Pinterest Siapkan Kode "Jangan Ditusuk"

Kompas.com - 22/02/2012, 15:15 WIB

KOMPAS.com - Pinterest, layanan yang mulai mencuri perhatian, menyiapkan sebuah kode khusus "jangan di-pin" bagi situs yang ketakutan.

Situs social bookmarking yang merupakan start-up digital peraih gelar Best New Startup TechCrunch 2011 itu memang sedang terganjal masalah hak cipta.

Sebagian kalangan fotografer online menganggap kegiatan di Pinterest rentan melanggar hak cipta. Ini karena pengguna mudah sekali melakukan pin dan re-pin pada gambar mereka. Kadang, aktivitas itu membuat hak cipta sebuah foto menjadi tidak jelas.

Di sisi lain, Pinterest harusnya bisa jadi peranti yang baik bagi fotografer untuk menyebarluaskan karyanya. Bukannya ketakutan karyanya akan dibajak.

Konsep Pinterest

Pinterest merupakan jejaring sosial yang mengusung konsep sharing papan virtual. Bayangkan sebuah papan gabus yang biasa ditempel di dinding kamar.

Layanan ini memungkinkan pengguna mengoleksi apa pun yang ia sukai dari website mana pun, untuk dibagikan kepada orang lain.

Kumpulan gambar, foto yang biasanya disertai link website itu disebut Board. Setiap gambar yang ditempel disebut pin, dari kata pinning yang berarti "menusukkan sesuatu dengan jarum".

Kemudahan Pinterest yang menyediakan sistem bookmarklet dan integrasi sosial media menjadi daya tarik layanan ini.

Antisipasi dari Pinterest

Untuk mereka yang tidak mau karyanya ditempel oleh pengguna Pinterest, dan berpotensi dilihat banyak orang, Pinterest menyediakan kode khusus.

Kode ini bisa ditambahkan pada situs yang enggan berbagi itu sehingga, saat pengguna Pinterest mencoba melakukan pinning, akan muncul tulisan berikut:

"This site doesn't allow pinning to Pinterest. Please contact the owner with any questions. Thanks for visiting"

(Situs ini tidak mengizinkan melakukan Pinning ke Pinterest. Silakan hubungi pemilik website untuk pertanyaan lebih lanjut. Terima kasih sudah berkunjung.)

Tak dijamin

Di satu sisi, kode ini bisa membantu fotografer "Anti-Pinterest" untuk tetap menjaga hak cipta hasil karya mereka di website.

Di sisi lain, tidak ada yang bisa menjamin apabila pengguna mengunduh konten itu dan malah mengunggahnya di Pinterest.

Jika hal itu yang terjadi, justru pemilik karya cipta foto itu yang makin dirugikan. Dengan pinning, setidaknya Pinterest bisa jadi ajang promosi. Kalau diunduh dan diunggah ulang, hak ciptanya makin kabur.

"Kami memahami bahwa kadang pemilik situs tidak ingin konten mereka di-pin," jelas Ben Silbermann, pendiri Pinterest.

Menurut Silbermann, pihaknya menghormati pemegang hak cipta dan berusaha mengikuti prosedur DMCA. Silbermann berjanji akan bertindak cepat ketika menerima klaim pelanggaran hak cipta.

Pinterest menegaskan bahwa jejaring sosial yang baru tumbuh ini tidak memfasilitasi orang untuk melakukan pembajakan konten.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau