Beijing, Senin
Ini terkait dengan serangkaian bentrokan terakhir yang menelan korban jiwa di wilayah-wilayah China yang memiliki etnis Tibet.
Ditambahkan, Dalai Lama juga ”menyalahgunakan reputasinya”.
Provinsi Sichuan, China barat daya, diguncang dengan tiga bentrokan, pekan lalu. Provinsi ini mempunyai populasi etnis Tibet dalam jumlah besar dan mengeluhkan represi keagamaan serta ketiadaan kebebasan.
Kelompok-kelompok pembela etnis Tibet mengatakan, sekitar tujuh orang Tibet tewas tertembak dan lebih dari 60 orang cedera. Mereka diserang aparat ketika melakukan aksi-aksi demonstrasi di wilayah itu. Aksi mereka ditumpas polisi dan pasukan keamanan. Namun, kantor berita Xinhua mengatakan, polisi menembak untuk membela diri dari massa yang menyerbu pos-pos polisi.
”Bukan hal luar biasa bagi beberapa pemerintah Barat dan pemerintahan Tibet di pengasingan untuk memainkan dan mendistorsi insiden,” demikian tajuk rencana di harian China Daily.
Dikatakan, Dalai Lama pemimpin spiritual Tibet di pengasingan, bersemangat menimbulkan keonaran untuk mendapatkan dukungan Barat di
Ditambahkan bahwa Dalai Lama ”didanai dan didukung oleh beberapa pemerintah dan media Barat dengan agenda tersendiri terhadap China”. ”Seperti biasanya, para pejabat pemerintah Barat dan pemerintahan Tibet di pengasingan menggunakan kesempatan untuk mengkritik Pemerintah China.”
Dalai Lama melarikan diri dari Tibet tahun 1959 setelah sebuah pemberontakan yang gagal terhadap pemerintahan China. Dalai Lama menganjurkan resolusi damai dari pertikaian Tibet, dan menginginkan otonomi yang sebenarnya bagi Tibet, bukannya kemerdekaan.
Kerusuhan pada pekan lalu menyebabkan Lobsang Sangay, pemimpin Pemerintah Tibet di pengasingan yang berbasis di India, mengimbau masyarakat internasional ”untuk tidak bersikap pasif” dan ”untuk ikut campur mencegah pertumpahan darah lebih lanjut”.
Informasi mengenai apa yang terjadi sulit untuk diverifikasi secara independen. Wartawan yang mencoba memasuki daerah Sichuan Barat, pekan lalu, dihalangi polisi beberapa kali.
Harian Global Times, sebuah koran pemerintah lainnya, hari Senin juga menuduh Dalai Lama ”menyalahgunakan reputasi keagamaannya di daerah-daerah Tibet untuk mendapatkan perhatian bagi kelompoknya”.
Koordinator Khusus AS untuk Isu Tibet, Maria Otero, berkomentar soal dua penembakan pada pekan lalu. AS ”sangat prihatin” mengenai situasi itu dan mendesak otoritas untuk mengizinkan wartawan dan diplomat ke sana.