Tibet

China Tuduh Barat Punya Agenda

Kompas.com - 31/01/2012, 02:35 WIB

Beijing, Senin - Media China, Senin (30/1), menuduh pemerintahan Tibet di pengasingan berkolusi dengan Barat untuk mendistorsi kebenaran. China juga menuduh Barat dan Tibet pengasingan mempunyai agenda soal China lewat Tibet.

Ini terkait dengan serangkaian bentrokan terakhir yang menelan korban jiwa di wilayah-wilayah China yang memiliki etnis Tibet.

Ditambahkan, Dalai Lama juga ”menyalahgunakan reputasinya”.

Provinsi Sichuan, China barat daya, diguncang dengan tiga bentrokan, pekan lalu. Provinsi ini mempunyai populasi etnis Tibet dalam jumlah besar dan mengeluhkan represi keagamaan serta ketiadaan kebebasan.

Kelompok-kelompok pembela etnis Tibet mengatakan, sekitar tujuh orang Tibet tewas tertembak dan lebih dari 60 orang cedera. Mereka diserang aparat ketika melakukan aksi-aksi demonstrasi di wilayah itu. Aksi mereka ditumpas polisi dan pasukan keamanan. Namun, kantor berita Xinhua mengatakan, polisi menembak untuk membela diri dari massa yang menyerbu pos-pos polisi.

”Bukan hal luar biasa bagi beberapa pemerintah Barat dan pemerintahan Tibet di pengasingan untuk memainkan dan mendistorsi insiden,” demikian tajuk rencana di harian China Daily.

Didanai

Dikatakan, Dalai Lama pemimpin spiritual Tibet di pengasingan, bersemangat menimbulkan keonaran untuk mendapatkan dukungan Barat di Tibet. ”Di dunia kini, sejumlah ekstremis mempunyai kemampuan menciptakan kekacauan di sebuah wilayah atau bahkan sebuah negara,” demikian China Daily.

Ditambahkan bahwa Dalai Lama ”didanai dan didukung oleh beberapa pemerintah dan media Barat dengan agenda tersendiri terhadap China”. ”Seperti biasanya, para pejabat pemerintah Barat dan pemerintahan Tibet di pengasingan menggunakan kesempatan untuk mengkritik Pemerintah China.”

Dalai Lama melarikan diri dari Tibet tahun 1959 setelah sebuah pemberontakan yang gagal terhadap pemerintahan China. Dalai Lama menganjurkan resolusi damai dari pertikaian Tibet, dan menginginkan otonomi yang sebenarnya bagi Tibet, bukannya kemerdekaan.

Kerusuhan pada pekan lalu menyebabkan Lobsang Sangay, pemimpin Pemerintah Tibet di pengasingan yang berbasis di India, mengimbau masyarakat internasional ”untuk tidak bersikap pasif” dan ”untuk ikut campur mencegah pertumpahan darah lebih lanjut”.

Informasi mengenai apa yang terjadi sulit untuk diverifikasi secara independen. Wartawan yang mencoba memasuki daerah Sichuan Barat, pekan lalu, dihalangi polisi beberapa kali.

Harian Global Times, sebuah koran pemerintah lainnya, hari Senin juga menuduh Dalai Lama ”menyalahgunakan reputasi keagamaannya di daerah-daerah Tibet untuk mendapatkan perhatian bagi kelompoknya”.

Koordinator Khusus AS untuk Isu Tibet, Maria Otero, berkomentar soal dua penembakan pada pekan lalu. AS ”sangat prihatin” mengenai situasi itu dan mendesak otoritas untuk mengizinkan wartawan dan diplomat ke sana. (AFP/Reuters/DI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau