Nuklir iran

Obama Beri Jaminan pada Israel

Kompas.com - 06/03/2012, 02:13 WIB

Kairo, Kompas - Presiden AS Barack Obama memberi lampu hijau untuk segara dilancarkan serangan militer ke Iran terkait program nuklir. Obama mengatakan itu, Minggu (4/3), saat berbicara di depan Komite Urusan Publik Israel Amerika (AIPAC) di Washington.

Namun, Obama mengatakan terlalu dini berbicara soal perang saat ini karena hanya menguntungkan rezim Iran melalui kenaikan harga minyak. Ini justru bisa digunakan untuk membiayai program nuklir mereka.

Obama bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih, Senin, di Washington DC. Mereka mendiskusikan isu nuklir Iran. Presiden AS itu menegaskan masih ada peluang diplomasi disertai tekanan tertentu.

Namun, ditegaskan, AS dan Israel meyakini bersama bahwa Iran belum memiliki senjata nuklir. Akan tetapi, kedua negara tersebut siaga penuh dan terus memantau program nuklir Iran.

Menurut Obama, adalah keharusan untuk menghadapi isu program nuklir Iran dengan opsi diplomasi. Akan tetapi, semua opsi tetap terbuka, termasuk penggunaan kekuatan militer.

Obama menegaskan, kebijakan AS terhadap Iran bukan sekadar menyangga, tetapi benar-benar untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir. AS tidak akan ragu menggunakan kekuatan militer bila diperlukan untuk melindungi kepentingan AS.

Obama mencoba menenangkan Israel dan lobi Yahudi di AS. Dia menyatakan, Iran yang memiliki senjata nuklir mengancam keamanan nasional AS dan Israel, serta memperkuat antek- antek Iran yang sering melancarkan serangan terorisme.

PM Benjamin Netanyahu memuji pidato Obama.

Otoritas Iran sendiri selama ini selalu menegaskan bahwa program nuklir hanya untuk tujuan damai, bukan memproduksi senjata nuklir.

Dalam beberapa pekan ini, spekulasi Israel akan melancarkan serangan ke Iran semakin kuat.

Atmosfer politik di Israel juga cenderung mendukung opsi militer. Kekuatan politik yang mendukung opsi militer itu adalah PM Benjamin Netanyahu, Menteri Pertahanan Ehud Barak, serta para politisi dari partai kanan Likud.

Kekuatan politik yang lebih mengutamakan opsi diplomasi adalah Presiden Shimon Peres dan para politisi partai kiri Buruh serta sejumlah politik partai Kadima.

Akan tetapi, sejumlah pejabat militer dan intelijen AS memperingatkan risiko serangan militer terhadap Iran.

Tak penuhi harapan

Harian Alquds al Arabi, Senin (5/3), mengatakan, pidato Obama di AIPAC sesungguhnya kurang memenuhi harapan Israel. Obama belum bersedia melancarkan perang sesuai keinginan Israel.

Obama memang menyatakan bahwa nuklir Iran mengancam kepentingan AS dan Israel. Namun, Obama masih meyakini opsi diplomasi adalah cara terbaik.

Israel dan para sahabat di Washington kurang menyukai opsi diplomasi dan tekanan ekonomi. Ini hanya akan menunda serangan militer serta memberi kesempatan Iran memproduksi senjata nuklir.

Obama jelas tidak menginginkan perang saat ini. Kondisi perekonomian AS dan Barat masih terpuruk. Juga ada tekad AS yang tidak ingin terjerumus dalam perang besar lagi. (mth)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau