Warga Berani Menantang Aparat China

Kompas.com - 29/01/2012, 03:38 WIB

BEIJING, Sabtu - Seorang pemuda memasang fotonya pada sebuah poster berisikan tuntutan kebebasan bagi Tibet. Pemuda itu juga meminta para polisi China untuk datang dan menangkapnya. Para pemrotes lain juga bangkit dan membela dari serbuan aparat.

Aksi para demonstran berlangsung di dua wilayah lain di Tibet, China, untuk melakukan provokasi serupa. Namun, pada setiap kejadian itu, polisi bereaksi dengan menggunakan peluru senjata.

Tiga aksi bentrokan, semuanya berlangsung pekan lalu, menewaskan beberapa warga Tibet dan mencederai puluhan orang. Demonstran melakukan eskalasi protes selama berbulan-bulan secara spontan dan pada umumnya dilakukan lewat aksi membakar diri.

Ini adalah akibat dari rasa putus asa para warga muda Tibet yang selalu menghadapi tindakan keras dari aparat. Namun, para ahli politik dan aktivis pro-Tibet mengatakan, tindakan aparat hanya memunculkan kemarahan baru yang selanjutnya menyulut kemarahan baru warga.

Kenyataan ini membuat otoritas dihadapkan pada pilihan pelik, apakah meredam lebih keras pemrotes atau memenuhi tuntutan Tibet untuk kebebasan lebih dan mengizinkan pulang Dalai Lama, pemimpin spiritual Tibet yang berada di pengasingan di India. Namun, pilihan mengizinkan kepulangan Dalai Lama tidak pernah menjadi pemikiran Beijing.

”Dengan tidak bereaksi secara konstruktif ketika menghadapi aksi-aksi protes individu-individu, Partai Komunis telah menciptakan kondisi bagi warga untuk bertindak nekat dan melakukan aksi protes lebih besar,” kata Robbie Barnett, pakar Tibet dari Columbia University, New York, AS.

Tibet adalah kawasan paling tegang sejak 2008 ketika aksi kerusuhan merebak di Lhasa, ibu kota Tibet, dan menyebar ke wilayah sekitarnya. China menghadapi itu dengan membanjiri para tentara ke wilayah rusuh serta menutup seantero wilayah Tibet bagi asing selama setahun. Kini izin khusus wajib didapatkan bagi pengunjung non-China ke Tibet dan sekitarnya. 

Rekaman video yang diselundupkan keluar memperlihatkan paramiliter dipersenjatai dengan pistol berpeluru tajam dan kendaraan lapis baja. Para tentara juga melakukan aksi penangkapan saat fajar.

Konvoi besar para tentara sering kali terlihat di sepanjang jalanan di pegunungan Himalaya. Para biksu yang dituduh menyulut aksi protes diciduk dan dimasukkan ke dalam truk-truk yang sudah menunggu.

Aksi bakar diri

Selama setahun terakhir aksi bakar diri telah merebak di kawasan Tibet. Setidaknya 16 biksu dan rohaniwan Buddha membakar diri setelah menyerukan kemerdekaan dan tuntutan agar Dalai lama diperbolehkan kembali ke Tibet, yang diserbu China tahun 1959 dan menguasainya.

Tibet selalu menganggap diri sebagai wilayah yang terpisah dari China, yang didominasi keturunan Han. China mengatakan telah menguasai Tibet selama berabad-abad. Tibet mengatakan, hampir sepanjang waktu Tibet merupakan kawasan yang selalu independen dari China.

Melengkapi aksi protes individu, beberapa ribu warga Tibet berpawai menuju Ganzi di Provinsi Sichuan, Senin (23/1). Pada hari Selasa, aparat keamanan menembaki massa pemrotes di daerah lain di Ganzi, dan mengakibatkan dua warga Tibet tewas dan beberapa orang lain cedera, sebagaimana dibocorkan sebuah organisasi bernama Free Tibet.

Pada Kamis (26/1), di kawasan Aba, Provinsi Sichuan, seorang pemuda bernama Tarpa memasang poster. Isinya adalah sebuah pesan bahwa aksi bakar diri tidak akan berhenti hingga Tibet merdeka. Dia malah menuliskan nama sekaligus memasang fotonya di poster itu. ”Dia meminta aparat untuk datang menangkapnya jika mereka mau,” kata Kate Saunders, juru bicara Free Tibet.

Aparat keamanan melakukan itu dua jam kemudian. Jalan diblokade warga sekitar bagi aparat, meneriakkan slogan, dan memperingatkan protes lebih besar akan dilakukan jika Tarpa tidak dibebaskan.

Polisi kemudian melepas tembakan sehingga menewaskan Urgen, pemuda berusia 20 tahun, yang adalah rekan Tarpa. ”Pemerintah akan terus bertindak untuk menciptakan kestabilan,” demikian kata jubir Kementerian Luar Negeri China, Hong Lei, Sabtu. (Ap/AFP/MON)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau