Tak ada dalam bap

Ke Mana Raibnya Percakapan Angie-Rosa?

Kompas.com - 16/02/2012, 10:14 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Selama lebih kurang empat jam, Angelina Sondakh memberikan kesaksian dalam persidangan kasus dugaan suap wisma atlet Sea Games, dengan terdakwa kolega separtainya, M Nazaruddin, Rabu (15/2/2012), di Pengadilan Tipikor, Jakarta Selatan. Bantahan demi bantahan disampaikan wanita yang biasa disapa Angie itu. Terutama, terkait percakapannya dengan Mindo Rosalina Manullang melalui BalckBerry Messanger (BBM).

Masih terkait percakapan BBM Angie dengan Rosa, kuasa hukum Nazaruddin, Hotman Paris Hutapea mempertanyakan percakapan BBM Angie-Rosa yang tidak ada dalam berita acara pemeriksaan (BAP) Angie. Namun, percakapan itu ada dalam BAP Rosa.

Dalam percakapan yang hilang di BAP Angie itu, kata Hotman, Angelina menggunakan BB dengan PIN berbeda, yakni 21CCF231. Menurut Hotman, BB dengan PIN 21CCF231 itu merupakan BlackBerry khusus yang diberikan Rosa kepada Angelina.

"Apa penyidik tidak tanya soal pin BB Saudara yang lain, 21CCF231? Karena di BAP Rosa, dia (Rosa) sampaikan ada PIN BB yang 21CCF231? Karena di BAP saudara (Angelina) tidak ada? Kenapa ini tidak ada di BAP?" tanya Hotman.

Angelina kemudian menjawab, "Maaf, saya tidak paham, pertanyaannya berbelit-belit," katanya.

Padahal, lanjut Hotman, percakapan Angie-Rosa dengan menggunakan PIN BB 21CCF231 itu cukup panjang, hampir setebal 20 halaman. Hotman pun curiga kalau penyidik KPK tidak mengkonfirmasikan percakapan BB dengan PIN 21CCF231 ini ke Angie saat Puteri Indonesia 2001 itu diperiksa penyidik.

"Apa penyidik KPK saat memeriksa Saudara (Angelina) tidak menanyakan pin BB itu?" ucap Hotman.

Advokat senior itu lantas meminta hal ini menjadi catatan majelis hakim. "Banyak percakapan antara Rosa dan saksi, tapi tidak dicatat di BAP, ini jadi catatan keempat yang mulia," kata Hotman.

Tak hanya itu, dia juga meminta pengadilan menghadirkan pihak produsen BlackBerry, yakni, Research in Motion untuk membuktikan kalau benar Angelina lah pemilik BB dengan nomer PIN 21CCF231 itu.

Seusai persidangan, kuasa hukum Nazaruddin lainnya, Rufinus Hutauruk mengatakan, percakapan BBM Rosa dengan Angelina yang menggunakan PIN 21CCF231 itu menjelaskan banyak hal, termasuk aliran dana proyek wisma atlet SEA Games.

"Itu semua menggambarkan ada informasi yang sangat material tapi tidak dielaborasi oleh penyidik," katanya.

Sementara, jaksa KPK, Anang Supriatna mengatakan, BB yang menjadi alat bukti KPK hanya BB dengan PIN 20F34209. Dia mengaku tidak tahu keberadaan BB dengan PIN 21CCF231 itu.

"Enggak tahu, itu enggak ada, mungkin pada saat tangkap tangan, BB itu masih ada atau enggak. Yang ditangkap itu yang ada jadi barang bukti, itulah," katanya.

Anang juga mengatakan, BB itu tidak jadi bukti satu-satunya. Meski pun Angie mengingkari keterangan Rosa, KPK memiliki rekaman pembicaraan Angie dengan Rosa melalui BBM. Jaksa Kadek Wiradana mengatakan, sejak diperiksa penyidik KPK, Angie memang membantah percakapan BBM antara dirinya dengan Rosa itu.

"Memang dari penyidikan, sudah nolak tentang ada-nya BBM. Kita sebenarnya mau lihat, apa di pengadilan pengakuannya berubah. Ternyata tidak," ucap Kadek.

Dalam kasus dugaan suap wisma atlet SEA Games ini, Angie juga telah ditetapkan menjadi tersangka. Dia diduga menerima pemberian atau janji terkait proyek wisma atlet senilai Rp 191 miliar itu.

Mantan Wakil Direktur Keuangan Permai Grup, Yulianis saat bersaksi mengungkapkan, Permai Grup menggelontorkan Rp 2 miliar dan Rp 3 miliar ke Angelina dan I Wayan Koster sebagai biaya menggiring proyek. 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau