Nasheed Hendak Ditangkap

Kompas.com - 10/02/2012, 02:27 WIB

male, kamis - Presiden Maladewa terguling, Mohamed Nasheed, tertekan. Setelah diturunkan paksa dari jabatannya, dia pun hendak ditangkap aparat berwenang. Situasi di Male, ibu kota negara, hari Kamis (9/2), tegang. Ratusan warga bersiaga di rumah Nasheed untuk mendukungnya.

Pengadilan kriminal di Maladewa mengeluarkan perintah penahanan Nasheed dan mantan Menteri Pertahanan. ”Tidak dijelaskan apa tuduhan terhadap mereka,” ujar pejabat senior Partai Demokrat Maladewa (MDP).

Nasheed menjadi presiden lewat pemilu tahun 2008. Kesalahannya tidak jelas, tetapi polisi terus melakukan demonstrasi. Beberapa elite tentara di negara berpenduduk sekitar 300.000 jiwa dan terdiri dari 1.200 pulau kecil itu membelot.

Kantor berita Associated Press menuliskan, sebagai presiden, Nasheed dianggap kurang konservatif di negara yang mayoritas berpenduduk Muslim itu. Dugaan lain, dia juga dijatuhkan pemerintahan yang dia kalahkan dalam pemilu 2008.

Surat perintah penangkapan Nasheed dan seorang mantan Menteri Pertahanan telah terbit pada hari Kamis. ”Namun, kami tidak mengetahui persis apa tuduhan terhadap mereka,” jelas pejabat MDP, Adam Manik.

Tentara dan polisi dalam perjalanan menuju rumah Nasheed, yang tetap bertahan di kediamannya. ”Mereka kini di dalam perjalanan untuk menangkap Nasheed,” kata Wali Kota Addu Abdulla Sodig.

Menteri Dalam Negeri Maladewa telah memberi tahu Nasheed mengenai kemungkinan dirinya akan dijebloskan ke dalam tahanan. ”Saya berharap komunitas internasional akan memberi catatan tentang apa yang sebenarnya terjadi di Maladewa,” kata Nasheed.

Ratusan pendukung bersiaga di sekitar kediamannya dan dalam posisi siap menghalangi pasukan yang berusaha menangkap mantan presiden itu.

Sri Lanka mengonfirmasi

Laila Ali, istri Nasheed, dan putrinya sudah kabur ke Sri Lanka, Rabu (8/2), karena memburuknya keadaan di Male. ”Istri dan dua anaknya yang masih kecil telah tiba. Mereka sempat berbicara langsung dengan Presiden kami di sini pada Selasa petang,” kata Bandula Jayasekera, juru bicara Presiden Sri Lanka Mahinda Rajapakse.

Rajapakse, seperti dilaporkan The Times of India, juga telah menelepon Presiden Maladewa Mohammed Waheed Hassan.

Salah satu anggota keluarga mantan Presiden Maladewa itu, di Male, juga mengonfirmasi berita itu. ”Mereka telah berada di Sri Lanka. Di sana lebih aman dibandingkan di sini,” katanya seperti dirilis The Economic Times.

Sebelum keluarga Nasheed pergi, para pemrotes marah di empat pulau di kepulauan Maladewa. Mereka menyerang kantor polisi dan membakar sejumlah gedung pemerintah.

Kekacauan di Male, ibu kota Maladewa, meluas ke beberapa kota di negara kepulauan itu sejak Rabu malam. Abdullah Sodig menuturkan, satu kantor polisi di wilayahnya diserbu dan dua lagi dikepung oleh pendukung presiden terjungkal.

Situasi semakin tak menentu. Turis kelas atas dunia juga berhamburan. Tahun lalu saja, sekitar 850.000 turis dunia datang ke Maladewa. ”Satu kantor polisi diserbu sehingga bentrokan baru tidak terhindarkan. Polisi terpaksa meninggalkan gedung. Dua lagi kantor polisi dikepung pemrotes,” kata Sodig.

Di Pulau Addu, Maladewa selatan, negara yang menjadi tujuan turis kaya dunia itu, sekitar 300 tentara dan polisi bersenjata dikerahkan. Abdulla Sodig mengatakan, hukum dan ketertiban telah rusak.

Mohamed Shareef, politikus senior dari partai pimpinan Nasheed di Pulau Thinadhoo, mengatakan, lebih dari 1.000 orang telah menjarah satu kantor polisi. Para pendukung Nasheed ini membakar satu gedung pengadilan dan kantor dewan.

Massa merasa pemerintahan tak berfungsi. Warga tahu apa yang terjadi di Male. Mereka marah jika militer membunuh warganya.

Shareef mengatakan, ratusan warga yang marah telah berkumpul. Pada awalnya mereka berkumpul di pelabuhan laut Thinadhoo, di selatan Male, dan memaksa polisi menyerah.

Di Dhidhdhoo, pejabat lokal Yoosuf Siraf mengatakan, pada hari Kamis pagi sekitar 1.000 warga mengepung kantor polisi, yang menyerah secara damai. Penduduk juga telah mengokupasi satu kantor polisi di Ihavandhoo. Warga marah kepada polisi. (REUTERS/AP/AFP/CAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau