Israel agar Diberi Bom Pintar untuk Serang Iran

Kompas.com - 02/02/2012, 13:01 WIB

WASHINGTON, KOMPAS.com - Sebuah kelompok kebijakan bipartisan AS ingin menyediakan 200 bom penghancur bunker tambahan kepada Israel demi meningkatkan kredibilitas sebuah serangan militer yang ditujukan untuk menggagalkan program nuklir Iran. Proposal tersebut merupakan bagian dari sebuah laporan yang dikeluarkan Rabu (1/2/2012) oleh Bipartisan Policy Center's National Security Project, sebuah kelompok riset nirlaba di Washington, lapor kantor berita Bloomberg, seperti dikutip Sydney Morning Herald, Kamis.

Kelompok itu, yang dipimpin mantan Senator Demokrat Charles Robb dari Virginia dan pensiunan Jenderal Charles Wald, mantan wakil komandan pada Komando Eropa AS, mendesak AS untuk menyediakan 200 bom penghancur bunker jenis GBU-31 dan dua atau tiga pesawat yang bisa melakukan pengisian bahan bakar di udara jenis KC-135 kepada Israel. Israel sudah memiliki sekitar belasan pesawat jenis itu yang memungkinkan pesawat tempur Israel  menyerang sasaran di Iran, kata laporan tersebut.

"Tekanan terhadap Iran untuk bernegosiasi dengan itikad baik bisa dimaksimalkan demi membuat Iran semakin yakin bahwa bukan hanya Amerika Serikat, tetapi juga Israel, mampu dan siap memberikan pukulan yang melumpuhkan program nuklirnya," kata kelompok itu.

Suatu ancaman militer yang lebih kredibel dari Israel diperlukan, karena Iran "dapat memiliki kapasitas untuk menghasilkan uranium diperkaya yang cukup bagi sebuah perangkat nuklir dalam waktu setidaknya dua bulan" dan "kemampuan untuk mengembangkan senjata nuklir" pada tahun ini, kata laporan tersebut. "Program ini merupakan ancaman keamanan nasional paling langsung terhadap Amerika Serikat," kata Robb dalam menyajikan laporan itu dalam sebuah konferensi pers.

"Meskipun kami tidak menganjurkan serangan militer Israel, kami yakin ancaman Israel yang lebih kredibel dapat meningkatkan tekanan terhadap Iran untuk bernegosiasi," kata Wald dalam sebuah pernyataan tertulis.

Laporan itu dikeluarkan saat para pembuat kebijakan di Kongres AS mengungkapkan kekhawatiran yang meningkat terkait program nuklir Iran. Senator Dianne Feinstein dari California, ketua Komite Intelijen Senat, kemarin mengatakan, ini akan menjadi "tahun kritis" untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.

Presiden Barack Obama, dalam pidato bulan lalu, mengatakan, ia "tidak akan mengabailan pilihan yang tersedia" untuk memastikan Iran tidak mengembangkan senjata nuklir.

Untuk menggagalkan rencana Iran, Bipartisan Policy Center mendukung sebuah strategi diplomasi "triple-track", sanksi ekonomi, dan "persiapan kredibel, kasatmata bagi sebuah opsi militer."

Walaupun Israel sudah memiliki sekitar 100 amuniasi penghancur bunker jenis GBU-28, tambahan 200 bom pintar GBU-31 akan meningkatkan kemungkinan bahwa setiap serangan "akan langsung menghajar sasaran," kata laporan itu.

Alireza Nader, analis di Rand Corporation, yang ikut menulis studi tentang Israel dan Iran, mengatakan, usulan memberi Israel lebih banyak bom akan menjadi suatu kesalahan. "Itu sesungguhnya kontraproduktif," ujar Nader. "Itu dapat memaksa pemerintah Iran untuk mempercepat program nuklir. Mereka melihat kemampuan sebuah senjata potensial sebagai penangkal terhadap Amerika Serikat dan Israel."

Nader mengatakan, diplomasi dan sanksi lebih bijak. Sanksi baru-baru ini telah "meningkatkan biaya persenjataan Republik Islam itu" saat ekonominya melemah.

Kelompok Proyek Keamanan Nasional itu, walau mendukung lebih banyak sanksi, tetap menyatakan keraguan tentang efektivitas sanksi-sanksi itu dalam mengendalikan program nuklir Iran. "Bahkan sanksi baru yang 'melumpuhkan' tidak mungkin akan mengancam kelangsungan hidup rezim Iran," kata laporan itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau