Prof louhenapessy

Mengembalikan Citra Sagu

Kompas.com - 22/02/2012, 02:23 WIB

A Ponco Anggoro

Seakan tak kenal lelah, Prof Julius Elseos Louhenapessy berupaya mengembalikan citra pangan lokal sagu. Berbagai penelitian dibuatnya, begitu pula sejumlah buku. Ditambah kontribusinya dalam berbagai seminar dan kebijakan pemerintah untuk pemanfaatan dan pengembangan sagu.

Saya bermimpi nantinya sagu tak lagi dipinggirkan, tetapi mengambil peranan besar guna menunjang ketahanan pangan nasional,” kata Louhenapessy mengemukakan alasan di balik totalitasnya itu.

Totalitas itu pula yang menjadi dasar pria yang mengajar di Fakultas Pertanian, Universitas Pattimura, Ambon, Maluku, itu memperoleh penghargaan Adikarya Pangan Nusantara dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada akhir tahun lalu. Ia dinilai telah memperjuangkan pelestarian, pengembangan, dan pengembalian citra pangan agar bermanfaat.

Perjuangan ini dimulainya 25 tahun lalu. Pada 1987 ia tertarik dengan sagu setelah terlibat dalam kegiatan inventarisasi sagu di Pulau Seram dan Halmahera—keduanya di Provinsi Maluku—bersama tim Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi dan Institut Pertanian Bogor. Inventarisasi bertujuan menyusun kelayakan pembangunan pabrik pengolahan sagu di Seram.

”Inventarisasi itu membuka mata saya akan manfaat dan melimpahnya sagu di Tanah Air. Sayang potensi itu tak dimanfaatkan. Sagu yang sebelum tahun 1960 menjadi pangan pokok di sejumlah wilayah justru tergantikan beras,” katanya.

Revolusi hijau di Indonesia yang menitikberatkan pada pengembangan padi sejak 1966, ditambah pemberian beras untuk rakyat miskin hingga ke desa-desa yang semula menjadikan sagu sebagai pangan pokok, membuat sagu kian tergeser oleh beras.

Ketertarikan sekaligus keprihatinan sagu itulah yang membuat Louhenapessy tahun 1987 mulai meneliti sagu. Penelitian pertamanya di Merauke, Papua. Saat itu, ia menjadi konsultan sejumlah proyek di lokasi transmigrasi yang didanai Bank Dunia.

”Tugas konsultan memberikan masukan dan mengawasi proyek infrastruktur serta perluasan lahan pertanian di Merauke. Tetapi, karena di Merauke juga banyak sagu, saya habiskan sebagian waktu menelitinya,” ujarnya.

Satu tahun penelitiannya menghasilkan buku Tanah-tanah Sagu di Merauke yang mengulas jenis-jenis tanah tempat sagu tumbuh. Setelah itu, ia juga meneliti sagu di sejumlah tempat lain, seperti Gusalaut di Maluku Tengah, Kao di Maluku Utara, dan Arandai di Bintuni, Papua.

Hasil penelitian itu mengantarkan dia mendapat gelar doktor pada 1994 di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dengan disertasi Evaluasi dan Kesesuaian Lahan bagi Sagu.

Kebun sagu

Dia juga membuat kebun koleksi sagu di Kampus Universitas Pattimura tahun 1996. Di tanah seluas 1,5 hektar, ia menanam delapan jenis sagu yang tumbuh di Maluku. Di sini ada lima jenis utama, yaitu sagu tuni, ihur, makanaru, duri rotan, dan molat, serta tiga jenis sagu hasil persilangan, yaitu molat berduri, molat merah, dan molat merah berduri.

”Kebun sagu ini dibuat agar mahasiswa, terutama mahasiswa pertanian, mengenal lebih jauh sagu,” katanya. Kebun itu pun menjadi rujukan peneliti luar negeri tentang sagu. Saat konflik sosial tahun 1999, mayoritas kebun terbakar. Pada tahun 2010 kebun dibuka dengan tanaman sagu baru.

Dibantu pengajar lain di Fakultas Pertanian, Universitas Pattimura, ia merehabilitasi hutan sagu menjadi kebun sagu di kawasan Tawiri, Ambon, dan akan dilakukan pula di Tulehu, Maluku Tengah. ”Rehabilitasi bisa meningkatkan produksi sagu 1,5 kali lipat,” ujarnya.

Dengan rehabilitasi, jumlah tanaman sagu di setiap rumpun dibatasi 6-7. Jarak antar-rumpun diatur 7-10 meter. Tanpa pengaturan ini, sagu yang tumbuh di setiap rumpun bisa mencapai ratusan dan membuat produksi sagu induk terhambat karena berebut makanan dengan sagu muda yang baru tumbuh.

Perhatiannya pada sagu membuat Louhenapessy sering menjadi narasumber pada berbagai pertemuan ilmiah di sejumlah tempat. Tahun 2011 ia diminta menyusun materi muatan lokal tentang sagu untuk siswa SD, SMP, dan SMA.

Ia ikut merumuskan sejumlah kebijakan pemerintah terkait sagu, termasuk saat Pemerintah Provinsi Maluku menyusun Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2011 tentang Pengelolaan dan Pelestarian Sagu.

Sebelah mata

Meski demikian, semua itu belum cukup karena impiannya belum terwujud. Keberadaan sagu masih dipandang sebelah mata. ”Potensi pati kering dari tanaman sagu di areal seluas 1,4 juta hektar di Indonesia mencapai 6 juta ton per tahun. Tapi yang dimanfaatkan baru sekitar 10 persen, sisanya dibiarkan mati.”

Sebagai gambaran, jika 5,4 juta ton pati kering dimanfaatkan, bisa mencukupi kebutuhan seluruh penduduk Indonesia (237.556.336 orang berdasarkan sensus penduduk tahun 2010) selama dua bulan. Asumsinya, tiap keluarga yang terdiri atas lima orang membutuhkan 40 kilogram pati kering setiap bulan.

Ini berarti bisa menghemat beras selama dua bulan atau 5,3 juta ton (mengacu pada konsumsi beras di Indonesia sebanyak 135 kilogram beras per orang per tahun).

Pati dari sagu pun bisa diolah menjadi berbagai macam makanan hingga obat-obatan, juga komoditas ekspor. ”Kebutuhan pati secara internasional mencapai 50 juta ton per tahun. Angka itu meningkat tujuh persen setiap tahun,” ungkapnya.

”Untuk itu, perlu kebijakan berani dan kreatif dari pemerintah, terutama pemerintah daerah yang di wilayahnya banyak sagu. Ini bisa menangkap peluang pasar, juga mengembalikan pola konsumsi masyarakat kembali pada sagu,” lanjutnya.

Penerbang militer

Selulus SMA tahun 1961, ia bercita-cita menjadi penerbang militer. Namun, ia tak mendapat izin ayahnya, Simon Wilhelmus Louhenapessy. Ayahnya memasukkan dia ke fakultas kedokteran di Makassar.

Tak suka dengan pilihan itu, ia kembali ke Ambon. Sekitar enam bulan ia menjadi buruh pelabuhan. ”Saat sedang bekerja itu, ayah melihat saya. Dia meminta maaf dan menyerahkan sepenuhnya keputusan masa depan saya sendiri. Saya memilih kuliah di Fakultas Pertanian, Universitas Pattimura,” ujarnya.

Kepercayaan sang ayah ia bayar dengan totalitasnya mendalami pertanian, khususnya sagu. Sampai usianya kini, totalitas yang dia janjikan itu tak berubah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau