Perumahan

Rumah Murah Pun Sirna

Kompas.com - 28/01/2012, 02:44 WIB

Mengawali tahun 2012, Kementerian Perumahan Rakyat menyetop pembiayaan rumah bersubsidi bagi rakyat berpenghasilan menengah ke bawah. Ini terjadi karena perjanjian kerja sama operasional dengan bank penyalur kredit tersebut habis masa berlakunya.

Kredit rumah bersubsidi yang digulirkan pemerintah sejak Oktober 2010 melalui fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) bertujuan memudahkan masyarakat berpenghasilan di bawah Rp 4,5 juta per bulan untuk memiliki rumah.

Selama ini, FLPP menawarkan suku bunga kredit tetap (fixed rate) di kisaran 8,15-9,95 persen dengan tenor pinjaman 15 tahun. Dana FLPP dihimpun dari pemerintah dan perbankan dengan komposisi pembiayaan berbanding 60:40.

Bagi pemerintah, revisi perjanjian kerja sama operasional dengan perbankan perlu dilakukan guna menurunkan suku bunga kredit rumah dari kisaran 8,15-9,95 persen menjadi 7 persen, serta komposisi penyertaan dana pemerintah turun dari 60 persen menjadi 50 persen. Perbankan diminta berperan lebih besar dalam pembiayaan rumah rakyat.

Penghentian FLPP yang mendadak dan tanpa proses transisi membawa imbas bagi masyarakat kecil yang membutuhkan rumah sampai pengembang. Konsumen rumah bersubsidi yang sudah transaksi belum bisa segera memiliki rumah karena tak bisa akad kredit.

Proyek rumah yang sudah terbangun tak bisa terjual di sejumlah wilayah. Akibat modal pengembang tak bisa berputar, proyek-proyek rumah baru ikut terhenti.

Ironisnya, proses revisi suku bunga kredit tak berjalan mulus. Negosiasi penurunan suku bunga kredit macet. Bank penyalur FLPP keberatan dengan penurunan suku bunga kredit hingga mencapai 7 persen dan penurunan dana penyertaan pemerintah.

Sejak program FLPP digulirkan, belum banyak bank yang terlibat menjadi penyalur FLPP. Berdasarkan data Badan Layanan Umum Pusat Pembiayaan Perumahan, hanya tiga bank umum, bank syariah, dan 10 bank pembangunan daerah.

Jika satu bulan proses negosiasi tak berujung, bisa dipastikan program perumahan rakyat terganggu. Sementara pemerintah telah menargetkan penyerapan rumah subsidi tahun ini sekitar 123.790 unit.

Pengembang yang tergabung dalam Real Estat Indonesia (REI) mencatat, dengan target produksi 120.000 unit tahun ini, penundaan penjualan sekitar 10.000 unit rumah tidak terserap akibat terhentinya penjualan.

Di Jawa Barat, Asosiasi Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) mendata, sedikitnya 2.100 unit yang sudah terbangun tidak bisa terjual pada awal tahun ini.

Masalah penyaluran pembiayaan kian menambah daftar panjang masalah perumahan. Dari sisi pasokan, persoalan kekurangan rumah terus meningkat. Hingga tahun 2010, kekurangan rumah rakyat tercatat sudah mencapai 13,6 juta unit.

Sementara itu, kebutuhan rumah baru bertambah 800.000 unit, tetapi yang bisa tersedia hanya 400.000 unit per tahun. Ini berarti kekurangan rumah bertambah sekitar 400.000 per tahun. Jangankan untuk mendapat hunian layak, memiliki rumah saja sudah terganjal banyak persoalan.

Terluntanya program perumahan rakyat tanpa solusi nyata bagaikan api dalam sekam yang akan menurunkan kepercayaan rakyat terhadap pemerintah. Tarik-menarik kepentingan hanya akan mengorbankan rakyat yang semakin kritis meraih rumah.

Di tengah beban rumah rakyat yang terus meningkat, diperlukan upaya strategis dan koordinatif mengatasi kekurangan rumah. Penurunan suku bunga kredit perlu didukung dengan komitmen nyata pemerintah mendukung pembiayaan.

Program perumahan rakyat harus bisa memberi manfaat bagi semua, baik masyarakat, pengembang, pemerintah, maupun perbankan. Jangan lagi ada program coba-coba, mendadak yang akhirnya menyengsarakan rakyat.

(BM Lukita Grahadyarini)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau