Selat sunda

Pengembangan KSISS untuk Pertumbuhan Ekonomi

Kompas.com - 05/03/2012, 20:40 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Fenomena kemacetan dan antrean kendaraan yang berkilo-kilometer untuk bisa melintasi Selat Sunda tak akan terjadi lagi jika pembangunan jembatan Selat Sunda dapat segera direalisasikan dan dioperasikan.

Bahkan, pembangunan jembatan itu akan memicu dan memacu pertumbuhan ekonomi serta percepatan pembangunan di kawasan sekitar Selat Sunda, terutama Provinsi Banten dan Jawa bagian selatan serta Provinsi Lampung dan kawasan Sumatera.

Sebab, sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 86 Tahun 2011, kawasan Selat Sunda akan menjadi kesatuan Kawasan Strategis dan Infrastruktur Selat Sunda (KSISS), bukan sekadar pembangunan jembatan.

Menurut Wakil Presiden Direktur Artha Graha Network Wisnu Tjandra dan Direktur PT Graha Banten Lampung Sejahtera (GBLS) Agung R Prabowo, di Jakarta, Senin (5/3/2012), jembatan Selat Sunda sepanjang 29 kilometer hanya menjadi bagian dari pengembangan KSISS.

”Jembatan Selat Sunda hanya bagian dari pengembangan kawasan strategis. KSISS adalah bundled investment dan bukan proyek pembangunan jembatan,” kata Wisnu.

Menurut Wisnu, gagasan pembangunan sarana penghubung di Selat Sunda sudah dilontarkan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1960-an. Tahun 1986 Presiden Soeharto pun pernah menugaskan Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) BJ Habibie mengkaji gagasan proyek hubungan langsung Bali-Jawa-Sumatera (Trinusa Bimasakti).

Namun, baru tahun 2004 Prof Dr Wiratman Wangsadinata, ahli beton yang ditugaskan Kepala BPPT, sepakat dengan Artha Graha Network untuk bersama-sama merealisasikan rencana pembangunan jembatan Selat Sunda. Tahun 2007 Pemerintah Provinsi Banten dan Lampung serta Artha Graha Network membentuk PT Bangungraha Sejahtera Mulia yang kemudian berkembang menjadi PT GBLS.

Namun, lanjut Wisnu, dengan menjadi kawasan strategis dan pengembangan, bukan berarti proyek KSISS akan ditangani Artha Graha Network. Pemerintah sudah membentuk dewan pengarah yang dipimpin Menteri Koordinator Perekonomian dan badan pelaksana yang dipimpin Menteri Pekerjaan Umum.

Namun, struktur badan pelaksana untuk melaksanakan kegiatan persiapan pembangunan KSISS sampai saat ini belum terbentuk. PT GBLS menjadi pemrakarsa proyek saja. ”Pelaksana proyeknya, ya tergantung pemenang tender,” katanya lagi.

Agung menambahkan, kawasan Selat Sunda perlu dikembangkan menjadi kawasan strategis karena biaya pembangunan jembatan Selat Sunda sebesar Rp 100 triliun tak mungkin dikembalikan kalau hanya mengandalkan pendapatan dari biaya tol melewati jembatan.

”Sampai 60 tahun, hanya 30 persen biaya yang bisa dikembalikan. Karena itu harus ditopang dengan pengembangan kawasan,” jelasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau