Bali-Lombok Tersendat

Kompas.com - 01/02/2012, 03:14 WIB

Karangasem, Kompas - Distribusi barang dari Bali ke Lombok, Nusa Tenggara Barat, tersendat akibat cuaca buruk. Sejak Rabu (25/1) hingga Jumat (27/1), Pelabuhan Padangbai, Karangasem, Bali, sebagai jalur penyeberangan Bali-Lombok ditutup karena tinggi gelombang mencapai 3 meter.

Meskipun sekarang ini pelabuhan sudah dibuka kembali, ratusan truk pengangkut barang masih menumpuk di pelabuhan tersebut, Selasa (31/1).

Berdasarkan pantauan, antrean truk sepanjang 2 kilometer tampak di sekitar Pura Goa Lawah, Klungkung, Bali, yang berjarak sekitar 7 kilometer dari pelabuhan. Antrean truk sepanjang 4 kilometer terlihat di sepanjang jalan masuk pelabuhan. Antrean truk tersebut menyita separuh badan jalan selebar 7 meter.

”Antrean terpaksa diputus supaya jalan utama dari Denpasar ke Karangasem tidak macet,” kata Pengawas Regu Jaga Pelabuhan Padangbai I Wayan Rosta. Berdasarkan data pelabuhan, pada Selasa kemarin tercatat ada 130 truk di dalam area pelabuhan dan sekitar 250 truk di luar pelabuhan.

Menurut Rosta, penumpukan truk merupakan dampak penutupan pelabuhan selama tiga hari lalu. Selain itu, dari sembilan kapal yang aktif, satu kapal di antaranya tidak dioperasikan karena dalam perawatan.

Setiap kapal yang beroperasi pun membutuhkan waktu hingga satu jam lebih lama untuk menempuh jarak antara Pelabuhan Padangbai dan Pelabuhan Lembar, Lombok, karena arus laut masih kencang sehingga jadwal pelayaran kacau. Selasa kemarin, tinggi gelombang antara 1 meter dan 1,5 meter. ”Harusnya setiap satu jam ada kapal yang sandar, tapi hari ini sudah empat jam tidak ada kapal yang sandar,” kata Rosta.

Seperti dialami Fahmi (28), salah satu kernet truk, ia sudah mengantre sejak Rabu pekan lalu. Selasa kemarin, truknya sudah masuk areal pelabuhan, tetapi masih di urutan belakang. ”Mungkin baru besok bisa menyeberang,” kata Fahmi yang membawa muatan makanan ringan dari Surabaya ke Lombok ini.

Laut Jawa

Kepala PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) Cabang Balikpapan, Kalimantan Timur, Sukendra, Selasa (31/1), menyatakan tetap mewaspadai Laut Jawa karena ombaknya yang masih tinggi. ”Kapal-kapal kami melintasi Selat Makassar dan Laut Jawa untuk menuju Makassar dan Surabaya. Laut Jawa yang ombaknya lebih kami waspadai,” ucapnya.

Kecepatan angin di Laut Jawa yang semakin cenderung kencang, sejauh ini masih termasuk aman bagi kapal-kapal ukuran besar, yang berbobot mati di atas 10.000 ton. Hanya saja, waktu perjalanan menjadi lebih lama beberapa jam karena kecepatan, arah, dan posisi kapal harus disesuaikan dengan kecepatan angin dan tinggi gelombang air laut.

Menurut Sukendra, untuk perjalanan Balikpapan-Surabaya yang melewati Laut Jawa lebih memakan waktu panjang. Ini jika dibandingkan dengan perjalanan ke Makassar yang melewati Selat Makassar, yang terlindungi oleh Pulau Kalimantan dan Sulawesi. ”Itu sebabnya perjalanan Balikpapan-Makassar tidak terlambat,” katanya.

Dengan alasan cuaca buruk ini juga yang menggerakkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ternate, Maluku Utara, untuk memperingatkan warga yang tinggal di pesisir untuk mewaspadai ombak saat pasang air laut tinggi. Gelombang tinggi telah merusak tiga rumah dan enam perahu di Bastiong Karance, Kecamatan Ternate Selatan, Ternate.

Sekretaris BPBD Kota Ternate Sukarjan Hirto, yang dihubungi dari Ambon, mengatakan, dikeluarkannya imbauan tersebut menyusul peringatan dini cuaca ekstrem yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

”Selama akhir bulan Januari hingga awal Februari, gelombang tinggi saat pasang air laut dimungkinkan terjadi, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Oleh karena itu, masyarakat yang tinggal di pesisir diminta utnuk waspada,” ujarnya.(DEN/PRA/APA/SIR)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau