Samsung Jadi Idola, PlayBook Merana di Jakarta

Kompas.com - 26/01/2012, 14:01 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Tablet dari Samsung sejauh ini jadi idola pembeli di Jakarta. Sebaliknya, BlackBerry PlayBook jadi tablet yang paling sepi kiprahnya di Ibu Kota.

Demikian hasil pengamatan dan penelusuran yang dilakukan Kompas.com ke beberapa toko serta distributor yang ada di Jakarta.

Di toko V3 Technology, Ratu Plaza, semua tipe tablet yang dihadirkan Samsung menarik minat banyak pembeli. "Tapi, penjualan Galaxy Note paling banyak," kata Michael Gomulya, manajer toko V3 Technology, kepada Kompas.com, Rabu (25/1/2012).

Fitur unggulan yang banyak disukai adalah kemampuan menerima dan melakukan panggilan telepon. Selain itu, Michael menuturkan, pembeli juga melihat merek sebagai jaminan.  "Kami bisa menjual tablet Samsung sekitar 15 unit per bulan," tambahnya.

Ada juga faktor lain seperti harga jual (dan harga jual lagi) yang stabil. Menurut Michael ini sangat berbeda dengan, sebut saja, BlackBerry PlayBook yang terus-menerus diobral.

Di V3, Michael mengatakan, tersedia Galaxy Note dan semua varian Galaxy Tab. Selain itu ia juga menjual perangkat tablet lain seperti Acer Iconia.

Tapi, pembeli yang berkantung cekak menurutnya lebih berminat terhadap vendor lokal. Beberapa di antaranya termasuk SpeedUp, yang di-bundling dengan Telkomsel, maupun tablet keluaran ZTE.

Faktor Online

Menurut Michael sekitar 70 persen dari penjualan tablet adalah konvensional (datang ke toko). Sisanya baru dari pengunjung website.

Tren yang dialami Michael agak berbeda dengan yang dialami JuraganGadget. Seperti dituturkan Abbi Angkasa, pendiri JuraganGadget.com, transaksi langsung yang difasilitasi situs meningkat 170 persen.

Sedangkan, lanjut Abbi, transaksi yang datang ke toko maupun gerainya di beberapa lokasi, cenderung tidak mengalami pertumbuhan.

JuraganGadget memang memiliki dua jalur penjualan. Lewat situs online (yang memfasilitasi penjualan lewat situs, YM, BBM maupun SMS) dan lewat toko atau gerai di beberapa lokasi.

Abbi pun melihat petumbuhan penjualan tablet masih belum signifikan. Perangkat itu memang lebih banyak digunakan untuk keperluan hiburan.

iPad dan Playbook Sepi Peminat

Michael mengamati, di tokonya, tablet iPad dan BlackBerry PlayBook justru lesu. Beberapa keberatan konsumen termasuk kesulitan koneksi antar perangkat, harga yang terus turun dan tidak ada fitur teleponi.

"Kalau Playbook saya tidak mau jual karena tidak ada yang menanyakan. Kalau iPad, masih tidak ada buku manual berbahasa Indonesia," katanya.

Khusus iPad, pembeli yang berminat bisa melakukan pemesanan sejak awal. Pasalnya, di toko tidak memiliki stok yang banyak untuk iPad.

"Stok hanya 5 unit saja. Kalau tidak mengerti teknologi, mending jangan beli iPad," jelasnya.

Sementara BlackBerry Playbook, tokonya tidak melakukan penjualan karena tidak ada pembeli yang menanyakan. Bahkan, meski Playbook diobral hingga Rp 2,5 juta per unit, pihak toko juga tidak mau menjual.

Ada Apa dengan PlayBook?

Dihubungi terpisah, Direktur Marketing Communication Erajaya, Djatmiko Wardoyo, menjelaskan bahwa tablet Samsung memang masih jadi idola di tanah air.

Erajaya merupakan perusahaan distributor perangkat mobile. Mereka juga memiliki jaringan toko yang bernama Erafone.

Di jaringan Erafone, menurut Djatmiko, tablet yang paling laris adalah Galaxy Tab 7 inci. Namun ia tak mau menyebutkan angka penjualannya lebih rinci.

Erafone pun menjual tablet BlackBerry PlayBook. Namun harganya, menurut pengamatan, senantiasa turun melalui berbagai penawaran diskon.

Djatmiko menilai, ada beberapa persepsi konsumen soal PlayBook yang membuatnya tidak bisa laris-manis. Pertama, konsumen menganggapnya sebagai tablet yang kurang mumpuni dari sisi fitur.

Kemudian, ia melanjutkan, sejauh ini PlayBook terlihat tidak mampu membangun ekosistem. Hal ini berbeda dengan handset BlackBerry yang memiliki komunitas pengguna yang riuh.

Hal lain, konsumen menurut Djatmiko sangat keberatan dengan tidak adanya fitur BlackBerry Messenger di PlayBook. Merek tablet buatan Research In Motion itu pun dianggap tidak kuat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau