BEIJING, Sabtu -
Aksi para demonstran berlangsung di dua wilayah lain di Tibet, China, untuk melakukan provokasi serupa. Namun, pada setiap kejadian itu, polisi bereaksi dengan menggunakan peluru senjata.
Tiga aksi bentrokan, semuanya berlangsung pekan lalu, menewaskan beberapa warga Tibet dan mencederai puluhan orang. Demonstran melakukan eskalasi protes selama berbulan-bulan secara spontan dan pada umumnya dilakukan lewat aksi membakar diri.
Ini adalah akibat dari rasa putus asa para warga muda Tibet yang selalu menghadapi tindakan keras dari aparat. Namun, para ahli politik dan aktivis pro-Tibet mengatakan, tindakan aparat hanya memunculkan kemarahan baru yang selanjutnya menyulut kemarahan baru warga.
Kenyataan ini membuat otoritas dihadapkan pada pilihan pelik, apakah meredam lebih keras pemrotes atau memenuhi tuntutan Tibet untuk kebebasan lebih dan mengizinkan pulang Dalai Lama, pemimpin spiritual Tibet yang berada di pengasingan di India. Namun, pilihan mengizinkan kepulangan Dalai Lama tidak pernah menjadi pemikiran Beijing.
”Dengan tidak bereaksi secara konstruktif ketika menghadapi aksi-aksi protes individu-individu, Partai Komunis telah menciptakan kondisi bagi warga untuk bertindak nekat dan melakukan aksi protes lebih besar,” kata Robbie Barnett, pakar Tibet dari Columbia University, New York, AS.
Tibet adalah kawasan paling tegang sejak 2008 ketika aksi kerusuhan merebak di Lhasa, ibu kota Tibet, dan menyebar ke wilayah sekitarnya. China menghadapi itu dengan membanjiri para tentara ke wilayah rusuh serta menutup seantero wilayah Tibet bagi asing selama setahun. Kini izin khusus wajib didapatkan bagi pengunjung non-China ke Tibet dan sekitarnya.
Rekaman video yang diselundupkan keluar memperlihatkan paramiliter dipersenjatai dengan pistol berpeluru tajam dan kendaraan lapis baja. Para tentara juga melakukan aksi penangkapan saat fajar.
Konvoi besar para tentara sering kali terlihat di sepanjang jalanan di pegunungan Himalaya. Para biksu yang dituduh menyulut aksi protes diciduk dan dimasukkan ke dalam truk-truk yang sudah menunggu.
Selama setahun terakhir aksi bakar diri telah merebak di kawasan Tibet. Setidaknya 16 biksu dan rohaniwan Buddha membakar diri setelah menyerukan kemerdekaan dan tuntutan agar Dalai lama diperbolehkan kembali ke Tibet, yang diserbu China tahun 1959 dan menguasainya.
Tibet selalu menganggap diri sebagai wilayah yang terpisah dari China, yang didominasi keturunan Han. China mengatakan telah menguasai Tibet selama berabad-abad. Tibet mengatakan, hampir sepanjang waktu Tibet merupakan kawasan yang selalu independen dari China.
Melengkapi aksi protes individu, beberapa ribu warga Tibet berpawai menuju Ganzi di Provinsi Sichuan, Senin (23/1). Pada hari Selasa, aparat keamanan menembaki massa pemrotes di daerah lain di Ganzi, dan mengakibatkan dua warga Tibet tewas dan beberapa orang lain cedera, sebagaimana dibocorkan sebuah organisasi bernama Free Tibet.
Pada Kamis (26/1), di kawasan Aba, Provinsi Sichuan, seorang pemuda bernama Tarpa memasang poster. Isinya adalah sebuah pesan bahwa aksi bakar diri tidak akan berhenti hingga Tibet merdeka. Dia malah menuliskan nama sekaligus memasang fotonya di poster itu. ”Dia meminta aparat untuk datang menangkapnya jika mereka mau,” kata Kate Saunders, juru bicara Free Tibet.
Aparat keamanan melakukan itu dua jam kemudian. Jalan diblokade warga sekitar bagi aparat, meneriakkan slogan, dan memperingatkan protes lebih besar akan dilakukan jika Tarpa tidak dibebaskan.
Polisi kemudian melepas tembakan sehingga menewaskan Urgen, pemuda berusia 20 tahun, yang adalah rekan Tarpa. ”Pemerintah akan terus bertindak untuk menciptakan kestabilan,” demikian kata jubir Kementerian Luar Negeri China, Hong Lei, Sabtu.