Ada Asap dan Bau Sangit, Sopir Tenang Saja...

Kompas.com - 11/02/2012, 11:03 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Susanti (34), seorang penumpang bus Karunia Bakti yang selamat dalam kecelakaan di Cisarua, Bogor, Jumat (10/2/2012) malam, mengaku melihat gelagat aneh dari sopir dan kernet bus yang ia tumpangi sebelum kecelakaan terjadi.

Susanti mengaku naik bus tersebut dari Cianjur dengan tujuan Terminal Kampung Rambutan, Jakarta, pada Jumat siang. Ia mengaku duduk di baris kedua belakang sopir. "Saya naik dari Cianjur, awalnya enggak ada apa-apa, biasa saja," ujar Susanti.

Tiba-tiba, saat bus melaju di kawasan Puncak, ia mencium bau kabel terbakar diikuti kepulan asap bersumber dari bagian mesin bus yang berada di samping sopir. "Tapi, saat sampai di Puncak, tercium bau sangit di bagian depan, seperti bau kabel korsleting," ucap Susanti dengan suara bergetar dan mengaku masih shock saat ditemui di lokasi kejadian.

Sejumlah penumpang sempat bertanya kepada sopir soal kejadian itu. Namun, baik sopir maupun kernetnya tampak santai menanggapinya. "Tapi, mereka santai saja, seperti enggak ada kejadian apa-apa," ungkapnya.

"Tak lama kemudian, dari bagian duduk kondektur (mesin) keluar asap tebal. Tapi, mereka santai saja, seperti enggak ada kejadian apa-apa. Saya sempat mau bertanya, ada apa keluar asap. Tapi saya enggak jadi," katanya.

Selepas kawasan titik Puncak, bus yang memuat sekitar 60 penumpang itu berhenti tepat di depan RS Paru, Cisarua, yang diperkirakan untuk pengecekan rutin penumpang dari PO Karunia Bakti.

Tak lama petugas melakukan pengecekan, si kernet ikut turun mengikuti petugas pengecekan penumpang tersebut.

Susanti merasa ada yang aneh kala si sopir juga ikut beranjak dari kursinya.

"Tapi, setelah petugas Karunia itu keluar, si kondektur ikut keluar. Saya kira dia (kondektur) mau buka bagasi karena ada penumpang yang turun dan ambil barang. Tapi, kok si sopir juga ikut keluar juga. Tapi, kelihatannya dari raut wajah si sopir dan kondektur itu enggak terlihat panik atau apa. Saya sempat heran, kenapa sopir ikut keluar. Kan biasanya pemeriksaan sebentar, sopir enggak ikut keluar," kata Susanti mengungkapkan keheranannya soal kejadian saat itu.

Setelah bus berhenti sekitar 10 menit dan ketiga orang itu berbincang, sopir dan kernetnya kembali ke kursinya masing-masing. "Katanya mereka sedang memperbaiki sesuatu. Tapi, saya enggak tahu apa yang diperbaiki," ujarnya.

Sopir langsung mengangkat tuas rem tangan dan bus melaju perlahan. Namun, beberapa detik kemudian, sopir tersebut tancap gas dengan kecepatan tinggi dan tak terkendali.

Karena Susanti dan sejumlah penumpang lainnya memperkirakan rem bus telah blong, mereka saling berpegangan ke kursi masing-masing dan berteriak takbir.

"Pas dia (sopir) menarik rem tangan, dia langsung (melaju) dengan kencang, meluncur begitu saja. Saya enggak tahu berapa lama, tapi di situ dah kami pada teriak Allahu akbar," ungkapnya.

Tak lama kemudian, bus Karunia Bakti itu menabrak delapan mobil lainnya dan tiga sepeda motor dan terhenti saat menghantam warung bakso di depan Pasar Cisarua Atas, atau sekitar 1 kilometer dari lokasi pengecekan penumpang. (Tribunnews/Abdul Qodir)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau