Pidato kebudayaan

Anwar Ibrahim: Masalah Indonesia Hanya Transparansi!

Kompas.com - 31/01/2012, 00:01 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, mengakui adanya kemajuan Indonesia pascareformasi. Namun, menurutnya, salah satu kendala dalam kehidupan bernegara di Indonesia adalah masih minimnya transparansi dalam tata kelola pemerintahan.

Hal itu disampaikan Anwar Ibrahim dalam pidato kebudayaan di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Senin (30/1/2012) malam. Anwar menilai, praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) di Indonesia banyak dipengaruhi oleh belum adanya keterbukaan pemerintah dalam pelaksanaan tender pengadaan barang dan jasa.

"Isunya, bukan pemerintah yang memberikan subsidi. Bukan itu diberikan kepada siapa, tapi, apa hak pemerintah memilih orang tanpa tender dan tanpa memberikan yang terbaik untuk rakyat? Apa dasar perjanjiannya? Yang tahu hanya beberapa orang, dia dan istrinya," ujar Anwar, yang saat ini lebih dikenal sebagai tokoh oposisi di negerinya.

Pria yang mengaku selalu mengikuti perkembangan dan beragam informasi terakhir dari Indonesia ini menilai, masalah transparansi adalah isu yang akan terus menguat dan bisa berdampak luas. Pasalnya, Indonesia sering menyebut diri sebagai negara demokratis dan menjunjung kebebasan. Namun, dampak negatifnya bisa terjadi seandainya keterbukaan tata kelola ini tidak segera diperbaiki.

Anwar juga mewanti-wanti Pemerintah Indonesia untuk kembali ke jalur yang diagendakan saat reformasi digulirkan. Menurutnya, reformasi harus dapat memberikan rasa keadilan bagi rakyat. Reformasi juga perlu dipandu oleh akhlak dan moralitas.

"Indonesia di era reformasi, apa yang dijanjikan? Keadilan bagi rakyat tercakup bidang politik," ujarnya.

Untuk itu, Anwar menilai penting adanya pedoman yang menuntun orientasi pemerintahan pascareformasi. Pedoman dan panduan tersebut haruslah membumi atau sesuai dengan kenyataan hidup berbangsa.

Adapun kehadiran Anwar Ibrahim di TIM adalah untuk memberikan pidato kebudayaan bertemakan "Kepemimpinan dalam Dinamika Perubahan Ekonomi Politik". Selain di Jakarta, ia juga dijadwalkan hadir memenuhi undangan Institut Teknologi Bandung (ITB).

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau