Akhirnya Suci dan Sri Pulang

Kompas.com - 04/02/2012, 09:57 WIB

Oleh Monalisa

Dua orangutan (induk dan anak) ditemukan saat sekelompok orang dengan parang dan tali bersiap menangkap keduanya. Si induk yang terlihat sudah begitu kelelahan, hanya memeluk erat anaknya, pasrah.

Kedua orangutan yang akhirnya dinamai Suci (induk) dan Sri (anak) itu berhasil diselamatkan 22 Januari 2012 lalu oleh Tim Rescue yang merupakan tim gabungan dari PT Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI), Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), dan Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam Kalimantan Timur (BKSDA Kaltim).

Nama Suci dan Sri diambil dari nama ahli primata terkemuka, Dr. Sri Suci Utami. Ini sebagai penghormatan kepadanya yang telah membantu tim dalam operasi ini.

Suci, yang diperkirakan berusia 25 tahun, ternyata tengah mengandung tiga bulan, padahal masih menyusui Sri, anaknya, yang umurnya sudah 6 tahun itu.

"Ada dugaan terjadi perkosaan terhadap Suci," kata Deputi Direktur Konservasi PT RHOI dan Ketua Tim Rescue, Dr. Aldrianto Priadjati.

"Sangkaan" ini muncul karena pada umumnya, orangutan betina mengasuh anaknya hingga berumur delapana tahun. Selama mengasuh anaknya, dia "menjauhi" orangutan jantan.

Namun karena terperangkap di hutan kecil, Suci tampaknya "diperkosa", kata Aldi. Kemungkinan ada orangutan lain yang berkeliaran di sekitar wilayah itu.

"(Karena) Kondisi Suci dan Sri tidak memungkinkan (maka) kami berlama-lama di sana untuk mencari orangutan yang lain," katanya.

Penyelamatan kedua orangutan itu berakhir diselimuti haru

Setelah hampir seminggu menyisir beberapa perkebunan sawit di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Tim Rescue memperoleh informasi bahwa sejak malam sebelumnya (21/1),  sekelompok orang tengah memburu dua orangutan di area PT Bakacak Himba Bahari (BHB).

Tim Rescue datang tepat waktu.  Ketika tiba di lokasi yang diinformasikan, sekelompok orang yang sudah bersiap menangkap mereka otomatis melepaskan parang dan tali, lalu membiarkan tim menyelamatkan dua orangutan itu.

Apa yang terjadi pada dua orangutan yang sudah kelelahan itu andai tim penyelamat datang terlambat beberapa menit saja.
 
Prilaku kedua orangutan yang pasrah ni bertentangan dengan kebiasaan rangutan liar umumnya yang tak mungkin begitu mudah didekati manusia.

"Hal ini menujukkan bahwa sang induk memang sudah kehabisan tenaga setelah dikejar-kejar semalam suntuk," sambung Aldi.

Sekelompok orang yang mengejar kedua orangutan itu, kata Aldi, kemungkinan bukan warga setempat.  Mereka terlihat senang ketika tim datang, bahkan membantu menyelamatkan orangutan.

"Namun ketika tim mengucapkan terimakasih dan beranjak pergi tanpa memberikan imbalan, raut muka mereka berubah," ujar Aldi.

"Pulang"

Dengan sigap, drh. Agus Irwanto  dari Program Reintroduksi Orangutan Kalimantan Timur Samboja Lestari , didampingi oHendro dan Muliyono dari Program Reintroduksi Orangutan Kalimantan Tengah Nyaru Menteng, mendekati kedua orangutan itu, lalu membiusnya.

Setelah kesehatannya diperiksa, mereka dipasangi 'chip' (penanda), sedangkan sang induk dipasangi 'radio transmitter' yang akan digunakan untuk pemantauan selanjutnya.

Kedua orangutan ini akan rutin dipantau dalam beberapa bulan ke depan untuk memastikan mereka berhasil menyesuaikan diri di "rumah" mereka yang baru.

Ya, Suci dan Sri akan dipulangkan ke hutan, rumah mereka.

Keduanya akan dilepasliarkan ke Hutan Kehje Sewen, yang adalah areal konsesi restorasi ekosistem yang hak pengelolaannya dimiliki PT RHOI.

Namun, perjalanan menuju Hutan Kehje Sewen bukan perkara mudah.

Dengan cuaca yang tak menentu, perjalanan tim menuju lokasi menemui banyak kendala, seperti jalan yang rusak parah dan licin serta becek, longsor, jembatan darurat, ditambah rangkaian suangai yang diseberangi dengan moda transportasi terbatas.

"Setibanya di lokasi Gunung Belah, tim memutuskan untuk membawa Suci dan Sri dengan cara ditandu, karena tidak mungkin membawa mereka di dalam kandang," jelas Aldi.

Akhirnya, Rabu pagi lalu (25/1), Suci dan Sri tiba di 'rumah' mereka.

Di dalam hutan, keduanya tersadar dari bius. Mereka bangun, langsung memanjat sebuah pohon.

"Di atas pohon, mereka terlihat riang dan bahagia. Mereka pun langsung berayun di antara dahan dengan senangnya," kata Aldi.

Dilindungi, tak terlindungi

Selain Suci dan Sri, di belantara hutan Kalimantan masih banyak orangutan yang harus berjuang untuk hidup.

Mereka diusir dari rumah mereka akibat kalah berebut lahan dengan manusia. Mereka diburu, bahkan dibunuh.

Populasi orangutan di Pulau Kalimantan (termasuk Malaysia) terancam punah. Berdasarkan data tahun 2004, jumlah spesies orangutan tinggal 65 ribuan.

Mereka terancam dua faktor, yakni motif ekonomi dan dianggap hama oleh perusahaan-perusahaan.

"Orangutan dilindungi, tetapi kondisinya tidak terlindungi," ujar Presiden Direktur RHOI, Jamartin.

Sementara Kepala Balai BKSDA Kalimantan Timur Tandya Tjahjana mengungkapkan, dari hari ke hari populasi orangutan menurun drastis dan berada di ambang kepunahan.

Dia menyebut menyelamatkan orangutan liar dari potensi konflik dengan manusia hanyalah upaya jangka pendek.

"Komitmen dan keterlibatan semua pihak, terutama pihak swasta yang usahanya bersinggungan dengan keberadaan orangutan, sangat diperlukan untuk memastikan tegaknya hukum dan lestarinya orangutan," sambung Tandya.

Menyelamatkan orangutan adalah juga menyelamatkan flora dan fauna lain di hutan. Orangutan membuat regenerasi hutan menjadi lebih cepat. Orangutan membuat dinamis kehidupan hutan.

"Orangutan merupakan umbrella species, makhluk yang hidup di atas pohon, yang mempengaruhi kehidupan di bawahnya," demikian Jamartin.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau