Slawi, Kompas
Adapun di Bali, bayi berusia 1,5 tahun tewas tertimbun tebing longsor akibat hujan deras di wilayah Kabupaten Badung.
Kejadian itu menambah panjang daftar korban tewas akibat cuaca buruk dalam satu bulan terakhir. Menurut catatan Kompas, pada 29 Desember 2011-28 Januari 2012, jumlah korban tewas akibat berbagai dampak cuaca ekstrem mencapai 19 orang dan puluhan lain cedera. Jumlah itu belum termasuk empat warga yang hilang dalam kecelakaan angkutan laut dan terseret ombak di kawasan wisata.
Kepala Subbidang Cuaca Ekstrem Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kukuh Ribudiyanto, Minggu, mengungkapkan, hujan dengan curah di atas normal masih akan terjadi di Indonesia hingga April mendatang. Gangguan cuaca tersebut terutama dipengaruhi adanya fenomena La Nina skala lemah-moderat.
La Nina terindikasikan dengan suhu muka laut menghangat di barat Samudra Pasifik yang menyebabkan suplai massa air di wilayah Indonesia bagian timur. Tingginya intensitas hujan di Indonesia tak lepas dari menghangatnya suhu muka laut yang berkisar 28-31 derajat celsius.
Menurut Kukuh, angin kencang masih memengaruhi wilayah selatan Sumatera, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara sebagai akibat dari munculnya badai atau siklon tropis Iggy, Kamis lalu.
”Ketika masih berupa bibit badai Sabtu lalu, Iggy sempat mengurangi peluang hujan di bagian barat Indonesia, termasuk Jawa. Begitu pula saat Imlek karena pusat tekanan rendah ini menyedot massa udara di sekitarnya,” papar Kukuh.
Prakirawan di Posko Cuaca BMKG, Sunardi, menambahkan, pola angin dari barat daya ke arah timur berkecepatan hingga 28 kilometer per jam akan menimbulkan gelombang laut setinggi 2 meter lebih. Wilayah perairan yang terdampak antara lain Selat Sunda, selatan Pulau Jawa, Selat Bali, Laut Arafura, perairan Maluku, Laut Halmahera, serta selatan dan utara Papua.
Angin kencang berskala lokal atau puting beliung yang muncul akibat pembentukan angin kumulonimbus, lanjut Kukuh, berpotensi terjadi di Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat.
Puting beliung juga berpotensi terjadi di Makassar (Sulawesi Selatan), Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara bagian utara. Gangguan yang sama berpotensi muncul di Jambi, Riau.
Sunardi menguraikan, dalam sepekan ini akan terjadi hujan dengan pola tidak menentu. Waktu dan intensitasnya antara lebat dan ringan.
Dalam musim hujan yang akan berlangsung hingga April mendatang, BMKG memprakirakan Indonesia akan dipengaruhi La Nina lemah hingga April. Prakiraan serupa dikeluarkan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). Namun, badan riset Amerika Serikat itu memprediksi mulai Februari hingga April La Nina akan meningkat menjadi moderat.
Sambaran petir yang menelan korban di Tegal terjadi ketika delapan buruh tani sedang berteduh di gubuk tengah sawah. Kala itu terjadi hujan deras disertai halilintar. Korban tewas, Tarjono (50), warga Desa Pakulaut, Kecamatan Margasari.
Tujuh korban lain yang masih satu domisili luka berat. Satu di antara mereka adalah Kusheriyanto (42), yang masih dirawat secara intensif di Rumah Sakit Umum Daerah Soeselo, Slawi.
Hingga Minggu siang, Kusheriyanto belum bisa berkomunikasi karena kondisi fisiknya masih lemah. Menurut istrinya, Supriyatin, korban mengalami luka bakar dan sulit menelan.
Selain ancaman maut, dampak dari fenomena alam tersebut juga merepotkan warga di sejumlah daerah. Di Probolinggo, Jawa Timur, 16 rumah rusak akibat Sungai Pekalen, Desa Patemon, Kecamatan Krejengan, meluap. Kemarin, para korban sibuk membenahi rumah dan perabot seusai kejadian Sabtu malam itu.
Pada waktu hampir bersamaan, puting beliung melanda kawasan hutan milik Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Balapulang, Jawa Tengah, mencakup Kabupaten Tegal dan Kabupaten Brebes. Kejadian itu menumbangkan sekitar 50 pohon jati berusia 40 tahun.
Administratur KPH Balapulang Toni Suratno melalui Juli Kusnadi dari Bagian Humas KPH Balapulang mengatakan, kerugian materiil yang ditimbulkan sekitar Rp 90 juta.