royong membantu warga yang cedera.

”Saya berinisiatif memantau kondisi Pulau Kelapa dan Pulau Harapan menggunakan perahu,” tutur seorang warga di Pulau Kelapa, Husein Samsudin (35).

Bupati Kepulauan Seribu Ahmad Ludfi langsung mengerahkan polisi dan aparat pemerintahan untuk membantu warga membenahi kembali lingkungan tempat tinggalnya.

Sementara jumlah pohon tumbang, kata Camat Kepulauan Seribu Utara Atok Bahroni, lebih dari 60 pohon.

Pohon tumbang

Angin kencang juga menumbangkan banyak pohon di Jakarta. Di Jalan Darmawangsa I, Jakarta Selatan, pohon setinggi 25 meter tumbang dan menimpa lima kendaraan bermotor, yaitu bajaj milik Suwarno, dan empat mobil lain, yaitu Opel Blazer, Toyota Camry, Toyota Avanza, dan Chevrolet.

Suwarno terluka parah di sekujur tubuhnya dan dilaporkan meninggal di lokasi kejadian. Sementara penumpang bajaj, Zulfahmi, bisa melompat keluar meski terluka di tangan kanannya.

Di Jakarta Pusat, seorang tukang ojek, Ubay, tertimpa dahan pohon trembesi yang patah. Ubay tidak bisa menggerakkan tangan kanannya dan tidak bisa berjalan.

Hujan lebat disertai angin juga menyebabkan satu pohon tumbang di Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat. Di sejumlah lokasi lain, dahan pohon patah ke ruas jalan dan menyebabkan lalu lintas tersendat, di antaranya di Jalan Kiai Tapa dan Jalan Joglo Raya.

Keterangan Kepala Suku Dinas Pertamanan Jakarta Selatan Heru Bambang Ernanto, terdapat 10 lokasi pohon rawan tumbang. Kini, pihaknya terus berupaya mengantisipasi. Warga yang khawatir akan keberadaan pohon besar di lingkungan sekitarnya bisa langsung melapor.

Listrik padam di Depok

Selain menumbangkan sejumlah pohon, angin kencang juga membuat aliran listrik di Depok, Jawa Barat, padam.

”Syukurlah tidak ada yang terluka akibat pohon tumbang hari ini,” kata Kepala Bidang Pertamanan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Depok Mulyo Handono.

Pohon yang tumbang di Kelurahan Kemiri Muka, Kecamatan Beji, juga menyebabkan kabel aliran listrik putus. Paling tidak aliran di kawasan itu padam sampai empat jam.

Nelayan jangan melaut

Menyikapi kondisi alam ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Banten meminta warga, terutama yang tinggal di wilayah perbukitan, pesisir Selat Sunda, dan sepanjang perairan selatan Banten mewaspadai cuaca buruk yang diperkirakan terjadi hingga 27 Januari mendatang.

Nelayan di Banten selatan diminta tidak melaut karena ketinggian gelombang mencapai 5-6 meter.

”Imbauan ini dikeluarkan karena ketinggian gelombang di atas 2,5 meter sudah berisiko dilayari nelayan,” kata pengamat Stasiun Meteorologi Serang, Rofikoh, di Serang, Banten, kemarin.

Kecepatan angin diperkirakan mencapai lebih dari 20 knot, bahkan pada Rabu dini hari sekitar pukul 02.00 tercatat kecepatan angin yang terpantau di Stasiun Meteorologi Serang mencapai 51 knot.

Sepanjang Rabu pagi hingga siang, kecepatan angin beberapa kali terpantau ekstrem, yakni lebih dari 25 knot. Kecepatan angin pada Kamis (26/1) pun diprediksi masih tinggi, di atas 25 knot. Tingginya kecepatan angin ini memicu gelombang tinggi di laut. Ketinggian gelombang di Selat Sunda diperkirakan mencapai 3-4 meter.

”Ketinggian gelombang di jalur penyeberangan Merak dan Bakauheni bisa mencapai 2 meter, tapi karena embusan angin kencang dimungkinkan gelombang juga dapat lebih tinggi,” ujar Rofikoh.

Selain mewaspadai ketinggian gelombang di laut, warga juga diminta tetap waspada terhadap peluang curah hujan tinggi yang disertai petir. Warga di bantaran sungai pun diminta selalu mewaspadai kemungkinan banjir.

(NEL/ART/FRO/BRO/NDY/CAS/MDN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau