Bantuan nelayan

Pemerintah Bagikan Beras Bantuan Paceklik

Kompas.com - 03/02/2012, 20:16 WIB

TEGAL, KOMPAS.com — Pemerintah Kota Tegal, Jawa Tengah, menyalurkan bantuan beras untuk membantu nelayan pada musim ombak besar atau masa paceklik.

Penyaluran bantuan beras dilakukan melalui Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Tegal, sejak Rabu (1/2/2012) hingga Minggu (5/2/2012) mendatang.

Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi Kota Tegal, Sumito, Jumat (3/2/2012), mengatakan, volume beras yang disalurkan untuk nelayan sebanyak 49.980 kilogram. Bantuan itu diperuntukkan bagi 4.980 nelayan, yang saat ini sedang kesulitan melaut akibat ombak besar.

Bantuan beras, lanjutnya, berasal dari cadangan beras pemerintah pusat yang dibagikan ke daerah-daerah. Diharapkan, dengan adanya bantuan beras tersebut, beban ekonomi nelayan yang sedang mengalami paceklik bisa terkurangi.

Selain beras, Pemkot Tegal juga berencana memberikan pelatihan kepada para istri nelayan. Menurut Sumito, setiap tahun Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi Kota Tegal memiliki program pelatihan untuk masyarakat, antara lain pelatihan tata rias, tata boga, dan komputer.

Rencananya, pelatihan juga akan diberikan kepada para istri nelayan. Dengan memiliki keterampilan, diharapkan mereka bisa ikut bekerja dan membantu perekonomian keluarga, pada saat para suami tidak bisa melaut karena ombak besar.

Selain di Kota Tegal, pembagian beras paceklik juga dilakukan Kelompok Usaha Bersama (KUB) Teri Nasi Desa Munjungagung, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, Januari lalu.

Bendahara KUB Teri Nasi, Ranito, mengatakan, beras yang dibagikan berasal dari dana pungutan paceklik nelayan, sebesar 0,25 persen dari nilai lelang.

Volume beras yang dibagikan sebanyak tiga ton. Beras tersebut diperuntukkan bagi 120 perahu (pemilik dan anak buah kapal), masing-masing sebanyak 25 kilogram per perahu.  

 

Mulai melaut

Menurut dia, memasuki Februari ini, ombak di pinggiran Laut Jawa sudah mulai reda, dengan ketinggian sekitar setengah meter. Para nelayan kecil di Desa Munjungagung juga sudah mulai kembali melaut, dengan jarak tempuh sekitar 3 mill.

Hasil tangkapan juga lumayan banyak, lanjut Ranito. Dengan melaut selama setengah hari, satu perahu dengan tujuh anak buah kapal bisa mendapatkan lebih dari 2 kuintal teri Jawa.

Dengan harga teri Rp 6.500 per kilogram, dari satu perahu bisa diperoleh hasil lelang lebih dari Rp 1,3 juta. Biaya perbekalan yang dikeluarkan sekitar Rp 200.000 sekali melaut.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau