Jejak Bencana di Borobudur

Kompas.com - 18/02/2012, 04:13 WIB

Sekitar 198 tahun lalu, Perwakilan Serikat Dagang Inggris di Hindia Timur, Letnan Gubernur-Jenderal Sir Stamford Raffles mendapat kabar ditemukannya monumen kuno yang sangat besar di Desa Bumisegoro, dekat Magelang. Namun, Raffles yang sedang melakukan kunjungan kerja ke Semarang, Jawa Tengah, pada 1814 itu tidak bisa mengunjungi Candi Borobudur.

Ia kemudian mengirim anak buahnya, seorang insinyur Belanda bernama Cornelius, untuk melihat Candi Borobudur. Raffles, yang sangat tertarik dengan kebudayaan dan sejarah Jawa, menginginkan informasi lebih detail mengenai temuan baru itu. Cornelius dikirim karena dia berpengalaman menelusuri benda-benda antik di Pulau Jawa. Atas bantuan insinyur Belanda itu, Raffles mengumpulkan data sejarah dalam perjalanannya ke sejumlah kota di Jawa saat Inggris menguasai Nusantara tahun 1811-1816.

Cornelius tiba di Bumisegoro dan mendapati Candi Borobudur dalam keadaan rusak. Sebagian bangunan tertimbun dan semak belukar menyelimuti karya besar peradaban Buddha abad ke-9 itu. Sekitar 200 warga desa dikerahkan untuk memotong pepohonan, membakar semak belukar, dan menggali tanah yang mengubur kaki candi.

Pembersihan baru selesai dalam dua bulan. Sebagian kaki candi tidak bisa digali karena bangunan rawan roboh. Selama pembersihan Candi Borobudur, Cornelius menyusun laporan untuk Raffles disertai sketsa bangunan kuno itu.

Dalam Chandi Borobudur: A Monument of Mankind, 1976, Sukmono menyebutkan bahwa penemuan Candi Borobudur tidak dibahas secara detail oleh Raffles dalam dua buku mengenai Jawa. Pekerjaan membersihkan candi oleh ratusan pekerja selama dua bulan juga tidak dibahas lengkap. Dalam karya besarnya, History of Java (1817), hanya ada beberapa kalimat yang menyinggung Borobudur.

Kondisi Candi Borobudur setelah disingkap oleh Cornelius bisa dilihat dalam foto-foto lama di Studio Sejarah Restorasi Candi Borobudur di kompleks Taman Candi Borobudur, Magelang. Candi yang memiliki enam tingkat teras berbentuk persegi dan tiga tingkat berbentuk melingkar itu berada dalam keadaan rusak parah sebelum direnovasi selama empat tahun, 1907-1911. Lantai teras melengkung bergelombang akibat gempa, batu-batu penyusun stupa berjatuhan dan berserakan di lantai teras.

Di tingkat Arupadhatu, lantai 8, 9, dan 10, kerusakan sangat parah. Stupa utama yang merupakan puncak Borobudur menyisakan rongga menganga karena batu-batu penyusunnya berjatuhan. Stupa di sekeliling stupa utama juga runtuh sebagian. Jejak kerusakan candi yang tersusun dari 55.000 meter kubik batu vulkanis itu diyakini oleh sejumlah ahli kebumian sebagai akibat gempa bumi. Hanya kekuatan tektonik dalam skala besar yang mampu melipat teras bangunan candi dengan perhitungan konstruksi detail itu.

Selain membuat lantai candi bergelombang, gempa menyebabkan batuan penyusun candi berantakan. Padahal, batu-batu penyusun itu sudah diperkuat dengan kuncian, seperti tipe ekor burung, takikan, tipe alur dan lidah, serta tipe purus dan lubang.

Borobudur yang dibangun di sebuah bukit yang menjorok ke danau purba itu ditinggalkan kemudian terselimuti debu vulkanis dan material lahar dari gunung api yang mengelilinginya: Merapi, Sindoro, dan Sumbing. Material vulkanis itu menjadi media tumbuhnya semak belukar yang membelit bangunan kuno sehingga hilang ditelan waktu.

Lahar gunung api yang mengalir antara lain melalui Sungai Progo, Tangsi, dan Pabelan mengendap di danau yang menjadi muaranya. Jejak lapisan lahar itu ditemukan dalam penelitian Helmy Murwanto, geolog pada Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Yogyakarta. Lahar berselang-seling dengan endapan lempung hitam yang kaya bahan organik dari tumbuhan air.

Lempung hitam endapan danau purba itu juga mengandung fragmen batu apung hasil letusan gunung api. Endapan danau purba itu tersingkap jelas di Sungai Sileng di dekat Candi Borobudur.

”Endapan lahar dan fragmen batu apung dalam lempung hitam ini menunjukkan danau purba Borobudur sudah diganggu oleh aktivitas vulkanis,” ujar Helmy.

Borobudur berdiri di atas sebuah bukit yang membentuk tanjung di danau purba sehingga tidak terkubur. Borobudur rusak akibat proses tektonik yang melepaskan energi melalui sesar-sesar yang membentuk alur sungai Tangsi, Progo, dan Sileng. Sesar-sesar itu sebagian sudah ada sebelum Candi Borobudur dibangun sekitar tahun 800 Masehi, pada masa kejayaan Dinasti Syailendra, tahun 750-850 Masehi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau